'Apapun untuk mu'
_•SgaraStvenGvriel🍃•_
o.0.o
"Lova kenapa Sa?"
"Kemaren malam Lova dapat teroran, melalui kertas. Gue takut kalau ada yang tahu, tentang phobia Lova, soalnya kertas kemarin yang Lova terima, ada bercak darahnya."
"Apa gue harus ngumpulin semua anggota?" tanya Rio.
Harsa berfikir cukup keras. Ia tidak mau jika adik satu-satunya dalam bahaya.
"Anggota yang datang berapa?"
Rio mengecek seluruh laki-laki yang berada disatu ruangan tersebut. "Cuma 30."
"Panggil 20 anggota lagi. Suruh ke markas sekarang." dengan singgap Rio menggetik sesuatu di layar handphone-nya.
"Mereka 5 menit lagi datang."
Sembari menunggu Harsa sesekali mengirim pesan serta menelpon Lova.
"Halo dek? Kamu di mana?"
"Iya bang? Lova di jalan, mau ke alfamaret. Kenapa?"
"Kamu sama siapa?"
"Sendiri lah. Cuma jalan ke depan gang doang kok!"
"Kalau sudah belinya, cepet pulang."
"Iya-iya."
Setelah menutup telepon. Suara deruman motor masuk ke telingga Harsa. Mungkin itu anggotanya.
"Hay bro! Ada apa nih? Tumben, nyuruh kita kesini." ucap salah satu teman Harsa.
Harsa tersenyum, dan bersalaman ala laki-laki. "BARKA sama TRAGAS buat ulah lagi."
20 anggota yang baru saja datang mendadak terdiam, dan menatap Harsa. "Apa?! Buat ulah apalagi mereka?!" tanyanya salah satu dari mereka.
"Merek mencoba meneror Lova. Dan lo tahu dengan kelemahan Lova. Gue pikir ada yang sengaja memberi tahu kelemahan Lova, kepada geng BARKA."
"Jadi maksud lo ada penghianat?" ucap Rio, dan di angguki oleh Harsa.
Harsa segera menekan nomor Gara. "Hallo. Kemarkas sekarang, ajak sebagian anggota yang di sana."
***
Lova berjalan dengan di iringi nyanyian kecil. Membuat kue adalah kesukaannya. Ia rela berjalan kaki, menuju alfamaret, hanya untuk membeli bahan-bahan untuk membuat kue. Tawaran tumpangan sopirnya ia tolak. Ia memilih berjalan kaki, sambil menyapa orang yang berpapasan dengannya.
"Emhh, apa lagi ya?" Lova melihat seisi alfamaret.
"Mentaga! Hampir lupa." setalah mengambil semua bahan Lova segera menuju ke kasir untuk membayarnya.
"Semuanya 95.000 ka."
"Ini uangnya."
Lova berjalan kembali menuju rumah, dengan menenteng 2 plastik putih.
KAMU SEDANG MEMBACA
GARAVA
Teen Fiction•USIKANMU AKHIR HIDUPMU• Itulah slogan yang sudah berdiri dari awal SARKA muncul. Bukan hanya satu dua kali segala masalah berdatangan, tetapi berkali-kali hanya untuk menjatuhkan SARKA dan membalaskan dendam yang belum tuntas. Perjalan seorang lak...
