•••
Arisha terbangun dari tidurnya tepat saat alarm di nakas samping tempat tidurnya berbunyi. Pikirannya langsung melayang ke ruang tengah di mana semalam ia menidurkan suaminya di sofa. Ia beranjak dari kasurnya, membereskan rambutnya yang terlihat berantakan dan tak lupa juga ia membasuh wajahnya.
Aroma harum makanan langsung menyeruak begitu ia keluar kamar. Terdengar suara berisik dari arah dapur. Sudah pasti salah satu asisten rumah tangganya sedang menyiapkan sarapan. Saat menuruni tangga, ia sudah bisa melihat Saka yang masih tertidur lelap di sofa.
Kebingungan langsung menghampiri Arisha, apakah ia harus membangunkannya? Atau membiarkannya terbangun dengan sendirinya? Kedua hal itu pasti akan menimbulkan kesalahpahaman. Lama ia berdiri sambil menatap Saka dari dekat, sama sekali tak berani mengutiknya.
Saka tertidur sangat rapih, selimutnya masih menempel di tubuhnya. Dan yang jelas, dalam keadaan tidur pun Saka tetap terlihat tampan. Bulu matanya yang panjang dan lentik, juga hidungnya yang mancung menarik perhatian Arisha.
“Sepertinya lebih baik dibiarkan saja, Non” ujar seseorang yang baru saja melewati Arisha, nampaknya ia memperhatikan Arisha sejak tadi.
“Sarapannya sudah siap Non” katanya lagi yang dibalas Arisha dengan senyuman hangat sehangat pagi ini.
“Begitukah?... Baiklah”
Sesaat kemudian, Arisha meninggalkan Saka dan berjalan ke arah ruang makan. Matanya lagi-lagi terpesona akan hidangan yang tersaji di meja makan. Lagi-lagi ia kagum akan keahlian memasak asisten rumah tangganya itu. Sambil tersenyum ia mengacungkan kedua jempolnya.
“Sepertinya makanan ini tidak akan cukup. Tolong buatkan saja makanan pereda pengar untuk suamiku, Bi” wanita paruh baya yang dipanggil Bi oleh Arisha barusan langsung mengangguk setuju dan menuruti apa yang diperintahkan majikannya itu.
Dan benar saja, sesaat setelah Arisha berbicara seperti itu, seseorang membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol air dingin. Lalu ia menarik kursi di sebrang kursi yang sedang diduduki Arisha. Tentu saja itu hal itu membuat Arisha terkejut bukan main, bahkan makanan yang hendak ia masukkan ke dalam mulutnya, ia turunkan kembali.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Saka setelahnya, dan membuat Arisha memberanikan untuk memulai percakapan.
“Ap……” ucapannya terhenti begitu saja saat Saka tiba-tiba menmotongnya,
“Kenapa aku ada di rumah ini dan bahkan tertidur di sofa? Apa semalam aku sangat mabuk?” tanyanya tanpa menatap wanita yang berstatus sebagai istrinya itu, Arisha mencoba menjawabnya namun sepertinya itu bukan pertayaan yang ditanyakan kepadanya, karena setelahnya Saka bergumam sendirian.
“Sebaikya kau sarapan sebelum pergi lagi” kata Arisha seraya memasukkan sesuap nasi, ke dalam mulutnya. Kalimat itu spontan keluar dari mulut Arisha dan terdengar sangat ketus. Padahal ia sama sekali tidak bermaksud begitu. Entahlah, apa mungkin karena sikap dingin dan cuek yang selalu Saka tunjukkan padanya, secara tidak langsung juga mempengaruhinya?.
Tanpa disangka Arisha, Saka tiba-tiba mengambil semangkuk nasi yang sedang dimakannya. Mengambil juga beberapa lauk pauknya.
“Tapi makananmu…. “ Arisha kembali kebingungan, itu adalah makanannya dan baru sesuap ia makan. Perutnya masih terasa lapar.
“Kau menyuruhku sarapan bukan?” tanya Saka yang tak kalah ketus, dan membuat Arisha terdiam tak berkutik. Sementara makanan Saka baru saja selesai dibuat.
“Sebaiknya kau makan sup ini agar pengar mu hilang” kalimat itu sama sekali tidak membuat Saka menghentikan aktivitasnya. Ia tetap melanjutkan makan makanan yang menjadi jatah Arisha.
Jelas, itu membuat Arisha sedikit kesal. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak, dengan terpaksa ia memakan sup itu karena perutnya masih terasa lapar. Dan supnya terasa sangat pedas untuk makanan yang dihidangkan saat sarapan.
