Aku memijit kening sambil menyandarkan tubuhku ke dinding. Sebentar lagi, salah satu persidangan paling penting dalam hidupku akan dimulai. Namun detik ini aku harus menghadapi penghakiman dari ibuku sendiri. Walaupun hanya lewat sambungan telepon, rasanya aku bisa melihat Mama berdiri di depanku sambil berkacak pinggang dan menatapku dengan ekspresi yang menunjukkan betapa mengecewakannya diriku sebagai seorang anak.
"Ma, aku sudah coba, tapi aku dan Rayhan enggak cocok. Kenapa harus dipaksain?" Aku menghela napas lelah. Bagaimana lagi cara menyadarkan Mama kalau aku dan Rayhan tidak mungkin bersama?
Awalnya Mama hanya menanyakan soal kelanjutan hubunganku dengan Rayhan. Aku tidak mungkin memberitahu Mama bahwa selama beberapa hari terakhir ini aku kembali mengabaikan Rayhan. Tepatnya setelah makan siang yang berakhir disaster itu. Aku hanya memberitahu Mama soal keputusanku untuk mengakhiri hubungan dengan Rayhan, apa pun jenis hubungan itu.
"Aku ketemu ibunya, dan aku enggak kebayang aja punya mertua kayak beliau." Aku bergidik ngeri saat teringat kembali pertemuanku dengan Ibu Rayhan tempo hari. "Belum apa-apa, sudah nyuruh aku enggak usah kerja aja kalau nanti nikah sama Rayhan."
"Apa salahnya?"
Mataku membola. Apa aku tidak salah dengar?
"Ya jelas salah, dong, Ma. Ini hidupku."
"Sekadar memberi saran enggak ada salahnya, kan?"
Aku menggeleng pasrah. "Kalau Mama dengar, itu bukan cuma sekadar saran."
"Mungkin perlu kamu pertimbangkan. Dari dulu juga Mama sudah pernah bilang sama kamu. Kalau saja kamu enggak terlalu egois dan ambisius, mungkin David..."
"Ma, udah, ya. Masa bahas hal ini lagi?" potongku. Sudah jelas ke arah mana tujuan pembicaraan Mama. Dari sudut mata, aku melihat Ruly memberikan kode dengan menunjuk jam tangannya, pertanda persidangan sebentar lagi dimulai. Aku menarik napas lega saat memiliki alasan untuk mengakhiri pembicaraan ini. "Ma, sidangnya sudah mau mulai. Nanti aku telepon lagi."
"Kamu pikirin lagi, ya, Ra. Rayhan itu baik kok."
"Iya, dia memang baik. Tapi aku enggak bisa suka sama dia. Kita beda banget, Ma. Pola pikir kita aja enggak pernah bisa sama," sahutku.
"Beda sedikit enggak masalah, kan?"
Aku melangkah mendekati pintu masuk ruang sidang. Persidangan itu terbuka untuk umum, dan ada banyak wartawan di sana. Mengingat jadwal hari ini adalah pembacaan keputusan hakim, tidak heran jika banyak media yang meliput persidangan ini. Beberapa sudah siap dengan ponsel dan catatan, siap memberitakan hasil sidang siang ini.
"Perbedaan yang paling prinsipil, jadi percuma juga dipertahanin. Aku akan bilang ke Rayhan."
"Ra..."
"Ma, aku enggak menutup diri. Namun kenyataannya aku dan Rayhan memang enggak cocok. Kalau aku ketemu laki-laki yang cocok, aku akan kenalin ke Mama." Aku berkata pelan.
"Terserah kamu."
Keputusan final dari Mama. Untuk sementara aku anggap itu sebagai lampu hijau untuk menyudahi hubunganku dengan Rayhan.
Aku menyimpan ponsel ke dalam tas dan mendekati Ruly. Dia tampak tenang, sangat berbeda denganku. Perhatian yang sangat besar ini membuatku kembali dilanda panik. Walaupun di atas kertas banyak yang meramalkan kemenangan Calista, tapi tidak ada yang pasti sampai hakim mengetuk palu.
Persidangan itu berjalan lancar tanpa drama. Sepertinya pihak Pandu sudah kehabisan akal untuk membela diri, terlebih setelah penawaran terakhir yang diberikannya ditolak mentah-mentah oleh Calista.
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner with Benefit
RomansaExpectation: hot shot lawyer with winning rate 100%, happily married, before 30 Reality: average winning rate and recently divorce before 30 Hidup Tyra Karina tidak berjalan sesuai dengan impiannya. Pernikahannya kandas di usia 3 tahun. Sialnya, man...
