"Aku benci dia.. benci.. benci!"
Leo saat ini sedang memaki dan terus memaki. Bersumpah serapah kepada Arthur yang untuk sekian kalinya menyakiti dirinya.
Leo sekali lagi harus merasakan sakit di sekitar tubuhnya. Apalagi bagian holenya. Untung saja Matheo segera sigap mengobati Leo. Dan sekali lagi hal itu membuat Leo malu setengah mati.
"Aku benci sekali majikanmu itu. Kenapa dia jahat sekali?"
Leo menatap nyalang kearah Matheo yang setia mendampinginya sedari tadi. Pelayan itu hanya menatap datar ketika Leo terus memaki Arthur.
"Tuan Arthur tak bermaksud demikian."
Leo melotot! Sungguh, pelayannya itu membela Arthur?!
"Kau! Tak bermaksud bagaimana?! Dia memperkosaku dua kali. Dua kali!"
Leo sungguh tak habis pikir. Tidak pelayan tidak majikan semuanya sama-sama gila. Walau pada akhirnya Matheo masih dalam kadar baik hati karena sudah rela mengobatinya tanpa rasa risih ataupun jijik.
Pintu terbuka menampakan Arthur yang kini mulai berjalan santai. Pria itu nampaknya baru selesai mandi, terbukti dari rambutnya yang masih basah.
"Keluar."
Satu kata itu yang pertama kali Leo dengar. Segera ia singkap selimut yang sangat nyaman itu, lalu beranjak walau ada rasa mengganjal di bawahnya. Ya, hole nya terasa aneh.
"Mau kemana kau Leo?"
Leo terheran. Apa Arthur mempermainkannya? Tadi dia berkata keluar, tentu saja Leo akan beranjak keluar.
"Tentu saja aku akan keluar, kau menyuruhku keluar tadi."
Arthur hanya diam dengan wajah datarnya. Menghela nafas lalu kembali berucap.
"Dasar bodoh... Keluar kau Matheo."
"Baik, Tuan."
Matheo mengangguk dan patuh. Sejenak menatap Leo dengan senyuman jahilnya. Barulah, Leo tersadar jika Arthur menyuruh Matheo untuk keluar ruangan ini. Bukan dirinya.
Segera ia duduk dan menarik selimut untuk menutupi rasa malunya. Berusaha menyembunyikan kepalanya ketika Arthur kini berjalan mendekat.
Bisa Leo rasakan sisi ranjang yang menurun, pertanda ada beban yang sedang duduk di sana.
"Maafkan aku."
Leo tertegun. Suara itu begitu dalam dan juga lirih. Ia singkap selimut yang menutupi dirinya itu, lalu menatap Arthur tak percaya.
Bisa ia rasakan sapuan tangan besar yang hangat dipipinya. Mengusap pipi yang kini sedikit memar atas tamparan tadi siang.
Leo menatap Arthur dengan seksama. Begitu berbeda sekali dengan Arthur yang tadi siang. Jika ketika di taman ia melihat Arthur yang penuh dengan kabut nafsu dan amarah, kini hanya ada kesenduan di dalam manik hitam yang kelam itu. Sesaat membuat Leo melihat adanya banyak sekali beban yang dipikul oleh pria dihadapannya ini.
"Hari ini banyak sekali masalah yang datang padaku. Lalu ketika melihatmu tertawa dengan tampang bodoh diatas rerumputan itu membuatku marah, kau belum pulih sepenuhnya. Tapi kau sudah berkeliaran keluar."
Leo hanya melongo ketika mendengar penuturan Arthur. Sedikit tersinggung ketika Arthur menyebutnya bodoh.
"Tapi aku sudah baik-baik saja... Sampai kau memperkosaku lagi."
Kalimat terakhir terucap dengan pelan. Takut jika Arthur kembali lagi meledak.
"Memperkosa?"
Leo hanya menunduk seraya memejamkan matanya. Takut jika Arthur marah dan akan kehilangan kendalinya lagi. Ia tidak menjawab pertanyaan Arthur. Leo malah semakin memegang erat selimut sebagai penyalur rasa takutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
INSANE [Man×Boy]
Romance[SUDAH TAMAT] Dunia memang sudah gila. Maka saat jalan hidup Leo sudah ditentukan oleh kedua orang tuanya pun ia tak marah. Tak pula sedih ketika ia harus mengorbankan masa mudanya demi uang. Hidup nya sepenuhnya dilepas oleh orang tuanya, menjadika...
![INSANE [Man×Boy]](https://img.wattpad.com/cover/248017431-64-k493264.jpg)