Enam belas

53 7 1
                                    


Happy reading!

Dikhawatirkan oleh orang yang begitu berharga ternyata menyenangkan.

-Fuji Rahayu Ningtia-

♡♡♡

Malam hari, Haura sedang asik membaca novel romansa kesukaannya di kamar. Tadi, setelah selesai makan malam bersama oma. Haura langsung pamit ke kamar untuk istirahat.

Suasana di kamar Haura begitu hening. Angin malam masuk melalui jendela yang pintunya masih terbuka lebar, dinginnya seakan menusuk tulang. Tapi Haura tak berniat sedikit pun untuk beranjak menutup jendelanya. Haura telah tenggelam dalam bacaannya.

Saat sedang hanyut dengan alur cerita yang tengah ia baca. Tiba-tiba ponsel Haura berbunyi. Dengan malas Haura mengambil ponselnya yang tergeletak di atas nakas.

Nama Dehan tertera di ponselnya, mau tak mau Haura harus mengangkat telepon.

"Ha--"

"Lo udah sampai rumah 'kan? Kok nggak ngabarin gue? Pesan gue juga nggak lo balas. Lo nggak diapa-apain 'kan sama dia?" Belum sempat Haura menyapa, Dehan telah menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan.

Haura menghembuskan nafasnya. "Gue udah sampai rumah dengan selamat."

"Terus kenapa pesan gue nggak dibales?"

"Lah, emang lo chat gue?" Haura malah balik bertanya.

"Kebiasaan 'kan lo!"

Haura pun segera mengecek pesan masuk. Sepersekian detik kemudian barulah Haura menepuk keningnya. Ternyata tadi ponselnya sedang dalam mode silent.

"Ya maap, tadi handphone gue mode silent."

Dehan menghembuskan nafasnya kasar. "Lain kali handphone-nya jangan di-silent! Kalau lo sempet kenapa-kenapa tadi gimana? Dihubungi malah nggak bisa."

"Tapi 'kan gue udah selamat sampai rumah," ucap Haura kesal.

Dehan selalu saja berlebihan, padahal 'kan Haura baik-baik saja.

"Iya-iya."

"Besok gue jemput," lanjut Dehan diseberang sana.

"Tiap hari juga lo jemput gue."

Dehan terkekeh. "Siapa tau lo lupa, terus nanti malah pesen ojek."

"Nggak lucu!"

"Gue emang lagi nggak ngelucu."

"Udah, lo ganggu aja. Gue mau lanjut baca novel," ucap Haura yang tak mau memperpanjang obrolannya dengan Dehan.

"Jangan begadang!"

"Siap, bodyguard." Haura langsung memutuskan sambungan telepon. Jika tidak, Dehan akan semakin memperpanjang ucapannya. Haura terlalu malas meladeni Dehan malam ini.

Haura meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Lalu mengambil novel yang tergeletak di atas kasur, ia akan melanjutkan membaca.

Drrtt drrtt

Ponsel Haura berbunyi lagi, membuatnya mendengus kesal karena harus menghentikan bacaannya sebentar. Dengan malas, Haura menjangkau ponselnya.

"Apa lagi sih?" tanya Haura dengan suara yang mulai meninggi.

"Hallo, kenapa Ra?"

Tunggu!
Suaranya berbeda, ini bukan suara Dehan. Dengan cepat Haura melihat ke layar ponselnya.

HAURA (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang