Dua puluh tiga

32 4 0
                                    

Happy reading^^

♡♡♡

"Haura?" tanya seseorang dengan ekspresi terkejutnya saat melihat Haura.

Haura yang mendengar namanya dipanggil langsung mengalihkan pandangan ke sumber suara. Seketika matanya terbelalak saat melihat siapa yang menyapanya.

"Ra, lo di sini? L-lo apa kabar?" tanya seseorang yang menyapa Haura barusan.

Tampak jelas wajah tidak sukanya Haura pada orang itu, ekspresi yang mendadak berubah, mata menajam menatap sosok yang menyapanya barusan.

Arsya yang melihat perubahan raut wajah Haura mengerutkan keningnya. Arsya tidak mengenali siapa laki-laki yang menyapa Huara itu dan apa hubungannya dengan Haura.

Tanpa membalas pertanyaan itu, Haura segera berdiri dari duduknya, tidak lupa untuk membawa  es krim traktiran dari Arsya tadi. Lalu ia pergi begitu saja setelah mengucapkan sesuatu kepada Arsya yang membuat Arsya tambah bingung.

"Ayo pergi, Ar!" Mendengar kalimat yang lebih terkesan perintah itu membuat Arsya mau tak mau menyusul Haura. Ia sempat melihat ke arah laki-laki yang menyapa Haura tadi, penasaran akan siapa dia sebenarnya. Tapi, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menanyakan itu.

"Ra! Kita perlu bicara!" teriak laki-laki itu sambil melihat ke arah Haura dan Arsya yang sudah naik ke atas motornya, bersiap untuk pergi.

Arsya pun menjalankan motornya setelah Haura memaksa. Arsya sempat melihat laki-laki tadi mengusap kasar wajahnya, sepertinya dia kecewa karena tak dihiraukan oleh Haura.

Dari penampilannya, terlihat ia masih sangat muda, mungkin kisaran anak kulihan. Dengan baju kaos serta celana jeans pendeknya. Tapi, Arsya merasa tidak asing dengan wajahnya.
Tapi siapa?

Di atas motor Haura lagi-lagi diam dan Arsya pun juga ikut diam. Arsya tidak berniat bertanya perihal siapa laki-laki tadi. Karena jika Haura mau, dia pasti akan menjelaskannya sendiri.

Tunggu saja.

***

"Yang tadi itu kak Brian," ucap Haura saat mereka tengah berada di taman kota.

Ya, Arsya tidak langsung mengantar Haura pulang, karena Haura sendiri yang meminta untuk ke sini.

Entah kenapa, Haura mau menceritakan sesuatu hal tentang dirinya dan keluarganya. Seperti sekarang, tanpa Arsya bertanya pun Haura tetap menceritakannya.

"Kak Brian siapa?"

"Kakak kandung gue." Jawaban Haura membuat Arsya melebarkan matanya. Ia kaget tapi masih tetap diam menunggu penjelasan selanjutnya dari Haura.

"Kak Brian tinggal sama mama papa dan gue sama oma."

"Lalu kenapa lo ngehindar?" tanya Arsya penasaran.

Haura menarik napasnya dalam. "Lo nggak akan paham."

Setelah mengatakan kalimat itu, Haura langsung berdiri dan bersiap untuk pergi.

"Mau ke mana?" tanya Arsya lagi.

"Pulang," jawab Haura lalu melangkahkan kakinya mendekati motor yang terparkir rapi di tepi jalan.

Arsya menghembuskan nafasnya. Ia harus bisa memahami cewek yang bersamanya ini.

Haura dengan segala sifatnya.

***

"Haura, Dehan sama Karen udah datang nih," teriak oma dari ruang makan. Haura yang sedang rebahan di kamar mau tak mau harus menghampiri oma.

Masih dengan menggunakan baju tidur dan rambut kusutnya, Haura keluar dari kamar.

"Ya ampun, kok belum siap-siap sih?" Oma terkejud mendapati penampilan cucunya yang masih kusut seperti baru bangun tidur. Tidak salah, Haura memang baru bangun tidur.

Haura melihat ke arah meja makan, Dehan dan Karen sudah duduk di sana, bersiap untuk sarapan. Memang, mereka selalu sarapan di rumah Haura.

"Kamu nggak sekolah? Siap-siap sana!" pinta oma.

Sedangkan Haura tak menanggapi ucapan sang oma. Ia pun mendekat ke arah Dehan dan Karen.

"Ngapain lo ke sini?" tanya Haura sinis.

"Mau sarapan," jawab Karen dengan santainya. Bodyguard-nya yang satu itu memang tidak bisa membaca situasi.

"Kok kamu nanya gitu sih, Ra. Mereka ke sini ya buat jemput kamu," kata oma sembari menyiapkan roti selai.

Haura kembali menatap oma. "Haura di-skor, Oma. Dan dia penyebabnya!" sarkas Haura seraya menunjuk Dehan, setelah itu ia langsung kembali ke kamar.

Sedangkan Dehan hanya diam dengan raut wajah datarnya. Tidak menanggapi ucapan Haura barusan.

Oma yang mendengar itu mengerutkan keningnya, ia benar-benar bingung.

"Haura di-skor? Kok bisa?"

"Nanti Dehan ceritain ya, Oma. Kita berangkat sekolah dulu, ntar telat." Dehan yang baru selesai sarapan pun langsung berdiri, lalu mencium tangan oma dan mengucapkan salam. Baru akhirnya ia pergi.

"Tungguin, Han!" teriak Karen di sela-sela ia meminum susu. Lalu Karen pun mencium tangan Oma dan berlari mengejar Dehan. Takutnya nanti ditinggal.

Sedangkan oma hanya geleng-geleng kepala melihat hal itu. Setelah menyaksikan Dehan dan Karen menghilang dari balik pintu, Oma menghembuskan nafasnya kasar.

Tidak biasanya Haura bersikap seperti tadi kepada Dehan. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang muncul di kepala wanita itu. Tapi, ia tak ingin berfikir yang tidak-tidak dulu. Nanti, cucu-cucunya itu pasti akan menjelaskannya sendiri.

***

+628xxxxxxx

Siang ini di taman kota, ditunggu!

Haura mengerutkan keningnya saat membaca pesan masuk, dari nomor tidak dikenal.

Siapa si pengirim itu?
Dan kenapa ia mengajak Haura ketemuan?

♡♡♡

Makasih untuk yang udah baca sampai sini♡

Jangan bosan untuk nunggu kelanjutannya ya.

Vote dan komen sebanyak-banyaknya:)
Gratis kok!
.
.
.
.
.

'Jadikan Al quran sebagai bacaan utama.'

Salam hangat,
Fuji

HAURA (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang