4. Kekejaman Anggara

745 173 215
                                    

Jangan tunjukkan kelemahanmu dihadapan orang yang membencimu!

***

"Anjay sih! Itu bullyan terparah kalo menurut gue mah," celetuk Rega tiba-tiba setelah menyaksikan kejadian di kantin karena bullyan yang dilakukan oleh sahabatnya yang terkenal kejam itu, Anggara.

Rega melirik sejenak ke arah Anggara yang tengah menahan amarahnya. "Gila-gila, pasti sedih banget bebeb Zahra," ujar Rega melanjutkan aksinya.

Farhan memberi kode pada Rega untuk menutup mulutnya, karena melihat sorot mata Anggara yang berubah tajam ketika Rega membahas tentang bullyannya tadi di kantin.

Rega berdecak pada Farhan yang memberi tatapan seolah kode untuk dirinya menghentikan sindirannya. "Ngapa lo? Emang lo nggak kasian apa sama bebeb Zahra. Gue sejujurnya sedih tadi, mau nolong---"

Anggara yang sudah tak kuasa menahan emosi sejak tadi akhirnya menggebrak meja dihadapannya. Anggara langsung menarik kerah seragam Rega dan memukul rahang Rega keras.

Bugh.

"Anjing lo!" umpat Anggara setelah memukul rahang Rega keras. Untung saja mereka sedang berada di rooftop sekolah, jadi hanya mereka bertiga lah yang tahu tentang ini.

"Gue tau lo suka sama dia! Tapi nggak gini juga bangsat!" cercah Anggara dengan penuh amarah karena merasa terpojokkan dari tadi.

Rega yang emosinya juga sedang tidak stabil pun hampir melayangkan bogeman mentahnya, namun ditahan oleh Farhan. Rega tersadar, untung saja emosinya bisa terkendali. Kalau tidak? Bisa terjadi adu jotos nanti!

"Gini gimana maksudnya? Apa lo merasa terpancing emosi gara-gara omongan gue barusan?" tanya Rega dengan raut wajah menantang.

"Orang yang gue bully tadi juga nggak marah! Dia biasa aja Dan dia malah ketawa. Kenapa lo yang hanya nonton malah nyolot hah!" balas Anggara berapi-api.

Rega tersenyum miring dan menarik satu alisnya. "Seandainya, Ibu lo tadi yang ada diposisi seperti Zahra, gimana perasaannya, man?" tanya Rega sambil menepuk pelan bahu Anggara.

Anggara mengepalkan tangannya kuat sekarang, Ia sangat sensitif bila menyangkut tentang Ibunya. Rahangnya kembali mengeras dan kuku-kuku jari di tangannya sudah memutih. "Dipermaluin di depan banyak orang, tapi dia malah pura-pura biasa aja. Bahkan dia malah milih ketawa. Lo pikir! seberapa sakitnya jadi dia?"

Rega menarik napasnya sejenak lalu melanjutkan kata-katanya. "Gue tau, sebenernya dia juga mau nangis tadi. Tapi, dia nggak mau keliatan lemah dihadapan orang kayak lo!" tunjuk Rega sambil tersenyum miring, "Yang Kejam dan nggak berperasaan." ucap Rega menekankan kata-katanya.

Anggara meneguk ludahnya kasar sambil menatap Rega dengan sorot yang tajam. Senyuman bahkan tawa gadis itu setelah dipermalukan tadi teringat jelas di otaknya. Sebenarnya sedari tadi ada rasa kasihan memenuhi relung hati Anggara. Entah perasaan apa itu, tapi egonya lagi-lagi mengalahkan dirinya.

Bugh.

"Gue nggak peduli! Lagian, Lo kenal gue juga udah dari kecil Ga! Seharusnya lo tau, bullyan tadi nggak ada apa-apanya dibanding bullyan gue biasanya!" Rega yang terkena bogeman Anggara lagi, hanya bisa tersenyum miring.

Anggara berdecih, "Ternyata gue baru sadar, kalo lo itu--" Anggara menolehkan padangannya sebentar, "Munafik!" sinis Anggara pada Rega, kemudian meludahkan salivanya ke samping dirinya dan beranjak pergi.

"Gue tau itu pasti rencana lo kan?" ujar Farhan pada Rega sambil terkekeh pelan setelah melihat kepergian Anggara. "Dan, itu bonusnya!" tunjuk Farhan pada bekas bogeman keras yang membuat sudut bibir Rega sobek dan mengeluarkan sedikit darah.

ANGGARA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang