Tiga puluh

21 6 0
                                    

Happy reading!

"Udah pernah cemburu liat orang yang bukan pacar kita deket sama orang lain belum? Kalau belum, cobain deh rasanya. Ah mantap."

°°°

Bel pulang sekolah berbunyi beberapa menit yang lalu. Dehan dan Karen kini telah berdiri di depan pintu kelas Haura. Menunggu princes mereka untuk pulang bareng.

Ah, sudah lama mereka tidak pulang bareng seperti ini. Semakin hari semakin banyak masalah yang justru membuat mereka semakin menjaga jarak.

Tapi untungnya, semesta tidak berlama-lama membiarkan ketiga anak muda itu untuk berjarak.

"Malam, Ra!" ucap Karen saat Haura muncul di ambang pintu.

"Mata lo masih berfungsi kan?" tanya Dehan pada sohib di sebelahnya.

"Alhamdulillah gue masih diberi kesempatan untuk melihat alam semesta yang indah ini," ucap Karen sok bijak sambil tersenyum bangga.

"Kalau masih berfungsi, bisa bedain antara siang dan malam nggak sih lo?" tanya Dehan dengan sedikit emosi.

"Ya ampun, galak bener." Karen beringsut ke sebelah Haura. "Dehan sekarang lebih sering sensian Ra," bisik Dehan di telinga Haura.

"Apa lo bisik-bisik? Gue masih bisa denger!"

"Tuh 'kan, sensian Mulu."

Hingga akhirnya pertentangan di antara mereka terhenti saat Haura angkat suara.

"Jadi pulang bareng nggak sih?" tanya Haura kesal.

"Iya jadi, tuh Karen ngajak gelud mulu," ucap Dehan.

"Gue lagi yang salah," ujar Karen lalu pergi gitu aja menuju parkiran.

"Temen lo, Han?" tanya Haura dengan nada bercanda.

"Bukan!"

Saat Dehan dan Haura mau melangkah, Arsya datang menghampiri dari dalam kelas, karena memang Arsya dan Haura satu kelas.

"Lo pulang sama siapa, Ra?" tanya Arsya saat telah berdiri di samping Haura.

"Sama gue," sambar Dehan.

"Oh ya udah, hati-hati ya. Gue duluan." Arsya pun meninggalkan mereka berdua sebelum Haura sempat membuka suaranya.

"Buruan, Ra!" Suara Dehan membuyarkan lamunan Haura, membuat cewek itu mau tak mau menyusul Dehan.

***

"Ra?" panggil Karen saat mereka sudah berada di mobil. Tujuan mereka kali ini kedai es krim langganan Haura.

Ternyata, Dehan benar-benar menempati janjinya untuk mentraktir Haura. Sudah lama Dehan tidak mentraktir cewek itu.

"Apa?" Haura yang berada di kursi tengah membalas dengan malas.

"Udah pernah cemburu liat orang yang bukan pacar kita deket sama orang lain belum?"

"Kalau belum, cobain deh rasanya. Ah mantap," lanjut Karen dengan gaya bak artis tiktok. Tujuannya adalah untuk menyindir orang yang ada di sampingnya.

Haura mengerutkan keningnya seolah tidak mengerti dengan maksud Keren, sedangkan Dehan melototkan matanya ke arah Karen.

"Orang stres nggak usah didengerin,Ra," ucap Dehan.

Karen hanya menanggapi dengan tertawa terbahak-bahak. Memang, selera humor Karen benar-benar receh.

Hingga akhirnya mereka sampai di kedai es krim. Mereka bertiga pun turun dari mobil.
Suara di kedai cukup ramai karna sekarang adalah jam pulang sekolah sekaligus jam makan siang.

"Han, lo yang traktir 'kan ya?" tanya Karen.

"Dih apaan, gue cuma traktirin Haura!" sela Dehan.

"Pelit amat lo, Han," gerutu Karen. "Gue doain deh, semoga dia cepat peka."

Plak

Karen meringis saat bahunya ditabok Dehan. Lalu mengelus-elus Bahu bekas tabokan tersebut.

"Sekali lagi lo ngomong, gue pites lo!" ancam Dehan.

Haura hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua bodyguard nya ini.
"Sehari aja nggak berantem bisa nggak sih?"

***

"Assalamualaikum, Oma!" ucap Dehan dan Karen serentak saat memasuki rumah Haura.

Mereka bertiga menghampiri wanita tua yang tengah duduk sembari menonton televisi itu.

"Wa'alaikumsalam, eh udah pulang cucu Oma." Wanita tua itu menyambut uluran tangan mereka bertiga. Ah, tradisi yang tidak akan pernah terlupakan, yaitu bersalaman dengan orang yang lebih tua sebagai bentuk rasa hormat.

Mereka bertiga ikut duduk di dekat Oma.
"Oma, masa tadi Dehan pelit. Nggak mau traktirin aku es krim," adu Karen layaknya anak kecil.

"Kayak anak kecil lo ngadu soal begituan," ucap Dehan sebal.

Oma hanya tertawa menanggapi tingkah cucu-cucunya ini. Seperti biasa, mereka bercerita tentang kejadian-kejadian yang terjadi di sekolah. Tak jarang mereka tertawa terbahak-bahak karena mendengar cerita Karen yang mungkin hiperbola sekali.

"Eh udah pulang, ya." Suara seseorang yang muncul dari dapur membuat percakapan di antara mereka terhenti.

Semua pasang mata pun menatap ke arah sumber suara. Betapa terkejutnya Haura saat melihat Brian—kakaknya tengah berdiri di sana. Seketika raut wajah Haura berubah drastis.

"Eh Ian, sini duduk. Hauranya udah pulang nih," ucap Oma sambil menepuk kursi di sampingnya.

"Haura ke kamar dulu ya, Oma."

"Haura!" tegur Omanya seakan memberi isyarat untuk Haura tetap duduk di sana.

Dehan dan Karen yang tadinya sangat heboh mendadak terdiam. Kali ini, mereka paham bagaimana situasi di sini.

Brian pun mendekat dan duduk di samping Oma. Matanya menatap dalam mata sang adik di depannya.

"Ra?" panggil Brian. Haura hanya acuh tanpa membalas tatapan kakaknya.

"Kakak bener-bener minta maaf dengan apa yang terjadi tadi malam," ucap Brian dengan rasa bersalah.

"Kakak nggak tau kalau itu bakal terjadi," lanjutnya.

Haura hanya menghela nafasnya dalam. Lalu memberanikan diri untuk menatap mata sang kakak.

"Kalau bisa bertindak, kakak pasti bakal cegah papa. Tapi nggak bisa, Ra.

Kakak nggak punya kekuatan untuk ngelawan." Suara Brian melemah. Kini, tangan Oma mulai mengelus-elus bahu kekar cucunya.

"Bukan salah kakak kok," ucap Haura dengan helaan nafas.

"Aku udah biasa diginiin kak."

°°°

Yeay, double up di tengah-tengah PTS
Estetik nggak tuh wk

Vote yok vote!
Buat yang belum follow, mangga difollow dulu akun akunya hehe:)

See you next chapter ya

Salam hangat,
Fuji

HAURA (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang