7•Kemarahan Harsa✔

1.7K 149 54
                                        

'Aku senang. Di saat banyak yang perduli dengan ku!'

_•QueenaArllvaLcrta🍃_•

0.o.0

"Lova mau es cream apa?" tanya Dika
Lova sempat berpikir.
"Es cream vanilla sama coklat aja!"

Dika mengangguk, dan memanggil salah satu pelayan.

"Mau pesan apa mas?"

"Es cream coklat 2 vanilla 1" ucap Dika.

"Silahkan di tunggu"

Setelah kepergian pelayan. Lova dan Dika, sesekali bertukar cerita. Jikalau Lova, dia sedikit menceritakan tentang sahabat-sahabatnya.

"Jadi aku boleh minta satu sahabat kamu dong" kekeh Dika.

Lova menggeleng cepat
"No no no!. Kan bang Dika udah punya kak Zerra!" Dika hanya terkekeh di buatnya.

Mata Dika tak senggaja, melihat lengan Lova yang tertutup plester.

"Ini kenapa?"

Lova terlihat bingung, untuk menjawab pertanyaan Dika.
"Hmm itu tadi.., es cream nya udah datang! Makan dulu ya bang. Keburu cair" Dika mengangguk pasrah.

Lova hanya tersenyum cangung, dan membuang nafas lega.

***

"LOVA PULANG!!" teriakan Lova menggema di seluruh sudut ruangan. Terlihat Harsa yang sedang duduk manis, sambil memangku cemilan ringan, dan menonton Tv.

"Lama-lama aku jahit tuh mulut dek!" ancam Harsa, dan di balas kekehan oleh Lova. Jika di dalam kawasan rumah, tidak boleh sampai ada yang berbicara, dengan kata-kata 'lo-gue'.

"Bang minta dong!"

Harsa menggeleng.
"Nggak!. Ambil sendiri sono"

"Ishhh! Pelit banget!" rajuk Lova

Lova berjalan ke arah Harsa, dengan serangan tiba-tiba, Lova merebut cemilan yang berada di pegangan Harsa. Dan yes berhasil. Tapi tanpa sengaja, Harsa melihat luka gores di lengan Lova. Sontak tangan Lova yang hendak di sembunyikan, menjadi di urungkan. Saat dengan cepatnya Harsa menarik cepat tangan Lova

"Ini kenapa dek?"

Wajah Lova berubah drastis, ia takut apabila Harsa marah jika tau sebab nya.
"Hmm itu bang... anu?" Mulut Lova hanya komat-kamit, tanpa menjawab pertanyaan Harsa

"Kalo di tanya jawab yang bener!!" suara Harsa naik satu oktaf. Apabila sudah berkaitan dengan adik kesayangannya.

Lova terkejut dengan suara Harsa. Ditundukan nya kepala, yang membuat Harsa merasa bersalah. Karena hampir membentak nya. Harsa langsung membawa Lova kedalam pelukannya, dan badan Lova sedikit bergetar mendengar bentakan Harsa.

"Lova, ngomong ya sama abang. Biar bang Harsa nggak marah sama Lova" suara Harsa yang melembut, menjadikan Lova untuk harus berbicara semua.

"Ta..di tangan Lova, nggak senggaja kena pisau. Tepat setelah jam pelajaran selesai, di sekolah Lova, ada yang berantem. Dan Lova nggak sengaja kena pi..pisau nya! Maafin Lova!!" ucap Lova sedikit terbata-bata.

Harsa mencoba untuk menahan emosi nya, suara gemlutuk yang di hasilkan dari mulut Harsa. Bisa membuat nya untuk menahan emosi sesaat.

"Lova tau siapa yang berantem?!" tanya Harsa hanya untuk memastikan, dia sudah tau pasti Sarka dan Barka.

Lova mengangguk
"Ya, Lova tau. Kak Gara sama temen-teman nya!"

Semua yang Lova ucap, cukup untuk meyakinkan. Bahwa benar anggota Barka atau pun anggota Sarka yang melakukan ini.

"Yaudah Lova sekarang istirahat, bang Harsa mau ke rumah temen!. Bunda sama ayah sebentar lagi pulang, dari butik tante Nike!" ujar Harsa.

"Iya bang"

Tanpa menunggu lagi, Harsa langsung beranjak dari shofa, dan mengambil kunci motonya. Untuk menuju ke markas Barka.

"Tunggu pembalasan gue Kean!!"

