3

24K 2.6K 45
                                        

"Sial! Ini sakit sekali."

Leo terus meringis saat ia sedang mengoleskan obat di atas luka gigitan dilehernya. Semalam setelah Arthur meninggalkannya begitu saja, ia pingsan tak sadarkan diri.

Leo diam memperhatikan tubuhnya dibalik cermin. Kini ia tersadar jika luka yang diberikan Arthur tidak hanya dilehernya saja. Tapi dibeberapa tempat terdapat luka memar yang samar. Apalagi dipergelangan tangannya memerah samar dan juga lecet.

Leo tersadar, seberapa kuat Arthur hingga bisa membuatnya seperti ini? Bahkan semalam Leo tak mampu memberikan perlawanan yang berarti. Sekali lagi Leo lihat pantulan tubuhnya di cermin itu, kemudian ia tertegun.

'akan ada luka apa lagi setelah ini?'

Leo sungguh takut. Ia berada didalam situasi yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Kau sudah bangun."

Leo tersentak saat tiba tiba Arthur datang dan menegurnya.
Leo sama sekali tak menjawab sapaan Arthur, ia hanya menyelesaikan berpakaian tanpa menoleh sedikit pun kepada Arthur.

Pria itu melangkah mendekat lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Leo yang sedang duduk di kursi rias.

Dari samping bisa Arthur lihat bahwa Leo sudah menunjukan ketidak nyamanan nya. Namun Arthur mana peduli soal itu.

Arthur malah dengan sengaja mendekatkan kepalanya diperpotongan leher Leo lalu tangan kanan nya melingkar menyentuh dagu Leo menjadikan mereka kini tengah bersitatap menyelami manik masing masing.

"Ingat, jika kau berani memberontak aku bisa berbuat lebih buruk lagi daripada ini."

Arthur menyentuh luka gigitan itu dengan sesekali menekannya. Membuat leo memejamkan matanya lalu meringis kesakitan.

Sungguh, kentara sekali jika Leo sedang ketakutan saat ini. Ia tak berani menatap Arthur dan juga seluruh tubuhnya bergetar. Ia bahkan mempertanyakan jiwa laki lakinya. Sungguh memalukan.

"Tampaknya kau sudah siap. Ayo turun dan sarapan."

Arthur segera membuat jarak untuk mereka berdua lalu ia melangkah menuju keluar kamar. Leo sebenarnya enggan untuk sarapan, nafsu makannya seolah lenyap begitu saja. Namun ia tak ingin menambah luka di tubuhnya. Leo memilih jalan yang aman saat ini.

Leo keluar dari kamar dan mengikuti Arthur yang sedang menuruni anak tangga. Dengan hati hati leo melangkah dengan perlahan sambil memperhatikan interior rumah yang begitu indah. Lalu ketika mereka sampai di lantai satu, sejenak Leo tertegun dengan tatanan rumah yang elegan dan juga nyaman.

Leo melihat Arthur yang sedang menyiapkan beberapa menu di meja makan. Leo pun menghampirinya dan setelah melihat apa yang sudah tersedia di meja makan, entah dari mana nafsu makan Leo kembali lagi.

Leo duduk bersebrangan dengan Arthur setelah pria itu mempersilahkannya duduk. Leo tak bisa menolak makanan, maka saat ia lihat Arthur mulai melahap sarapannya ia pun melakukan hal yang sama.

Leo mengambil sepiring pancake lalu menyiramnya dengan sirup madu dan kemudian menyantapnya.

Tak ada percakapan sama sekali saat itu, hanya ada dentingan sendok dan juga alat makan lainnya. Lagi pula, Leo terlalu menikmati menu sarapannya. Ia tak peduli dengan orang dihadapannya itu yang sebenarnya sudah selesai dan memperhatikannya.

"Persiapkanlah dirimu Leo. 3 hari lagi kau dan aku akan menggelar upacara pernikahan."

"Uhuuk.. uhukk!.. A-apa?!"

Leo sungguh terkejut. Ia pikir pernikahan itu tak pernah ada mengingat sifat Arthur yang jauh sekali dengan hal seperti itu. 3 hari itu adalah waktu yang singkat. Leo bahkan baru menginjakan kaki nya dirumah ini semalam. Pria itu sungguh seenaknya!

INSANE [Man×Boy]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang