Aku mendekap tubuh Ruly dengan sangat erat, seakan kini justru aku yang takut kehilangannya. Aku tidak ingin melepasnya barang sedetik pun, karena masih ada sedikit kekhawatiran di hatiku. Begitu aku melepaskan Ruly, aku terdampar di kenyataan dan tersadar bahwa ini hanya bayanganku saja.
"Look at me, Ra." Bisikan itu terdengan sangat dekat. Pelan, tapi menuntut.
Perlahan, aku membuka mata. Senyum di wajah Ruly langsung menyambutku, menyadarkanku bahwa ini bukan sekadar bayangan. Ini nyata. Kehadiran Ruly sangat nyata. Dia ada di sini bersamaku. Di dalam pelukanku, dan dia juga mendekapku dengan sangat erat.
"That's my Tyra," bisiknya, sebelum kembali menenggelamkan wajahnya di leherku. "My beautiful Tyra."
Aku berjengit ketika merasakan ciuman Ruly yang turun ke dadaku, sementara dia masih memacu dirinya di dalam tubuhku. Napasku kian tersengal akibat desakan emosi yang menyelimutiku saat ini. Emosi yang berisi kerinduan akan kehadiran Ruly di hidupku.
Ketika Ruly menyatakan isi hatinya, aku tahu tidak ada tempat untuk melarikan diri. Pun ketika Ruly menciumku, aku tidak punya kekuatan untuk mengelak. Di hadapannya, aku kembali menyerah.
Ruly menyentakku, membuatku sontak mempererat pelukan. Namanya meluncur dari bibirku seiring dengan janjinya untuk menjemput kepuasaan itu bersama-sama.
Lenguhan singkat keluar dari bibirku ketika Ruly meraup payudaraku ke dalam cumbuannya. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku menginginkannya. Bukan hanya tubuhku saja yang merindukan cumbuannya, tapi diriku sepenuhnya. Hatiku juga merindukannya.
"Ruly..." desahku, seraya berusaha mengambil udara dengan susah payah. "I can't..."
"Sttt ..." Ruly kembali menuju bibirku dan menciumnya. Ruly melesakkan lidahnya ke dalam mulutku dan berpagut dengan lidahku, sementara dirinya semakin liar memuaskanku.
Aku membenamkan kuku ke pundaknya, sebagai upaya untuk menahan diri dari gelombang yang menyerangku saat ini. Gerakan Ruly jadi tidak terkendali, dan tubuhku kian melahapnya dengan sikap rakus yang sama.
"Ruly, I'm coming," bisikku, di sela dorongan hasrat yang kini mulai memenuhi diriku sepenuhnya. Tidak ada waktu untuk melawan karena kini diriku sudah pasrah sepenuhnya di tangan Ruly.
Dengan satu sentakan kuat, Ruly melambungkan diriku bersamaan dengan dirinya yang juga menjemput rasa puas itu di saat yang bersamaan.
Sembari menunggu getaran di tubuhku mereda, aku mendekap Ruly kian erat.
Ini bukan yang pertama, tapi rasanya sungguh berbeda. Aku merasa lebih lepas, tanpa beban. Ruly juga tidak terburu-buru, dia membimbingku dengan sangat sabar, membuatku kian terhanyut ke dalam pesona yang diberikannya.
Ruly mencium keningku lama, sampai akhirnya tubuhku berhenti bergetar dan aku bisa bernapas teratur kembali.
"I love you, my Tyra," bisiknya.
Aku hanya tersenyum. Kali ini, tidak merasa risih dengan panggilan itu. Malah, aku ingin terus mendengar Ruly memanggilku dengan sebutan itu.
**
"Rumah atau apartemen?"
Aku hanya menanggapi pertanyaan Ruly dengan dengungan singkat.
Ruly masih belum melepaskanku. Dia memerangkapku ke dalam pelukannya, dan tidak ada sedikit pun rasa keberatan di hatiku.
"Kamu pilih apa?"
Jujur saja, aku tidak tahu ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut. Namun, aku memutuskan untuk mengikutinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner with Benefit
RomanceExpectation: hot shot lawyer with winning rate 100%, happily married, before 30 Reality: average winning rate and recently divorce before 30 Hidup Tyra Karina tidak berjalan sesuai dengan impiannya. Pernikahannya kandas di usia 3 tahun. Sialnya, man...
