Like Mr. & Mrs. Smith.
Warn 17+!
•°•
Baru saja Doyoung bangkit berdiri dengan niat pergi ke kamar mandi, ketika tiba-tiba sebuah peluru melesat masuk dengan kecepatan tinggiㅡ
Prang!
Memecahkan kaca jendela kamar,
Brak!
Lalu timah panasㅡyang datang entah dari mana ituㅡberakhir menghantam salah satu sisi dinding.
Doyoung menatap Sejeong, Sejeong balas menatap Doyoung. Mereka hanya sempat berpandangan selama tiga detikㅡbahkan salah satu di antara mereka tidak sempat bersuaraㅡtetapi peluru lain datang dalam jumlah banyak.
Menerobos hingga menghancurkan kaca jendela.
Sejeong segera menyambar gaun tidurnya, memakainya dengan gerakan terburu. Tidak peduli meski pakaian itu dalam kondisi terbalik karena yang penting tubuh polosnya tertutupi. Doyoung sendiri berlari ke arah lemari tempat senjatanya disimpan tapi tidak ada satu pun senjata di sana.
Hanya ada beberapa pakaian dalam miliknya dan Sejeong.
"Sial." Doyoung mengumpat, dia baru ingat kalau kemarin semua senjatanya sengaja dipindahkan ke ruang baca.
Pats!
Tubuh Doyoung terdorong ke belakang. "Kamu mau mati tertembak hah?!" tanya Sejeong, sedikit berteriak agar suaranya tidak kalah dengan suara desingan peluru yang berulang kali menghantam dinding. "Awasi sekitarmu, Kim."
"Terimakasih."
"Bukan saatnya untuk berteriㅡ"
"Aku tahu, pergilah lebih dulu. Aku menyimpan senjata di ruang baca, kode sandinya 182408." titah Doyoung, pria itu membongkar lemari lainnya dan beruntung mendapatkan Glock 20. Ia buru-buru mengisi amunisinya.
"Apa amunisinya cukup?" tanya Sejeong yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Doyoung. "Tentu saja tidak cukup makanya aku menyuruhmu pergi lebih dulu."
"Aku mengerti." selanjutnya Sejeong berusaha keluar dari kamar menuju ruang baca. Wanita itu bergerak gesit dan lincah saat menghindari peluru, tapi di depan pintu kamar yang terbuka lebar Sejeong berhenti.
"Kim!" Doyoung menoleh karena merasa terpanggil, lalu sedikit terkejut saat sebuah kaus dilemparkan hingga menghantam wajahnya. "Pakai bajumu."
Dalam hati Doyoung menyebut kata terimakasih untuk Sejeong, saking paniknya ia sampai tidak sadar kalau hanya celana boxer pendek yang menutupi tubuhnya.
Setelah memakai kausnya Doyoung merendahkan dirinya, jongkok dan bersembunyi di balik kasur. Kepalanya sedikit mengintip untuk melihat keluar jendela dimana belasan sniper berjajar rapi.
Sial. Rumahnya benar-benar dikepung.
Lalu tangannya mulai menarik pelatuk Glock 20 di tangannya, berusaha melawan tapi tetap dia kalah jumlah. Peluru itu terus ditembakkan dari luar dan kalau Doyoung tetap diam di sini itu sama saja dengan bunuh diri.
"Aku tunggu di mobil, Kim!" teriak Doyoung, ia bangkit dan berlari keluar kamar. Tangan kanannya terus menembak ke sembarang arah sedang tangan kirinya menyambar dua pasang rompi anti peluru. "Waktu kita tidak banyak, cepatlah!"
Setelah mendengar sahutan Sejeong yang menyuruhnya pergi lebih dulu Doyoung segera bergerak cepat, memacu kedua kakinya ke arah garasi mobil.
"Shit!" kata umpatan kembali terlontar dari mulut Doyoung ketika pintu utama rumahnya kini sudah didobrak, matanya melotot melihat belasan orang--dengan pakaian serba hitam dan bersenjata lengkap--mulai menyerobot masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
If they
FanfictionKalo Sejeong dan Doyoung......... Sebuah bank book kisah Doyoung-Sejeong, mirip permen nano nano.
