"Kalau kamu ada waktu, aku mau mengajak makan siang bareng."
Pesan itu masuk ke ponselku pagi ini. Butuh waktu lama untuk memutuskan. Walaupun kisah percintaanku tidak begitu banyak, aku bisa menangkap maksud di balik ajakan ini. First date.
Aku hanya punya pengalaman first date satu kali saja. Itu pun saat masih SMA. David mengajakku makan es krim sepulang sekolah. Dia mencegatku di tengah koridor yang ramai sehingga semua yang ada di sana bisa mendengar ajakannya. Aku menjadi pusat perhatian saat itu. Banyak yang memanas-manasiku untuk menerima ajakannya. Akhirnya, aku menerima ajakan itu.
David menungguku di gerbang sekolah sepulang sekolah. Sesi makan es krim itu berjalan lancar. David cukup menyenangkan, meskipun aku hanya menjawab apa yang ditanyakannya tanpa bertanya sebaliknya.
Sebagai murid yang baru masuk SMA selama tiga bulan, didekati oleh kakak kelas jelas bukan hal yang mudah. Apalagi kalau kakak kelasnya adalah idola satu sekolah. Setelah kencan pertama itu, David jadi sering mendekatiku. Dia selalu menemuiku di kelas setiap jam istirahat, dan menungguku untuk pulang bareng.
Akibatnya, aku jadi bulan-bulanan kakak kelas yang tidak rela David kepincut anak kelas satu sepertiku.
Setelah dewasa, aku tidak pernah lagi merasakan deg-degan menjelang kencan pertama. Aku tidak pernah kelimpungan memikirkan harus pakai baju apa atau harus bicara apa dengan orang yang baru kukenal. Bagiku, hal itu terasa sangat asing. Mengingat seluruh kisah percintaanku hanya diisi oleh David yang sudah sangat kukenal.
Sekarang, Rayhan menunggu jawaban dariku.
Bisa saja aku menolaknya, tapi setelah ini aku harus berurusan dengan Mama. Cepat atau lambat, penolakan ini akan sampai ke telinganya. Jujur saja, aku malas kalau harus mendengarkan repetan Mama.
Di sisi lain, ada rasa penasaran yang muncul di hatiku. Ajakan ini cukup menyita perhatianku. Mungkin bukan karena Rayhan. It's because of the idea of having the first date itself.
Aku sudah melewatkan banyak hal, termasuk pengalaman kencan pertama.
Then, I said yes.
Now, here I am. Menarik napas panjang sebelum melangkah memasuki restoran Jepang di Pacific Place. I know this is not a proper place for a first date. Kurang lebih sama dengan kedai es krim yang kudatangi bersama David belasan tahun lalu.
I just want something casual.
Rayhan melambaikan tangannya begitu melihat sosokku. Aku tidak berniat membuatnya menunggu, tapi aku memang harus mengejar waktu setelah urusanku dengan David selesai. Kasus Calista akhirnya diselesaikan dengan damai tapi David tetap saja memperpanjang masalah sampai-sampai menyita waktuku.
Dan dia bertanya soal Ruly. Aku meninggalkan pertanyaannya tanpa jawaban. Terserah dia menyimpulkan seperti apa, aku tidak punya kewajiban apa-apa untuk menjelaskan kepadanya.
"Sorry, ya, telat." Aku menarik kursi di seberang Rayhan.
Rayhan tersenyum. Dia mempersilakanku memesan makan siang. Rupanya dia menungguku dan memesan menu yang sama denganku.
Apa ini hal yang wajar untuk kencan pertama?
Just take it casually, Tyra!
"Enggak buru-buru harus balik ke kantor, kan?"
Aku menggeleng. "It's okay kalau harus molor. Anggap aja habis ketemu klien."
"But I'm not your client."
Aku tertawa kecil menanggapi guyonan Rayhan.
Berusaha untuk tidak kentara, aku meneliti sosoknya. Ini kali pertama aku melakukannya, mengingat saat makan siang kemarin aku lebih sering diam dan mendengarkan Mama mempromosikanku kepada Rayhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner with Benefit
RomanceExpectation: hot shot lawyer with winning rate 100%, happily married, before 30 Reality: average winning rate and recently divorce before 30 Hidup Tyra Karina tidak berjalan sesuai dengan impiannya. Pernikahannya kandas di usia 3 tahun. Sialnya, man...
