10 : Katakan Bahwa Cinta Kita Cukup

770 165 21
                                        

[ 🎶 jarryd james - 1000x ]                         

...

Malam itu, ketika hujan datang dengan derasnya. Aksara, ditengah ruang temaram yang lampunya sengaja dimatikan, sesekali menatap ponselnya untuk melihat waktu yang kala itu menunjukkan angka 12 malam.

Cowok itu bersandar pada tumpukan bantal seraya membuka riwayat pesannya dengan Rigel. Ia tersenyum sekilas ketika melihat pesan-pesan terdahulu dari Rigel, rasanya ia sangat merindukan sosok bintangnya itu.

Aksara menempelkan ponselnya ke telinga, setelah tadi memutuskan untuk menelpon Rigel. Sejujurnya ia tidak terlalu berharap agar cewek itu menerima panggilan telponnya, mengingat waktu yang kini telah menunjukkan tengah malam.

Sampai akhirnya lekungan tipis itu tercipta begitu panggilannya berhasil tersambung.

"Rii?" sapanya terlebih dahulu pada Rigel yang masih bungkam.

"Hmm?"

"Aku kira kamu udah tidur..."

Hening, Rigel tak langsung menjawab.

"Ya emang, aku kebangunan gara-gara kamu nelfon. Ngapain sih nelfon tengah malam begini?" omel Rigel.

Aksara terkikik geli "Aku tiba-tiba kangen kamu"

"Ya tapi nggak jam 12 juga dong, besok pagi kan kita ketemu" ucap Rigel dengan suara seraknya.

Aksara terkekeh pelan sembari bangkit dari posisi bersandarnya "Rii, kita ngobrol yuk"

"Ngobrol apa sih, hmm? Aku ngantuk banget, Aksara"

"Yaudah, kalau aku nyanyiin mau?"

"Hm, boleh" jawabnya dari seberang sana.

Aksara kemudian berjalan menuju pojok kamarnya, dimana sebuah gitar berwarna kuning kecoklatan miliknya tergantung apik pada tembok.

Ditaruhnya ponsel yang masih tersambung dengan Rigel itu pada nakas samping kasur. Setelahnya ia duduk dipinggiran kasur dengan jari jemari yang mulai memetik senar gitar.

Disana, Rigel dalam gelungan selimutnya mendengarkan dengan seksama setiap petikan gitar yang Aksara mainkan. Disusul dengan lirik demi lirik yang terlantun dari bibir ranum kekasihnya itu.

Lambat laun, mata secerah bintang itu mulai meredup dan memberat. Seiring dengan Aksara yang masih menghayati perannya sebagai penyanyi untuk Rigel.

Sampai pada petikan gitar terakhir, Aksara menyudahi permainannya dan mengambil ponselnya untuk kembali ditempelkan pada telingannya.

"Sayang, udah bobo kah?" tanyanya, namun hening tak ada sahutan.

"Rii.. " ucapnya lagi untuk memastikan, dan tetap tak ada sahutan.

Aksara tersenyum tipis, mengambil kesimpulan bahwa kekasihnya itu pasti sudah terlelap dijemput oleh sang mimpi.

Hening untuk beberapa saat hanya untuk mendengarkan hembusan nafas teratur dari Rigel, Aksara kemudian menatap lurus pada tembok yang menampilkan siluetnya.

Cowok itu menghela nafas.

"Rii, kamu masih sayang aku kan?" tanyanya pelan, walaupun ia tahu Rigel tak akan mendengar atau menjawabnya.

Ia kemudian terkekeh ditengah suasana temaram itu "Selamat tidur. Semoga mimpi indah, sayang"

Dengan begitu, Aksara memutus sambungan telepon mereka. Lalu membiarkan dirinya kembali bergabung dengan kegelapan.

...

Bagi Aksara, Rigel adalah salah satu mahakarya tuhan paling indah.

Dimulai dari rambut yang berkilau indah, dahi sempit yang tidak terlalu lebar, tulang pipi dan garis rahang yang tegas. Begitu pun dengan bentuk hidung yang mancung dan bulat pada bagian ujungnya. Kemudian turun pada bagian bawah hidung yang sama indahnya, garis bibir sempurna berwarna pink tidak terlalu merah, benar-benar komposisi yang sempurna.

Mungkin jika dijelaskan, Aksara butuh lebih dari 24 jam untuk membicarakan betapa indahnya sosok Rigel.

Bahkan dalam keadaan apapun, Rigel akan tetap terlihat sempurna dimata Aksara. Seperti saat ini, ketika cewek itu tengah menyantap semangkuk bubur ayam dihadapannya, cara makannya pun menjadi hal paling favorit bagi Aksara untuk dilihat.

"Kenapa? Di gigi aku ada seledri nyangkut?" tanya Rigel, menyadari Aksara yang sedari tadi memperhatikannya tanpa berkutik.

Aksara menggeleng "Bahkan seledri pun terlalu tau diri untuk bisa nyangkut di gigi kamu" ucapnya tanpa mengalihkan pandangnya sedikit pun.

"Huh?" Rigel gagal paham, namun ia tidak ingin terlalu memikirkan. Lantas kembali menyantap buburnya dengan khidmat.

"Kamu sayang nggak sama aku, Rii?" tanyanya tiba-tiba.

"Kamu kenapa deh pagi ini? Salah makan?"

Aksara tersenyum penuh arti "Aku sayang kamu"

Jemari lentik Rigel menggenggam gelas berisi teh hangat yang kemudian ia tenggak, cewek itu tak langsung menjawab perkataan Aksara.

"Udah tau" tandas Rigel.

"Rii"

"Hm?"

"Sekiranya kamu nemuin seseorang yang lebih baik dari aku, bilang yaa?" ucapan itu keluar begitu saja dari bibir Aksara, sontak membuat Rigel mematung ditempatnya.

"Kenapa?"

"Biar aku tau, apakah aku pantas bertahan atau lebih baik pergi" lanjutnya.

Rigel menggeleng "Kamu kayanya beneran salah makan deh"

"Udah yuk, nanti kita kesiangan" Rigel lantas bangkit dari kursinya, kemudian berjalan kedepan menemui si penjual bubur yang tengah mencuci berapa mangkuk.

Sementara dibelakang, Aksara diam-diam tersenyum kecut. Dirinya benar kan? Jika memang Rigel menemukan seseorang yang lebih baik darinya, maka Rigel berhak untuk memilih.

--tbc

...

💌

Aksara Rigel - Haechan ft. Ryujin [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang