02 : Tetap Sama

2.2K 340 24
                                        

[ 🎶 The panasdalam bank ft. Danilla - Dan Bandung]

...

Seandainya Aksara bisa memilih, ia tak ingin menjadi sosok kesepian saat berada dirumahnya sendiri. Kebanyakan orang menjadikan rumah sebagai tempat paling nyaman untuk pulang, namun berbeda bagi Aksara. Rumahnya dingin tak ada kehangatan, hanya sekedar bangunan hampa yang setiap temboknya tak bernyawa.

Mama
Kemungkinan mama ga akan pulang minggu ini, harus langsung keluar kota.

Aksara hanya menatap datar pesan yang dikirim mamanya, tidak ada niatan sedikitpun untuk membalasnya. Toh bukan sekali ini mamanya tidak pulang kerumah dalam waktu seminggu.

Aksara terlampau tak perduli, jika memang mamanya tidak akan kembali selamanya pun tidak menjadi masalah. Dia hanya ingin menjalani hidupnya dengan tenang tanpa mau menuntut perhatian lebih dari mamanya.

Anak itu telah memilih untuk menyerah, menuntut haknya sebagai seorang anak hanya akan membuat sisi lemahnya terluka. Saat dimana tubuh Aksara demam, berkeringat dan mengigil, lantas ia hanya bisa memeluk erat selimutnya tanpa ada orang yang mewarawatnya. Sayangnya, waktu itu dirinya belum dipertemukan oleh sosok Rigel.

Karena pada dasarnya, Aksara sebelum bertemu Rigel adalah sosok rapuh bak dedaunan kering dimusim semi.

Tidak ada yang bisa disalahkan disini, baik Aksara maupun mamanya, hanya saja takdir yang terlalu kejam. Sang papa yang meninggal dalam 5 tahun terakhir, membuat keluarga kecil itu seakan kehilangan arah. Mamanya menjadi gila kerja tanpa ingat pulang dan seakan lupa akan tugasnya sebagai orang tua satu-satunya bagi Aksara.

.
.
.
.
.

Pagi harinya, vespa putih milik Aksara memasuki gerbang SMA Negeri 127, Bandung kemudian berhenti tepat diparkiran khusus motor. Kali ini ia tidak berangkat bersama Rigel, karena cewek itu akan menjadi petugas upacara dan diharuskan berangkat pagi, Aksara yang termasuk golongan berangkat sekolah mepet bel sih cant relate, ya.

"Mampus aing" gumam Aksara, seraya merapihkan rambutnya pada kaca spion "Gantengnyaa diri ini."

Setelah memastikan kunci motornya tercabut dari tempatnya, Aksara beranjak pergi menuju kelasnya. Berjalan dilorong sekolah dengan santai tanpa terburu-buru, padahal sebentar lagi upacara bendera akan dimulai, ditandai dengan para siswa yang mulai memenuhi lapangan utama.

Matanya menemukan sosok Rigel, terlihat lucu ketika rambut sebahunya tertiup angin hingga membuat cewek itu berdecak sebal karena tatanan rambutnya berantakan.

Aksara terkekeh untuk semetara, sampai didetik selanjutnya ia dikagetkan oleh sebuah tepukan dibahunya.

"Ngapain kamu disini?"

"Bapak sendiri ngapain disini?"

"Oalah, kenapa malah nanya balik, cepat kelapangan!" ujar pak Rosidi yang kerap kali dipanggil pak Ros, karena guru bk tersebut galaknya sebelas duabelas mirip kak Ros nya upinipin, ceunah.

Aksara pun berlari menuju lapangan tanpa sempat menaruh tasnya terlebih dahulu, bisa gawat kalau pak Ros sudah melayangkan tatapan galak ala meong garong.

...

Disudut kantin pada meja nomor 11, Aksara dan Rigel duduk disana. Terletak pada meja satu kotak bekal berisi sandwich buatan Rigel dan dua kotak susu indomilk dengan rasa berbeda.

"Gimana rasanya?" tanya Rigel antusias, sesaat setelah Aksara mengigit sandwichnya.

"Rasanya, anjiiing banget"

"Ish, ngelunjak ya!" Rigel memandang datar Aksara.

