9. Wrangle

1K 33 0
                                        

Maaf ya, telat update. Sebenarnya semalem udah update tapi ternyata ceritanya keliru ke delete pas mau edit ulang. Yaudah alhasil akhirnya aku nulis ulang dari jam tiga tadi pagi.

Senna POV

Aku langsung membuka pintu mobil setelah ia menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Dia sama sekali tidak menahanku saat keluar dari mobil tadi. Sepertinya perkataanku membuatnya sangat marah. Dia segera melajukan mobilnya dengan kencang setelah aku keluar. Aku hanya bisa melihat mobilnya dari belakang. mobil itu semakin jauh, dan menghilang dari pandanganku.

Memang baru kali ini aku berbicara kasar padanya. Dan ini juga pertama kalinya kita bertengkar. Tapi sudahlah, aku tidak merasa menyesal sama sekali. Biarlah kita sama - sama mengungkapkan perasaan kami masing - masing. Biarkan begini sampai perjanjian kita itu berakhir.

Flashback

Saat itu masih pagi sekali. Dan juga sangat sepi, mungkin karna ini masih pagi jadi banyak yg belum datang. Aku juga tak tahu mengapa aku berangkat sepagi itu. Yang aku ingat hanya saat aku keluar dari mobil, dia sudah menarik tangganku. Menarikku melewati lorong - lorong sekolah. Dan berakhir di perpustakaan. Dia mengajakku kesana.

"Aku tahu selama ini kau tersiksa hidup bersamaku. Kau tak pernah bahagia hidup bersama kami, apalagi sejak ayahmu meninggal dan kau tinggal bersamaku. Karna kami berdua tidak saling mencintai, oleh karna itu aku ingin kita membuat perjanjian" meskipun itu terjadi setahun lalu, aku masih dapat mengingat dengan jelas kata - kata yang diungkapkannya kepadaku.

"Apa itu?"

"Perceraian"

"Apa? Tapi bukankah keluarga kita menginginkan keturunan dari kita"

"Kau fikir mau sampai kapan kau menuruti wasiat ayahmu. Sampai kapan kau akan terus sedih begini. Keturunan? Kita tak saling mencintai. Tak ada keluarga yang tidak saling mencintai seperti kita"

"Iya aku mengerti. Kita akan bercerai sampai salah satu dari kita menginginkannya nanti. Sampai kita dewasa dan dapat menentang kehendak kedua orang tua kita nanti" awalnya aku ingin mengatakan kalau cinta dapat tumbuh dari kebiasaan, seiring dengan berjalannya waktu. Itu dulu yang ibu katakan. Tapi aku rasa kita tak bisa begitu. Kita takkan pernah bisa saling mencintai. Perkataan kak arsen saat itu membuatku berfikir yang tidak - tidak soal kedekatannya dengan brianna.

"Baguslah jika kau mengerti"

End Flashback

Aku menatap jalanan yang sama sekali tidak ada taxi yang lewat, hanya ada mobil - mobil pribadi yang berlalu lalang dengan kecepatan tinggi.

2 Hours Later

Sudah dua jam aku menunggu, tapi tak satupun ada kendaraan umum yang lewat. Cuaca semakin mendung, bahkan kini telah gerimis. Untung kini aku berlindung di bawah naungan pohon, jadi aku tidak terkena air hujan.

Akhirnya aku memutuskan untuk menelfon evelyn, aku rasa rumah ev tak jauh dari sini. Aku harap dia tidak sedang sibuk.

S: hallo ev. aku berada tak jauh dari rumahmu, tak bisakah kau menyusulku.

E: maaf sekali senn aku sedang tak dirumah sekarang.

S: yahh, yasudah tak apa. Maaf menggangumu ev.

E: iya. Dah

Aku memutuskan telephone setelah mendengar ucapan terakhir ev. Aku tak mungkin menolfon dave dan johanes saat ini. Dave sedang mengikuti seminar di luar kota. Sedangkan johanes, setiap hari minggu biasanya dia les piano. Sopir pribadiku sedang sakit hari ini. Tadi saja sampai kak arsenna sendiri yang menyetir mobil.

Inside Your Hug (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang