69. Alasan

158K 19.8K 5.9K
                                        

Budayakan vote sebelum membaca, biar nanti ngga lupa karena keasyikan baca <3

Jangan lupa follow Instagram :

@tamarabiliskii

@galaarsenio
@serinakalila
@alan.aileen
@ilhamgumilar1
@akbar_azzaidan

Gala menatap Riri intens. Sementara yang ditatap malah menunduk dengan tangan yang tidak berhenti memilin ujung bajunya sendiri.

Entah kenapa rasa takut mulai menghampiri Riri. Sejak Gala menjemputnya di depan minimarket tadi, Gala hanya menampakkan wajah datar dan dinginnya. Dalam perjalanan ke apartemen pun Gala hanya diam.

Tiga puluh menit yang lalu mereka berdua tiba di apartemen. Gala tetap mendiami Riri. Ia hanya berbicara sekali, itupun hanya untuk menyuruh Riri membersihkan badan dan berganti pakaian. Setelahnya Gala cuek. Sampai satu kata terlontar lagi dari mulut Gala.

"Cerita!"

Satu kata yang membuat Riri kebingungan. Bingung harus menjawab apa. Memulai cerita dari bagian mana. Dan bagaimana cara menjelaskannya di saat Gala terlihat menyeramkan seperti sekarang.

"Ri, telinga lo ngga ketinggalan, 'kan?" sakras Gala karena Riri tak kunjung menyahuti perkataannya.

"Coba tatap gue."

Tangan Gala terulur menyentuh dagu Riri lalu mengangkatnya. Perlahan Riri memberanikan diri untuk menatap manik mata hitam itu. Mata tajam itu. Ya, mata yang selalu bisa membuat Riri merasakan aman meski kadang menyeramkan. Seperti sekarang contohnya. Gala benar-benar terlihat tidak seperti biasanya.

"Lo takut sama gue?" tanya Gala saat menyadari perubahan ekpresi Riri yang menatapnya seperti orang ketakutan.

"Ri...ri...ta...tadi..."

"Ngomong yang bener!" potong Gala cepat. Cowok dengan kaos polos berwarna hitam itu berdecak. Melepaskan dagu Riri yang sejak tadi ia pegang kemudian menggeser duduknya untuk mengikis jarak di antara mereka.

Gala memajukan wajahnya hingga wajah keduanya hanya berjarak sejengkal tangan bayi. Bahkan jika Gala bergerak sedikit saja. Hidung mereka pasti akan bersentuhan.

"Lo takut sama gue?"

Riri menggeleng pelan. Sedikit hati-hati agar gerakannya itu tidak menjadi boomerang bagi dirinya sendiri.

"Eng...engga..." kata Riri terbata.

"Ck! Lo ngapain sih takut sama gue." Gala memundurkan tubuhnya dan bersandar pada sandaran sofa. "Gue ngga marah sama lo, ngga usah takut. Gue udah ganteng, seksi gini lo malah takut."

Sekarang Riri bisa bernapas lega. Ia menolehkan kepalanya ke arah Gala. "Tapi Gala serem. Dari tadi diem aja. Matanya juga melotot-melotot," cicit Riri.

Gala mengangkat kedua tangannya untuk ia jadikan bantal di belakang kepala. "Gue itu panik, khawatir sama lo. Lagian lo ngapain pake naik angkot sendiri. Ujung-ujungnya nyasar. Kemana tuyul-tuyul lo itu?"

Dahi Riri mengernyit bingung. "Tuyul-tuyul apa sih! Riri ngga punya tuyul, ih!"

"Dewa sama Danis, tuh dua bocah kembar kan titisan tuyul. Kemana mereka? Ngga dijemput lo?"

Mendengar dua nama yang Gala sebut. Riri kembali menundukkan kepala. Lagi-lagi tangannya memilin ujung baju karena takut. "Tadi mereka jemput, kok. Tapi Riri ngga mau pulang sama mereka."

"Kenapa lo ngga mau?"

"Riri kan kangen Gala. Riri mau ketemu Gala. Gala tadi ngga bales chat Riri. Riri takut Gala marah sama Riri."

MY CHILDISH GIRL [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang