20. Istimewa

836 158 11
                                        

Sana terlihat keluar dari kamar Daehan dan menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari seseorang. Secara kebetulan sorot matanya menemukan siluet seorang wanita dari balik tirai balkon rumah, dan Sana langsung berjalan membuka pintu balkon untuk menemui sosok yang dicarinya.

"Sore tante" sapanya.

Ya, yang ia cari adalah tante Jeon, alias tantenya Daehan dan Wonwoo. Wanita super tangguh yang sangat ditakuti oleh kedua keponakannya. Tapi bagi Sana, dalam sisi diri wanita itu terdapat segala kekaguman yang Sana panjatkan kepada wanita tersebut.

"Oh, sore Sana, ada apa?" Tanya tante Jeon yang sedang menikmati teh hangat seraya duduk-duduk santai menikmati pemandangan matahari terbenam diufuk sana. Sanapun tersenyum dan mengutarakan tujuannya.

"Begini tante, tadi Daehan nangis karena tante pasangin kabel pengikat disemua alat menggambarnya. Jadi, saya boleh minta izin buat gunting semua kabelnya tante?" Tanya Sana dengan hati-hati dan sopan.

"Astaga bocah itu. Begini ya Sana, dia itu harus belajar untuk ujiannya sebentar lagi, saya begini karena saya sayang sama dia, saya gak mau papanya ngomelin dia sampai pagi hanya karena nilai jeleknya itu. Jadi, biarkan saja dia menangis, ini namanya proses!" Tante Jeon menjawab semua itu dengan mantap, membuat Sana mengangguk paham akan alasan tersebut.

Namun begitu Sana membungkuk hendak masuk kedalam rumah, tiba-tiba pintu gerbang rumah terbuka dan menampakan mobil hitam yang sepertinya sudah lama tidak dicuci badan mobilnya, masuk kedalam perkarangan rumah. Senyuman tante Jeon pun merekah.

"Sana" panggilnya

"Iya tante?"

"Itu Wonwoo pulang, kamu bikinin dia teh hangat ya? Biar saya saja yang ngomong sama Daehan. Bocah itu memang harus diberi pengertian supaya gak cengeng!" Tante Jeon berlalu melewati Sana dan masuk kedalam kamar Daehan tanpa perlu mendapat persetujuan dari Sananya sendiri.

Alhasil, gadis berambut panjang yang dikuncir seperti ekor kuda itupun langsung berjalan menuju lantai bawah untuk melakukan perintah tante Jeon kepadanya tadi, yaitu membuatkan teh untuk Wonwoo.

Sebulan lebih ia melakukan banyak aktivitas dirumah ini, sepertinya tambah lama rumah keluarga Jeon makin terasa seperti rumahnya sendiri. Lihatlah sekarang Sana sudah sangat hafal dimana letak gelas, bubuk teh dan... dimana tempat gula?

Gadis itu membuka tiap-tiap laci yang ada, hingga kabinet-kabinet yang terpasang diatas kepalanya, tapi ia tak kunjung menemukan letak gula. Bahkan ketika melihat kedalam kulkaspun, ia tidak melihat kotak untuk gula. Jangankan gula, temannya si gula alias garampun tidak terlihat.

"Mau bikin apa?"

Suara berat itu membuat Sana menoleh kesamping dan melihat Wonwoo tengah berdiri disebelahnya seraya menenteng jas dokter ditangan kanannya. "Teh manis" jawab Sana yang dijawab dengan anggukan kepala Wonwoo.

"Mau cari gula, tapi gak ketemu" lanjut Sana lagi.

"Disini"

Wonwoo membuka kabinet diatas kepala Sana, membuat Sana sedikit merapatkan tubuhnya pada meja dapur karena tubuh Wonwoo nyaris menghimpitnya saat ini. Syukurlah tak lama kemudia pria itu mendapatkan apa yang Sana cari sedari tadi, dan meletakkannya diatas meja dihadapan mereka.

"Ini kan yang lo cari?" Tanya Wonwoo

"I-iya... makasih"

Wonwoo mengangguk dan memperhatikan wajah Sana yang tengah membuat teh dihadapannya. Meskipun dari samping, tapi figur gadis itu tak pernah gagal membuat jantungnya berdebar. Apalagi Sana mengikat rambutnya keatas, membuat Wonwoo bisa melihat detail wajah gadis itu dengan jelas.

TRAUMATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang