Bagian 10

52 4 1
                                        

Hari ini adalah hari Sabtu, sudah masuk Minggu ketiga aku berada di sekolah ini. Dan seminggu kedepannya lagi kami akan menghadapi ujian nasional. Aku sudah bersiap-siap untuk pulang. Memasukkan semua buku di atas meja ke dalam tas sekolahku. Jadwalku mulai padat karna menghadapi detik-detik ujian. Aku harus tetap belajar walaupun tak serajin para idola-idola di sekolah ini. setidaknya aku bisa lulus SMA tidak mempermalukan abi dan umi.

Aku dan Shaba beriringan menyusuri koridor sekolah. Seperti biasa, kami akan berpisah di gerbang sekolah nantinya.

"Fara!" Ada orang yang memanggilku, yang jelas itu bukan Shaba. Aku menghentikan langkahku mencari siapa yang memanggilku. Tidak terlihat sama sekali kalau ada tanda-tanda orang yang memanggilku.

"Mungkin hanya perasaanmu saja Far," ujar Shaba.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal, "Tapi, sepertinya memang ada yang memanggilku Shaba,"kataku.

"AWAS!!!"

Aku dan Shaba terjatuh ke lantai berlawanan, ada orang yang sengaja mendorong kami. Kepalaku terbentur ke tiang terasa sakit. Tak lama, dua batu-bata menyusul jatuh dari lantai atas. Hancur karna ketinggian. Orang itu langsung mendekatiku bertanya apakah aku baik-baik saja.

Aku mengangguk. Walau kepalaku terasa sakit, tapi tidak akan ada bandingnya kalau batu-bata itu menimpa kepalaku. Pasti kepalaku akan terluka berdarah.

Dia Alan. Dengan wajah amarah ia berlari kembali ke lantai dua mencari tau siapa yang melakukan hal itu. Aku hanya menatap punggung Alan menghilang, ia terlihat begitu khawatir.

Kami tidak langsung pulang, menunggu Alan kembali untuk mengucapkan terimakasih. Biar bagaimanapun dia sudah menyelamatkan nyawaku juga Shaba. Tidak tau bagaimana kejadiannya kalau Allah tidak menakdirkan dia menolongku tadi.

"Tidak ada lagi, orang itu sudah lebih dulu pergi," ujar Alan dengan nafas terengah-engah. "Anehnya lagi, CCTV di area balkon mati."

"Sudah, tidak apa-apa. Mungkin dia tidak sengaja."

"Hal mustahil kalau kejadian itu tidak disengaja. Tidak mungkin ada batu bata di pinggir balkon kalau tidak ada yang sengaja menaruhnya lalu menjatuhkannya ke arah kalian," jelas Alan.

"Ini pasti ada kaitannya dengan orang yang memanggilmu Far," kata Shaba.

Aku berfikir sejenak. Benar seperti kata Shaba, orang yang memanggilku dan orang yang menjatuhkan batu bata itu pasti ada kaitannya.

"Siapa yang memanggilmu?" tanya Alan mengernyitkan keningnya. "Perempuan atau laki-laki?"

"Entahlah. Sepertinya suara itu perempuan."

"Sudah kuduga, pasti dia mulai bertindak."

"Siapa?" tanyaku penasaran.

"Sebaiknya kalian pulang. Aku akan mencari tau tentang kejadian ini," Alan memotong pembicaraan kami.

Aku mengangguk. Shaba juga memutuskan untuk pulang. Lagi pula aku tidak terlalu berfikir negatif dengan kejadian tadi. Aku tidak mau memikirkan banyak kemungkinan yang membuatku berfikir buruk terhadap orang lain. Yang aku pikirkan sekarang, aku melihat sifat Alan yang berbeda. Dulu awalnya dia mengatai namaku seperti nama hewan. Sekarang dia malah membantuku. Bahkan sudah dua kali. Wajahnya yang dingin terlihat cemas, seakan takut terjadi sesuatu padaku.

Morgan kembali menghalangiku seperti biasa ia lakukan. Ia sudah bisa menebak kapan aku akan keluar dari gerbang sekolah. Saat itu lah aku ingat dengan kata-kata Alan. Siapa yang mencoba mencelakai kami.

Hari Jum'at kemarin, aku melangkah menuju perpustakaan sekolah sendirian. Aku memang tidak punya banyak teman. Ada beberapa anak di kelasku yang mau berbicara ramah padaku. Namun, banyak yang tidak. itulah kenapa aku memutuskan ke perpustakaan. Tidak mau ke kantin sekolah atau ke halaman belakang menghabiskan isi kotak makanku sendirian. Lebih baik aku membaca buku selama lima belas menit ke depan. Setidaknya aku bisa merekam sedikit materi untuk ujian nasional sebelas hari lagi.

Kupu-kupu dan Senja ~TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang