27th - ( Regret )

142 30 10
                                        

Kini mereka semua ada di rumah Yura, Bobby terus menenangkan Yura yang masih menangis seraya memeluk kedua lututnya.

"Yura-ya tenanglah. Aku ada disini. Eoh." ucap Bobby dengan lembut.

Krystal memandang Yura dengan sendu di samping Jiyeon yang turut merasa simpati pada Yura.

"Aku melihat diriku 5 tahun yang lalu. Rapuh dan mudah hancur bahkan saat angin menerpa. Sosok menyedihkan yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dan hanya mengharap uluran tangan yang lain." batin Krystal memandang Yura dengan pilu. Ada rasa sesak dan nyeri yang kembali menyerang dada Krystal.

"Aku.. Hiks.. Benar-benar hiks.. Tidak ingin mengalami hiks ini hiks semua oppa.." lirih Yura mempererat pelukannya pada Bobby.

"Tenanglah Yura-ya, semua sudah berakhir." ujar Bobby mencoba menenangkan kekasihnya. Bobby menyandarkan dagunya diatas puncak kepala Yura.

Tampak Bora dan Jiyeon memandang Yura dengan simpati melihat rambut panjangnya kini sudah tidak jelas keadaannya. Sementara Krystal memandang Yura dengan intens seraya bersandar di sebuah almari kayu.

Krystal mendekati Yura secara perlahan, lalu menepuk pundak Bobby dengan penuh makna. Mengerti dengan maksud Krystal, Bobby langsung melepaskan pelukannya pada sang kekasih.

"Kau boleh menangis setelah semua yang telah kau alami Han Yura. Tapi setelah kau selesai, kau harus menguatkan hatimu agar kembali bisa menata kehidupanmu. Ingatlah bahwa kau tidak sendiri. Ada Bobby dan yang lain juga." ujar Krystal dengan lembut seraya mengusap rambut Yura dengan tulus.

Yura langsung melepaskan pelukan Bobby dan menatap Krystal dengan sendu.

" Mianhae Soo Jung-ah. Aku benar-benar minta maaf. " ucap Yura dengan lemah. Samar Krystal tersenyum lalu mengusap airmata Yura.

"Gwaenchana. Mian aku tidak bisa menemanimu lebih lama. Aku harus pulang." ujar Krystal yang sontak membuat Hanbin terdiam.

"Gomawo Soo Jung-ah." ucap Bobby pada Krystal yang hanya dibalas anggukan. Setelah berpamitan dengan yang lain kecuali Hanbin, Krystal langsung bergegas pergi. Namun belum sampai memegang gagang pintu kamar Yura, Hanbin langsung menggenggam pergelangan tangan Krystal yang sontak membuat Krystal memandangnya tajam.

"Aku akan mengantarkanmu pulang." ucap Hanbin pelan namun terdengar penuh dengan penekanan. Jiwon yang memandang dari jauh terlihat bingung dengan sikap Hanbin. Dari ujung mata Krystal dapat dia lihat ekspresi Jiwon yang meredup.

"Dwaesseo. Sehun sudah menjemputku." ujar Krystal pelan namun terdengar dingin ditelinga Hanbin seraya menepis tangan Hanbin.

"Aku bilang aku akan mengantarmu pulang." ucap Hanbin tajam seraya kembali menarik pergelangan tangan Krystal. Jinhwan yang melihat situasi diantara keduanya mulai memanas langsung mendekati keduanya untuk menengahi.

"Kim Hanbin geumanhae. Soo Jung bilang dia sudah dijemput Sehun." ujar Jinhwan pelan seraya menepuk pundak Hanbin.

"Aku tidak peduli. Aku tahu itu hanya alasannya saja." ujar Hanbin dengan tajam masih memandang tepat di kedua manik Krystal.

"Dwa!!!" ucap Krystal tajam seraya membalas tatapan tajam Hanbin.

"Ya!! Kim Hanbin jangan membuat keributan." teriak Jiyeon dengan kesal namun Hanbin sama sekali tidak mempedulikannya.

"Kita harus bicara empat mata Jung Soo Jung!" ucap Hanbin penuh penekanan seraya menarik tangan Krystal kian erat. Krystal berdecih lalu mendekatkan wajahnya pada Hanbin.

"Keundae, aku sama sekali tidak berniat untuk berbicara empat mata denganmu." ucap Krystal tak kalah dingin pada Hanbin. Krystal menepis tangan Hanbin saat genggaman namja itu mulai melonggar.

Bad IceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang