Karena tidak semua orang akan tinggal dihidup kita selamanya.
***
Dari arah berlawanan sebuah mobil truk memacu kecepatannya di atas rata-rata.
Zahra yang melihatnya sontak mengalihkan pandangan ke arah seseorang laki-laki yang tengah mengejar tawanannya.
Saat mobil itu benar-benar sudah sangat dekat dengan jarak keduanya, perasaan Zahra kalang kabut. Ingin menolong tapi dirinya berjarak sangat jauh. Yang Zahra bisa sekarang agar mereka selamat adalah berteriak.
"ARENDRA!!!"
"ANGGARA! AWAS!!!" pekik Zahra seraya menutup mulutnya tak percaya. Anggara berhenti sejenak dan menolehkan pandangannya ke arah Zahra yang berteriak memanggilnya. Mata Anggara sontak beralih pada sebuah truk yang tengah melaju kencang ke arah Arendra yang tak fokus ke arah depan.
Segera Anggara mempercepat larinya dan mendorong tubuh Arendra ke pinggir jalan raya.
"Arendra!" teriak Anggara sebelum dia tertabrak dan terpental sangat jauh.
"Akhh..."
Brak.
Mata Zahra terpejam sejenak. Perlahan waktu seperti berhenti berjalan. Zahra membeku di tempat ketika melihat tubuh Anggara yang sudah terbujur kaku penuh dengan simbah darah dan tergeletak di tengah jalan. Setelah melihat Anggara tertabrak, truk itu sontak segera melaju dengan kecepatan tinggi untuk melarikan diri.
Polisi segera mengejar truk yang melarikan diri itu dengan menggunakan mobil patrolinya.
"Anggara?" gumam Arendra berusaha bangkit dari jatuhnya, menatap tak percaya dengan menahan kesakitan di salah satu kakinya akibat tembakan polisi dan dorongan kencang Anggara.
"Tangkap Arendra!" teriak Rega kepada sebagian polisi yang masih tersisa dan segera mereka mengepung Arendra.
"Saya nggak bakal kabur," ujar Arendra menyerah karena telah dikepung oleh para polisi yang siap menembaknya.
"Segera borgol dia!" titah salah satu polisi masih dengan mengarahkan pistolnya.
"Seb-elum saya dipenjara, a-pa saya b-oleh, melihat ke-adaan adik saya?" tanya Arendra pelan, Polisi itu mengangguk dan membawa paksa Arendra ke arah Anggara.
"Anggara..." suara Zahra seketika tercekat, perlahan air matanya menetes deras, seiring dengan datangnya mobil Ambulance dengan langkah lemahnya Zahra berlari mendekati Anggara.
Zahra terduduk sembari mengangkat kepala Anggara ke pangkuannya. "Anggara..." panggilnya lirih. Sembari mengusap wajah Anggara yang sudah bercucuran darah.
Zahra kembali menepuk-nepuk pelan pipi Anggara untuk menyadarkannya. "Anggara... Anggara! Ka-mu nggak papa 'kan?"
Satu bulir air mata lolos begitu saja dipelupuk matanya ketika melihat keadaan adik tirinya yang mengorbankan nyawa dirinya sendiri untuknya.
"Ga-ra buka mata ka-mu, Gara!" histeris Zahra.
"Angga..." panggil Arendra yang membuat Zahra mendongakan kepalanya ke arah Arendra.
"INI SEMUA GARA-GARA LO ARENDRA!!! PERGI LO DARI SINI!" teriak Zahra dengan air mata yang sudah tak bisa dibendung.
"PERGI!!!"
"Zah--"
"PERGI!!! GUE MUAK LIAT MUKA SOK POLOS LO! LO ITU PSIKOPAT!!!"
"LO ITU PEMBUNUH! LO YANG NGEBUAT ANGGARA JADI KAYAK GINI!"

KAMU SEDANG MEMBACA
ANGGARA
Teen Fiction[FOLLOW DULU SEBELUM MEMBACA] [Humor/Sad Romance] Bermulut pedas, seperti monster, berkuasa, dan suka marah-marah. Siapa sih yang tidak mengenal seorang pemuda dengan pemilik nama lengkap Malik Anggara Devario. Bahkan seantero sekolah pun tau bagaim...