Tay memacu mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Rahangnya mengeras, ia marah sekaligus cemas melihat mobil di depannya melaju dengan kencang seperti tak tahu arah.
"Gun.. Apa yang kau lakukan? Kau ingin mati?!"
Tay membunyikan klakson nya beberapa kali, memberi sinyal agar Gun menghentikan mobilnya. Sepertinya Gun sengaja memilih rute jalan yang sepi agar dia bisa berkendara ugal-ugalan seperti ini. Tay semakin menginjak gas mobilnya dalam, berusaha untuk menyusul Gun didepan sana. Saat momennya pas, Tay menyalip dan berhenti di depan mobil Gun. Melihat mobil Tay yang berhenti mendadak di depannya, membuat Gun mau tidak mau menghentikan laju mobilnya.
Tay keluar mobil, mengedor kaca mobil Gun dengan tak sabaran.
"Gun, buka pintunya!"
"Atthaphan!" Teriak Tay mulai emosi
Kepala Tay pening, apa yang harus ia lakukan agar Gun mau keluar mobilnya. Dia tidak bisa meninggalkan Gun dalam keadaan seperti ini. Dia tidak mau mengambil resiko dengan membiarkan Gun sendiri yang mungkin saja akan melakukan hal-hal bodoh. Kepala Tay bertambah pening saat melihat tangis Gun semakin pecah, namun bersikeras tak mau membuka pintu mobilnya.
"Gun buka atau aku hancurkan saja kaca sialan ini?"
Gun ketakutan, ini pertama kalinya dia melihat Tay semarah ini. Jangankan membuka pintu, melihat wajah Tay saja Gun tidak berani. Ia malah makin menangis merasa tertekan dengan sikap Tay sekarang.
Tay menyadari raut wajah ketakutan Gun, dia menarik rambutnya kasar, apa yang dia lakukan, bukannya menenangkan Gun dia malah terbawa emosi dan menakuti Gun seperti ini. Tay memejamkan matanya sejenak berusaha untuk mengontrol diri dan membuat dirinya tenang.
"Gun.. maafkan P' naa karena sudah membentakmu." Ucap Tay mulai melembut
"Gun, buka pintunya. Aku tahu kau tidak ingin sendirian.."
"Gun.. P' akan menunggumu disini sampai kau mau membuka pintunya. Bahkan sampai besok pagi pun P' tak masalah."
Selang beberapa lama, Gun sudah berhenti menangis. Hening. Sudah hampir dua jam Tay berdiri dan bersandar didepan mobil Gun, dengan sabar menunggu Gun keluar. Menurutnya ini lebih baik ketimbang harus membiarkan Gun sendirian. Dia serius, dia tidak masalah jika harus berdiri diluar mobil Gun semalaman. Tay melamun melihat kearah langit malam, pikirannya berkelana entah kemana. Dia tersentak saat mendengar suara pintu mobil Gun terbuka, dia membalikkan badannya dan melihat Gun berjalan menuju kearahnya.
Kini Gun di hadapannya, menatap Tay dengan matanya yang sembab. Gun tidak bicara apapun, tapi Tay tahu banyak sekali yang ingin Gun ceritakan. Tay mengusap pipi Gun lembut lalu segera menarik Gun kedalam pelukannya.
"Maafkan aku sudah membuatmu takut. Maaf."
Gun mengangguk kecil.
"Tak apa, aku disini." Ucap Tay berusaha menenangkan
Sementara Off saat ini sedang berada di condo Arm. Ia memilih untuk tidak pulang dan berniat untuk menginap di condo Arm saja. Sejak kedatangan Off, Arm sama sekali tidak bertanya apapun. Apalagi melihat keadaan Off yang kacau ditambah berita skandal tentang Off yang tersebar beberapa jam lalu, membuat Arm enggan untuk bertanya duluan. Dia takut salah bicara. Sedari tadi Arm hanya memainkan ponselnya dan sesekali melirik ke arah Off yang masih betah menutup wajahnya dengan bantal sofa miliknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ending Scene [FINISH]
RomanceGun Atthaphan, 27 tahun, seorang aktor ternama asal Thailand. Jatuh cinta pada rekan kerjanya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Jika ia berhenti akankah semua menjadi lebih baik? Tidak. Bukan itu pertanyaan nya, tapi.. bisakah ia berhenti? J...
![Ending Scene [FINISH]](https://img.wattpad.com/cover/247569661-64-k155742.jpg)