Bagian 9

51 4 1
                                        

Sore di rumah Shaba sangat menyenangkan. Rumahnya tepat berada di pusat kota. Gedung-gedung tinggi terlihat begitu menawan tertata rapi di penjuru kota. Senja bersembunyi di balik gedung-gedung itu.

Aku suka senja. Tidak tau apa alasannya. Mungkin karna namaku terdapat kata-kata senja atau memang aku yang sangat menyukainya. Setiap kali senja datang, aku tidak akan pernah lupa menyaksikannya. Itu sudah ku lakukan sejak aku kecil.

Aku tidak suka musim hujan, karna ketika musim hujan tidak akan ada senja di langit. Bunga memang tumbuh subur tapi kupu-kupu tidak bisa terbang di bawah hujan. Jadi apa artinya bunga tanpa kupu-kupu.

Eh, lihatlah di seberang jalan sana. Terlihat laki-laki dengan rambut rapi sedang membaca buku di kursi yang berada di balkon rumahnya. Aku menajamkan penglihatanku seperti merasa kenal dengan orang itu. 'Tapi siapa?'

"Shaba! Shaba! Cepat kemari Shaba!"

"Ada apa Far?" Shaba sedang serius menonton drama Korea-nya. Tidak suka di ganggu.

"Shaba cepat Shaba! Lihat itu!"

Dengan langkah malas akhirnya Shaba menghampiriku juga bertanya, "Ada apa?"

Aku menunjuk ke seberang jalan. Di sebuah rumah besar, di balkon yang kulihat tadi. "Bukankah itu Alan?"

Shaba melihat ke seberang jalan malas, "Iya. Itu memang dia."

"Itu rumah bapak wali kota?"

"Bukan. Itu rumah neneknya Far. Dia tinggal bersama neneknya."

"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu tetangganya Alan?"

"Kamu tidak bertanya Far."

Aku menghembuskan nafas, pertanda sebal. Masih tidak percaya kalau di depan sana adalah Alan.

"Sudah kan? Aku mau melanjutkan drama koreaku."

Aku mengangguk. Aku masih memastikan apakah yang disana memang benar Alan atau mungkin kembarannya. Orang itu malah mengarahkan pandangannya ke arahku. Sekejap pandangan kami bertemu. Benar itu adalah Alan. Tapi kenapa penampilannya tampak rapi tidak seperti biasanya saat dia di sekolah. Aku dengan cepat memalingkan pandanganku seakan-akan tidak sempat memerhatikannya. Lalu bergegas masuk ke dalam kamar Shaba, takut Alan malah tau kalau yang melihatnya tadi adalah aku.

"Jangan suka memerhatikannya saat di rumah. Nanti kamu suka lagi," ujar Shaba masih menonton drama Korea-nya.

"Aku tidak memerhatikannya. Hanya penasaran saja tadi."

"Dia memang tampan Far, kalau di rumah."

"Apa?" Aku sengaja bertanya ulang. Ingin memastikan pujian yang di berikan Shaba pada Alan.

"Dia itu tampan kalau di rumah. Mirip sekali dengan Se Hun. Apalagi kalau pakai kemeja lengan panjang, dengan postur tubuh tinggi seperti itu."

Lengkap sudah pujian Shaba. Aku tertawa mendengar pengakuannya.

"Jangan menertawakanku! Walau aku tidak suka padanya aku harus mengakui kalau dia memang mirip Se Hun," tambah Fara. "Sebentar! Kamu kenal Se Hun?" Fara malah mengalihkan perhatiannya padaku tidak memerdulikan drama Korea-nya yang terus berlanjut.

"Itu dia Se Hun. Di seberang jalan sana kan?" godaku. Lalu tertawa memegang perutku.

"Aku serius Far. Sebentar akan aku perlihatkan." Shaba turun dari sofa kamarnya menuju laci meja belajarnya mengeluarkan sebuah album foto. Ia membuka album itu dengan bangga di hadapanku. Entah mengapa Shaba mau mencetak foto aktor-aktor Korea lalu meletakkan di dalam album foto berwarna pink dengan rapi. Sepertinya itu album khusus orang-orang yang di gemarinya.

Kupu-kupu dan Senja ~TAMATCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang