SEGERA TERBIT
Bagi Brian Canavaro Warren, Leander Marcelino adalah saudara paling sempurna yang Tuhan berikan untuknya meski mereka tak dilahirkan dari rahim yang sama.
Achel panggilannya, penderita autism spectrum disorder (ASD) yang dianggap sebag...
Brian merunduk, mendekatkan bibirnya ke sisi wajah yang masih nampak terlelap dalam tidur. Tangannya terangkat, mengusap dengan perlahan—menyingkirkan—anak-anak rambut yang menutupi kening adiknya.
Tak ada reaksi sama sekali, namun Brian kembali mengulangi panggilannya, "Achel ... ini Byan, Byan udah pulang," bisiknya.
Marcel belum juga bangun, tapi Brian melihat jika alis tegas itu bergerak kecil; merespon suaranya. "Achel, ini Byan. Byan udah pulang." Lagi, dicobanya sekali lagi, namun kali ini dengan sedikit mengguncangkan bahunya. Dan sepertinya itu berhasil.
Perlahan kedua kelopak berbulu mata lentik itupun terbuka. Mengerjap beberapa kali dengan tatapan teduh nan sendunya. Pernik gelap sekelam malam tersebut nampak bergulir ke arah suara yang memanggilkan namanya, dan mendapati kehadiran sesosok pria muda berkulit putih pucat yang kini tersenyum lembut padanya.
"Hai, Achel. Kangen Byan gak?" sambut Brian. Bibirnya dipaksakan untuk tersenyum, meski sebenarnya rasanya amat sulit untuk dilakukan.
Namun Marcel justru beringsut bangun, merangkak ke sudut kamar, memojokkan dirinya ke dinding sembari memeluk lutut dan tubuhnya. Ia seolah berupaya membuat proteksi akan bahaya yang mengancam dirinya saat ini.
Ekspresinya jelas ketakutan, tatapannya yang menyiratkan kesedihan. Tubuh itupun terlihat gemetar hebat dengan separuh wajah ia sembunyikan di balik lutut. Dan semakin jelas jika ia mulai tremor dengan liquid bening terlihat perlahan mengalir dari kedua pernik sendunya.
"Loh, kok Achel malah ke pojok?" Brian ikut naik ke kasur lalu mengulurkan tangannya, berusaha menyentuh si adik yang kini mulai menangis dengan suara cicitan kecil bak tikus terjerat.
Plak!
Pun tanpa diduga uluran tangan itu malah ditepis oleh Marcel. Gesit, tangannya mengambil sebuah boneka kumal, lalu menyembunyikan wajah di baliknya dengan suara tangis yang semakin terdengar menjelas.
"Achel, ini Byan ... Achel masih inget 'kan?"
Brian menepuk-nepuk pelan dadanya, berusaha meyakinkan pada si adik akan siapa dirinya. Tapi Marcel semakin menangis tersedu di sudut kasur, menghadap dinding dengan kepala menggeleng ribut. Rasanya hati Brian amat pilu dengan apa yang dipandanginya kini, ia pun hanya bisa terdiam dan menatap sedih serta miris.
Andai waktu bisa diputar kembali, Brian tentu takkan memilih pergi ke luar negeri dan meninggalkan Marcel, jikalau saja ia tahu akan menjadi seperti ini.
Hatinya sakit, setetes air mata pun ikut turun menelusuri pipi walau detik berikutnya segera ia hapus, dan berganti seulas senyum yang dipaksakan. Ditariknya napas panjang sebelum Brian kembali mengeluarkan suaranya, menyanyikan sebait lagu yang selalu mereka dengarkan dari mendiang ibunda sewaktu kecil.
"Ku pandang langit, penuh bintang bertaburan."
Suaranya terdengar pelan namun amat merdu, tatapannya lembut memandang sendu pada sosok yang masih menangis itu.
Marcel perlahan mengangkat kepalanya, memperlihatkan separuh wajah dengan netra yang mengintip keluar, melihat sosok dewasa yang bernyanyi untuknya.
"Nampak sebuah lebih terang cahayanya. Itulah bintangku, bintang kejora yang indah selalu," lanjut Brian pada lirik terakhir dari lagu tersebut.
Begitupun dengan lagu berjudul Ambilkan Bulan yang kini mulai Brian nyanyikan dengan perlahan, berhasil membuat remaja itu kini mulai terlihat tenang.
"Ambilkan bulan, Bu. Ambilkan bulan, Bu. Yang slalu bersinar di langit."
Nyanyi Brian lagi, namun kali ini dengan tangan terangkat, terbuka seolah menunggu datangnya sebuah pelukan dari yang lebih muda.
"Di langit, bulan benderang. Cahayanya sampai ke bintang."
Perlahan Brian lihat Marcel mulai tertarik untuk mendekatkan diri, suara tangisnya mulai terhenti dan ia beringsut merangkak ke arah kakaknya.
"Ambilkan bulan, bu. Untuk menerangi tidurku yang lelap di malam gelap." Selesailah lagu tersebut. Dan tidak sia-sia usaha Brian. Buru-buru Marcel—menghambur—memeluk Brian erat, sebelum kembali menangis di bahunya dengan tersedu-sedu.
"Yan ... Yan ...," terbata-bata dalam tangis. Sekali lagi Marcel memanggil,"By-Yan."
"Iya ini Byan. Byan udah pulang ke rumah," jawab yang tua pelan. Ia mengusap rambut adiknya pelan, merengkuh tubuh kecil itu erat sebelum ikut meringis pilu dalam pelukannya.
"A-Ach-Achel ... cak-cakit, Yan ... hiks ... cakit ...."
Lolos sudah air mata yang sejak tadi ditahan Brian. Perlahan liquid bening itu mulai menganak sungai, mengalir deras di pipi dengan pelukan hangat nan erat pada tubuh ringkih yang kini memeluknya.
'Tuhan, ampunilah aku yang sudah meninggalkan adikku hingga seperti ini.'[]
Byan
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Achel
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.