Arisha melihat saka sudah menghabiskan makanannya dan ia langsung pergi ke kamar. Sudah pasti ia sedang bersiap-siap untuk pergi lagi. Dan saat Arisha baru saja selesai sarapan, ia melihat Saka yang berjalan terburu-buru melewati dirinya. Tidak ada kata sapaan atau pamit, bahkan melihat dirinya pun sepertinya tidak. Untuk sekedar Arisha membenarkan dasi sang suami atau sekedar mencium punggung tangan suaminya selayaknya yang dilakukan para istri pada umumnya pun seperti tidak akan pernah ada kesempatan baginya.
“Dia tetap menjadi Saka yang dingin bagiku”
gumam Arisha dalam hati yang sudah sangat ia maklumi. Setidaknya ia sudah tidak terlalu merasakan sesak di dada lagi jika mengingat hal tentang Saka, karena saat sarapan tadi Saka menuruti perkataannya untuk yang pertama kali. Itu saja sudah membuat tersenyum. Sepertinya Tuhan sedang mengabulkan doa-doanya perlahan.
•••
“Sepertinya lebih baik dibiarkan saja, Non”
“Sarapannya sudah siap Non”
“Begitukah?... Baiklah”
Sayup-sayup Saka mendengar dua orang sedang mengobrol di dekatnya yang membuat dirinya terbangun dari tidurnya. Matanya masih mengantuk, kepalanya masih terasa pusing dan perutnya sedikit mual. Ia memperhatikan semua yang ada di sekelilingnya. Selimut, sofa dan perabotan yang ada di hadapannya membuatnya tersadar kalau ia berada di rumahnya. Tapi, tertidur di sofa dan masih menggunakan pakaian yang digunakan ngantor kemarin serta bau alkohol menyadarkannya kalau ia semalam pasti sangat mabuk. Dan sekarang sudah waktunya ia untuk pergi ke kantor.
Tak mau ambil pusing, ia beranjak dari sofa dan menghampiri kulkas. Tenggorokannya sangat kering. Ia mendapati seorang wanita sedang duduk dengan berbagai menu sarapan di hadapannya. Terlihat sangat menggiurkan. Dan membuat saka dengan sengaja duduk dihadapan wanita itu.
Semuanya terasa sangat canggung bagi Saka, pernikahan ini tidak terasa seperti sebuah pernikahan. Ia memberanikan diri untuk membuka percakapan, tapi sepertinya wanita itu juga ingin mengatakan sesuatu. Dan benar saja, wanita itu mulai mengatakan sesuatu namun berhasil dipotong oleh Saka.
Entah apa yang membuat saka seperti ini kali ini, sepertinya semalam ia benar-benar mabuk. Ia membawa dirinya ke rumah ini, padahal biasanya jika dalam keadaan mabuk ia akan membawa dirinya ke rumah Viola. Namun sepertinya semalam ia tidak sadar, dan baru pagi ini ia menyadari semuanya.
Saat Saka sedang berada di kamar mandi pun ia teringat semuanya, ia memeluk Arisha dan menggenggam tangannya lalu menahannya pergi dan memanggilnya Viola.
Semua ingatan itu membuatnya gila. Dan satu hal lagi, ia ingat jika Arisha yang menidurkannya di sofa dan melindungi tubuhnya dari hawa dingin saat malam dengan memberikannya selimut. Semuanya sangat jelas dalam ingatan Saka.
Sebenarnya semua kesalahpahaman itu tidak akan terjadi jika saja Saka tidak pulang ke rumah ini. Ia tidak ingin membuat Arisha salah paham, dan ia ingin tetap membuat batasan dengannya. Setidaknya ia harus bertahan sampai waktunya tiba. Waktu untuk memisahkan mereka berdua, dimana keduanya akan mendapatkan kebahagiaannya kembali walaupun untuk menuju itu semua tidaklah mudah. Dan sekarang ia membutuhkan Viola, merindukan kehadiran Viola yang akan membuatnya menghilangkan semua pikiran ini.
Yang jelas semua hal ini tidak akan terjadi kalau Saka tidak mabuk.
—TBC—

KAMU SEDANG MEMBACA
Dandelion
ChickLitOrang-orang bilang menikah itu hal yang menyenangkan, orang-orang bilang dengan menikah kau akan bahagia. Nyatanya hal itu tidak berlaku bagi seorang gadis bernama Arisha Galechka. Berniat melamar pekerjaan di sebuah perusahaan, ia malah dimi...