Di keindahan gelapnya malam hari yang sunyi itu, seorang gadis yang kerap dipanggil Yamanaka Ino tengah duduk nemeluk kakinya sendiri dengan tenang di atas genting rumahnya. Matanya yang teduh menatap dengan sorot mata kesedihan kerlap kerlip bintang yang bertaburan di atas gelapnya cakrawala. Kesunyian yang hadir dalam hidupnya saat itu membuatnya sangat rileks. Hanya ditemani suara erangan hewan malam dan hembusan angin yang tak henti hentinya menjahili rambut indahnya yang tergerai. Ia tidak masalah soal itu.
'Ne, Otou-san, bagaimana keadaanmu disana? Aku sangat merindukanmu... Kenapa kau tega sekali secepat ini meninggalkan ku dan Okaa-san? Tidakkah kau rindu juga dengan suara cerewet anakmu ini? Aku saja yang biasanya tidak suka saat tou-san berbicara berlebihan sekarang benar benar merindukan itu. Aku ingin tou-san datang mengucapkan okaeri lagi seperti dulu. Aku ingin mendengar suara tawa tou-san seperti dulu. Aku... Aku ingin, ingin sekali membahagiakan Otou-san walaupun sekali saja. Maaf, Aku bahkan belum mengatakan terima kasih padamu. Otou-san...'
Cukup pilu seandainya saja Ino mengucapkannya secara lisan. Namun, ia tidak ingin membagi perasaannya pada alam melainkan hanya pada Kami-sama.
Perlahan ia merasakan pipinya terbelai halus oleh air matanya sendiri. Ino tahu bahwa saat ini dirinya sedang melanggar janjinya dengan kedua rekan setimnya, Chouji dan Shikamaru. Padahal 2 tahun yang lalu ia sudah berjanji untuk tidak menangisi lagi. Tapi perasaannya seolah menolak jauh jauh soal itu, mau bagaimana pun ia sangat merindukan sesosok ayah dalam hidupnya. Ia menyesal pernah bersikap salah padanya, bahkan ia belum mengucapkan kata terima kasih ataupun maaf pada ayahnya untuk yang terakhir kalinya. Ini terlalu cepat baginya... Kenapa?
Tak pernah menyangka ia akan kehilangan 1 anggota keluarganya secepat ini, apalagi itu adalah ayahnya sendiri. Dan kemarin, dirinya hampir kehilangan nyawa orang yang lagi lagi ia cintai. Uchiha Sasuke. Bukankah ini terlalu berlebihan bagi kesehatan mentalnya? Sudah pantas jika Ino akan mengalami syok berat akibat kejadian itu. Namun, Yamanaka Ino yang berusaha tegar dan kuat membuat dirinya bisa menahan segala gejolak dalam hatinya.
Ino mengusap matanya kasar, kemudian hembusan nafas lelah ia suguhkan kepada alam. Agar rasa pahit dalam hatinya setidaknya bisa lenyap sedikit demi sedikit. Walaupun itu mustahil.
Matanya kembali menerawang jauh langit gelap diatasnya. Perlahan hembusan angin dingin menerjang tubuhnya tanpa ampun, membuat tubuh kecilnya bergidik tidak suka. Tak lepas dari itu, ia bahkan sempat bersin sebentar akibat ulahnya. Bajunya yang hanya berbalut cardigan tipis membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Sebelum sebuah jubah hitam kini ikut menyelimuti tubuh kecilnya.
Ia menoleh, menatap wajah datar Sasuke yang sudah berdiri di sebelahnya. Mata hitamnya masih menatap langit didepannya dalam diam, seolah ia sedang membuang muka.
"S-Sasuke-kun?"
Sang pemilik nama masih bungkam, ia ikut mendudukkan dirinya tepat di samping gadis berambut pirang. Baju dan celananya yang berwarna hitam kelam disertai rambutnya yang mencuat kebelakang itu menambah kesan sempurna di bawah sinar rembulan kala itu.
"Apa yang kau lakukan disini? Kau tidak tidur?" Berusaha mencegah suasana canggung, Ino akhirnya melontarkan isi pikirannya.
"Jawabanku sama sepertimu"
Cukup singkat, namun membuat sang Yamanaka sedikit berpikir untuk itu.
Kemudian keheningan kembali datang menemani keduanya. Membisu adalah teman akrab mereka akhir akhir ini. Tidak adakah yang ingin mencairkan suasana?
Sudah pasti Yamanaka lah yang akan mencairkan suasana saat itu. Siapa lagi?
"Aku akan mengganti jubahmu yang sudah sobek besok. Maaf ya"
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐀 𝐂𝐡𝐨𝐨𝐬𝐞 「ᴄᴏᴍᴘʟᴇᴛᴇ 」
Teen Fiction"Tunggu, apa? kenapa harus aku yang menjalankan misi ini Naruto?" "Kau lah satu satunya ninja yang memiliki jurus telepati, Ino. Kau carilah informasi sebanyak-banyaknya dengan kemampuan mu itu" "ya, aku tau tapi kenapa harus bersama UCHIHA SASUKE...