***

Memakan waktu 15 menit, untuk mencapai markas Barka. Tanpa mengucap salam atau pun sapaan, Harsa menendang pintu markas dengan cukup keras.

"KEAN DI MANA LO ANJNG!!!" setelah pintu terbuka, dan Harsa masuk dengan entengnya. Membuat semua anggota Barka terkejut, akan kehadiran Harsa. Sang mantan ketua geng Sarka angkatan 6.

"Siapa lo main masuk-masuk aja hah?!" suara Kean masuk kedalam telinga Harsa.

"Lo lupa sama gue hah?!" tanya Harsa dengan jarak yang dekat.

"Lo nggak inget dulu si Rasya!. Mantan ketua geng Barka yang mati 1 tahun yang lalu!!" suara Harsa yang memelan, akan tetapi cukup membuat anggota Barka. Merinding di buatnya.

Seketika pikiran Kean mengorek-orek kejadian masalalu. Dimana saat Barka yang masih berketua kan Rasya Alexander Gafatma. Meninggal saat tengah beradu otot dengan Harsa Augras Lacerta mantan ketua Sarka.

Wajah Kean terlihat sedikit terkejut saat mengetahui, pria yang berada di depan nya adalah seseorang yang membunuh Rasya 1 tahun yang lalu.

"Lo. Harsa y-yang dulu bunuh bang R-rasya?"

"Iya gue Harsa, mantan ketua geng Sarka angkatan 6. Yang membunuh seorang Rasya Alexander Gafatma!! Oh ya sampai lupa! Gue adalah kakak dari Lova. Lova yang tadi siang lo lukai tangan nya!!" ucap Harsa dengan tajam.

Semua anggota Barka menelan saliva nya dengan susah, saat mendengar bahwa Harsa kembali melibatkan masalah dengan Barka.

"Bangsat!! Gue belum terima anjng bang Rasya mati karena lo!!" teriakan Kean menggema ke seluruh sudut markas, seketika sunyi menyelimuti suasana.

Senyum sinis terbit di bibir Harsa.
"Hahaha. Lo belum tau kelakuan busuk seorang Rasya!"

"Lo belum tau kan bahwa dia yang sudah membunuh wakil ketua Sarka, Guntur!! Guntur Aditama. Korban tabrak lari Rasya!! Yang di sangka mengalami kecelakaan biasa, dan berakhir tewas. Dan juga lo jangan sampai lupa!. Dia pernah melecehkan salah satu siswi Sma Mutiara, sampai di buat meninggal!"

"Dan cuma gue yang tau apa penyebab gue bunuh Rasya. Dan kalian semua tak pernah lupa kan, akan pepatah 'Nyawa harus di bayar dengan nyawa' dan apakah seorang Rasya yang lo semua bangga-banggakan, pantes buat menjadi ketua? Pantes iya hah?!. Seorang ketua harus bisa bertanggung jawab akan kesalahan nya. Bukan malah menjadi seorang PENGECUT. Dan buat lo Keano! Yang sudah bikin tangan adek gue, Lova, terluka."

BUGHH.

"Ini masih permulaan, cukup dengan 2 kali pukulan dan 1 kali tendangan. Jika lo masih berani nyakitin adek gue atau lo mancari masalah dengan Sarka?! Siap-siap, untuk menyiapkan liang kubur!"

Setelah Harsa berbicara tentang dulu yang sempat ia tutup-tutupi. Seketika semua beban berkurang sedikit demi sedikit.

Lain hal nya dengan anggota Barka. Yang memandang cemas ke arah Kean.

"Gimana nih, Harsa kembali. Lo tau kan gimana jika Harsa sudah marah?" ucap salah satu anggota Barka.

"Dia bisa di bilang cukup bahaya. Janga lupa juga sama bang Regan, yang selalu ada saat kedaan mendesak!" timpal Sendy.

"Kita harus balas perbuatan Harsa dan Sarka. Gue yakin bahwa yang tadi dia bicarakan semuanya nggak bener, bang Rasya nggak mungkin nglakuin itu" ucap Kean ngebabu-babu.

"Tapi lo denger sendiri kan. Semuanya sudah jelas!"

Kean menggeleng.
"Nggak itu nggak bener. Dan gue sendiri yang akan turun tangan!"

●●●

Ikuti terus lanjutan ceritanya♡

GOMAWO❤

_Salam, Nhaa🐼

GARAVACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang