Happy reading:)
"Maaf, bukannya tak mengizinkanmu masuk. Hanya saja tak ada hal menarik dalam hidupku yang tak seharusnya kamu ketahui."
--Fuji Rahayu Ningtia--
¤¤¤¤
"Gue nebeng sama kalian ya. Soalnya gue lagi gak bawa kendaraan." Lisa menghampiri Dehan dan Karen di parkiran sekolah setelah bel pulang berbunyi.
"Boleh sih, tapi kita lagi nunggu Haura dulu."
"Hm oke deh, tapi kok Haura-nya gak datang-datang ya. Apa jangan-jangan dia udah pulang duluan."
"Gak mungkinlah, Haura selalu pulang sama kita." Karen menyahut.
"Ya bisa aja kan."
Mereka tak lagi menanggapi perkataan Lisa. Tak ingin menunggu terlalu lama lagi, Dehan pun segera mengeluarkan benda pipih dari dalam saku celananya. Mencari kontak Haura dan menghubunginya.
"Lo di mana, Ra?" ucap Dehan pada orang diseberang teleponnya setelah terhubung.
"Gue udah nyampe rumah!"
"Kok lo gak nungguin sih?"
"Emang lo pulang sama siapa tadi?"
"Apa jangan-jangan lo cabut ya."
"Gak usah banyak tanya, kalian pulang aja sekarang."
Tut tut
Telpon dimatikan secara sepihak oleh Haura. Dehan pun kembali memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya.
"Haura udah pulang duluan."
"Loh kok gitu?"
"Mana gue tahu."
"Gak biasanya tuh anak pulang duluan tanpa kita."
"Iya, yang ini 'kan luar biasa."
"Amazing dong."
"Bodo ah, kuy cabut." Dehan masuk ke dalam mobilnya di sisi kemudi, dan diikuti oleh Karen dan Lisa.
Di sisi lain, Haura terus saja mengamati percakapan kedua bodyguard nya dengan sekretaris OSIS itu dari balik pohon dekat parkiran sekolah.
Haura sengaja bilang kalau dia sudah nyampe rumah karena ia tidak suka jika harus ada orang lain di antara mereka--Lisa.
Setelah melihat mobil Dehan meninggalkan pekarangan sekolah. Haura pun keluar dari tempat persembunyiannya. Menyeret kakinya meninggalkan sekolah.
****
"Rumah lo di mana, Lis?" Setelah sekian lama hanya keheningan yang terjadi di dalam mobil, Dehan pun angkat suara.
"Di hati lo Bang." Bukan! Bukan Lisa yang menjawab, tapi itu ulah Karen.
"Ada plastik gak? Gue mau muntah," ucap Dehan kesal.
"Udah berapa bulan, Bang?" Karen kembali berulah.
"Berapa bulan pala lo!"
"Udah ah, jijik gue dengar lo bicara gitu," lanjut Dehan.
Sedangkan perempuan yang duduk di bangku tengah mobil itu hanya tertawa melihat tingkah kedua cowok yang menjadi idola para kaum Hawa di sekolah.
"Kalian lucu." Lisa berkata di sela-sela tawanya.
****
Dan di sinilah Haura berada. Di tempat yang jauh dari kebisingan kota. Tempat yang selalu memberikan kedamaian saat dia sedang dirundung masalah.
Haura duduk di tepi danau yang terletak cukup jauh dari jalanan. Pemandangan yang menakjubkan di sini membuatnya betah untuk berlama-lama di sini.
"Gue boleh duduk?" tanya seseorang yang menghampiri Haura.
Haura tak menyahut apalagi menoleh ke arahnya. Pandangannya terus tertuju pada danau itu.
"Gue Arsya," ucap pria tersebut setelah duduk di samping Haura.
Haura tetap diam tak menanggapi. Merasa tak dihiraukan, pria dengan nama Arsya tadi kembali bersuara.
"Kita udah pernah bertemu sebelumnya di supermarket."Setelah mendengar ucapan pria tersebut, Haura langsung mengalihkan pandangannya pada pria di sampingnya ini.
Benar, dia adalah orang yang menolongnya di supermarket kemarin. Orang yang juga berhasil membuat mood nya hancur.
"Ngapain lo di sini?" tanya Haura setelah sekian lama diam.
"Kebetulan aja lewat sini."
"Gue gak bodoh." Haura paham sekali, bahwa tempat ini jauh dari jalanan. Jadi tidak mungkin dia hanya kebetulan lewat saja.
"Gue tau lo pintar." Pria tersebut masih memandang ke danau.
Haura tak lagi menyahut, pandangannya kini telah beralih ke danau.
"Ngapain lo di sini?" Sekarang giliran Arsya yang menanyakan hal itu pada Haura.
"Bukan urusan lo."
"Lo sering ke sini ya?" tanya Arsya lagi.
"Lo gak usah sok akrab dengan gue!" tekan Haura sambil menatapnya tajam.
"Kalau gitu gue akan bikin kita akrab." Haura terdiam setelah mendengar ucapan Arsya.
"Gimana?" tanya Arsya.
"Percuma," balas Haura ambigu.
Arsya mengernyitkan dahinya, seolah tak mengerti akan jawaban dari Haura.
"Ya percuma, karena gue gak akan mau akrab sama lo!"
"Gue akan bikin lo mau." Haura mendengus mendengarnya.
"Lo bisa pergi gak? Gue lagi pengen sendiri," ucap Haura dengan kesal.
"Gak bisa! Karena gue mau nemenin lo."
"Gue gak butuh ditemanin!"
"Kenapa lo selalu bilang gak butuh padahal lo butuh itu?"
"Maksud lo?"
"Di supermarket kemaren lo juga bilang gak butuh, padahal lo butuh bantuan kan?"
Haura hanya diam, tak lagi nembalas ucapan pria yang baru saja dikenalnya itu. Entahlah, ia juga tak tau harus membalas apa. Matanya terus tertuju pada danau yang indah itu.
"Oke lupakan."
"Jadi, lo ngapain di sini?" Arsya kembali menanyakan hal itu.
"Gue pengen aja." jawab Haura simple. Dia juga heran sendiri, mengapa bisa dengan mudahnya ia ngobrol dengan orang yang baru saja ia kenali.
"Gue gak suka ada orang lain yang masuk dalam kehidupan gue, apalagi dia mengambil semua yang gue miliki." Kalimat itu keluar sendiri dari mulut Haura tanpa ia sadari. Entahlah, tapi yang pasti ia merasa nyaman berbicara dengan pria yang baru saja ia kenali ini.
"Kalau gue yang masuk dalam kehidupan lo, gimana?"
****
Gimana hayooo
Arsya udah muncul nihIya tau, part ini pendek pake banget. Gak tau harus nulis apa lagi, wheh.
Jangan lupa vote!
Kasih komen juga tentang part ini'Jadikan Al-qur'an sebagai bacaan utama'
Salam hangat,
Fuji

KAMU SEDANG MEMBACA
HAURA (COMPLETED)
Teen Fiction"Gue nggak butuh lo! Gue hanya butuh ketenangan!" "Lo nggak bisa ngusir gue gitu aja. Gimana kalau ketenangan yang lo cari itu ada saat bersama gue?" ~~~ Bagaimana jadinya jika seorang gadis remaja yang selalu dihujani masalah-masalah malah bertingk...