"Becanda sayangku, becanda. Enak kok, aku sampe terharu kamu bisa bikin sandwich seenak ini, hiks" ujar Aksara mendramatisir.

"Lebaaaay" tak dipungkiri, pujian kelewat lebay dari Aksara nyatanya mampu membuat Rigel tersenyum senang. Aksara pun refleks ikut tersenyum dan mengusak puncak kepala Rigel gemas.

"Sweetheart buku mulut, pesawat mau masuk. Aaaa~" Aksara mengarahkan potongan sandwichnya pada mulut Rigel, seperti halnya seorang ibu menyuapi anaknya.

Membuat Rigel terkekeh disela gigitanya, bukan hanya menyuapinya ala anak kecil, cowok itu pun memperhatikan tiap gigitanya dan memastikan tidak ada mayonais yang menempel disisi mulut, dan akan dengan rela menjadikan jempolnya sebagai tissu saat dirasa ada yang belepotan. Diselingi tawa renyah keduanya, kini kantin serasa milik Aksara dan Rigel, yang lain hanya ngontrak sebulan 500 ribu.
.
.
.
.
.

"Haii kak, boleh minta nomor hp nya?"

Rigel seketika mendongak, ia sedang menunggu Aksara yang tengah mengambil vespanya diparkiran, kemudian seorang cowok yang sepertinya kelas 10 ini tiba-tiba mengarahkan ponselnya pada Rigel.

"Hah?" tanya Rigel, masih sedikit bingung akan maksud cowok tersebut.

"Boleh minta nomornya ngga, kak?"

"Sorry, tapi nomor hp termasuk privasi dan aku nggak mau kasih kesembarang orang" jawab Rigel, ia sebenarnya agak merasa risih.

"O-oke, maaf kalau gitu. Tapi aku ada coklat, boleh diterima ya, kak" cowok itu tersenyum kaku, seraya menyerahkan setoples coklat berpita pink.

"Oh iya, thank you yaa"

Rigel mengambil toples tersebut, bukan apa-apa, ia hanya lebih ingin menghargai pemberian orang lain saja.

Cowok itu pergi keseberang jalan, bertepatan dengan Aksara dan vespa putihnya yang berhenti tepat dihadapan Rigel.

"Cieee, dapet apa tuch" ujar Aksara, matanya menatap toples coklat ditangan Rigel.

"Ya gimana yaa, penggemarku kan dimana mana"

"Iyain aja deh, biar seneng kamunya" balas Aksara, beberapa saat kemudian membuat senyum Rigel merekah.

"Yaudah buruan naik, ntar keburu ujan"

Sebelum itu, tidak lupa Aksara memasangkan sebuah helm untuk Rigel. Helm dengan tulisan 'motor putih jangan sampai lolos, ciat' yang pada awalnya Rigel enggan untuk memakainya, malu katanya.

"Udah siap?" mesin motor sudah dinyalakan, untuk menjamin Rigel aman dalam perjalanan, Aksara meletakkan kedua tangan Rigel pada pinggangnya, yang lalu disambut peluk erat oleh cewek itu.

"Siap dong" balas Rigel.

"Oh iyaa, nanti mampir bubur kacang kang Ntis dulu yaa, Ibuku nitip" ujar Rigel lalu dibalas anggukan oleh Aksara.

Dan dibawah langit sore kota Bandung, sesekali mereka tertawa renyah, mentertawakan apa saja yang menurut mereka lucu. Hawa yang semakin dingin diiringi langit yang mulai mendung pun membuat Rigel semakin erat memeluk Aksara, ini bukan pertama kalinya bagi Aksara untuk merasakan lengan Rigel yang melingkari pinggangnya. Namun rasa yang berdebar didadanya tetap sama seperti saat itu, saat dimana pertama kalinya Rigel memeluk erat Aksara diatas motor dan dibawah hujan yang membasahi mereka. Kala itu bukan dingin yang mereka rasakan, tetapi debaran hangat yang menjalar seiring pelukan itu semakin mengerat.

--tbc

...

💌

Aksara Rigel - Haechan ft. Ryujin [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang