29. Insensitive

58.4K 5.8K 382
                                        

Lola langsung memasang wajah masam begitu berpapasan denganku di pantry. Dia mendengus dan membuang muka.

Aku sama sekali tidak ingin terlibat masalah dengannya. Namun, Lola sepertinya jelas ingin memperpanjang masalah ini. Semenjak dia mendapatiku dan Ruly di ruanganku, dia tidak pernah main ke ruanganku lagi. Dia juga tidak pernah mengajakku makan siang lagi. Kalaupun berada di meja yang sama saat makan siang, dia lebih sering menganggapku tidak ada.

Dia sangat kekanak-kanakan.

Sore ini, Lola tidak sempat mengelak. Juga tidak ada tempat untuk menghindar. Jadi, dia terpaksa menghadapiku.

Berhadapan dengan Lola membuatku serasa kembali dilempar ke masa SMA, ketika kakak kelas menggencetku hanya karena mereka tidak terima David berpacaran denganku. Aku penasaran bagaimana kabar mereka sekarang, mengingat aku tidak lagi bersama David.

Seharusnya, gontok-gontokkan karena laki-laki ini sudah ditinggalkan di masa sekolah. Apalagi ini Lola mempermasalahkan laki-laki yang tidak punya hubungan apa-apa dengannya.

"Lagi nanganin kasus apa, La?" tanyaku sekadar basa basi.

Lola mendengus. "Bukan kasus penting. Gue, kan, bukan lo."

Nada bicaranya terdengar dingin dan menusuk. "Hah? Apa maksudnya?"

Lola menatapku dengan wajah masam yang sangat tidak cocok untuk ditampakkan di wajah cantiknya itu.

Aku yakin, bukan hal sulit bagi Lola untuk menaklukkan laki-laki mana pun. Dia cantik. She also has a body to die for. Oh, don't forget about her fancy job. Laki-laki mana pun akan bertekuk lutut di hadapannya. Namun, dia malah memilih untuk berdrama soal Ruly.

"Gue enggak bisa seduce Ruly, jadi enggak dikasih kasus yang menjanjikan."

Aku menggeram, kalau tidak ingin menimbulkan keributan, mungkin aku sudah menyiramkan kopi panas ini ke wajahnya yang menampakkan senyum sinis itu. Peduli setan jika kopi ini merusak kecantikan wajahnya.

Tuduhannya sangat tidak beralasan.

"Watch your mouth." Aku berkata tegas.

Lola kembali mendengus. "Lo anak baru, tapi langsung dipercaya Ruly. Gue enggak yakin itu karena kemampuan lo. Apalagi selama ini performance lo biasa-biasa aja. Nothing special."

Aku bersedekap di hadapannya. Jika Lola berpikir aku perempuan yang bisa dikalahkan hanya lewat kata-kata tajam yang tidak beralasan itu, dia salah.

"Terus, mentang-mentang lo anak lama, lo merasa lebih capable dibanding gue? Last time I know, lo kalah tiga kali berturut-turut. Sekarang gue tanya, kenapa Bang Tobing masih percaya sama lo sementara performance lo menurun?" balasku.

Lola menggertakkan giginya. Wajahnya merah padam, jelas tidak terima dengan serangan yang kulancarkan.

"Oh gue lupa. Lo, kan, dekat sama Bang Tobing. Apa lo seduce dia buat dapat kasus itu?"

Lola meletakkan cangkir kopinya dengan keras di atas meja. Sisa-sisa kopi yang ada di sana bercipratan keluar hingga mengenaiku. Aku menunduk dan melihat noda kecokelatan membasahi blouse yang kupakai.

"Jangan asal ngomong."

"Talk to my hand," balasku. "Kalau lo memang suka sama Ruly, seharusnya lo tahu kalau dia enggak asal dalam mengambil keputusan."

Tatapan nyalang Lola tertuju kepadaku. "Maksud lo, lo lebih hebat dari gue?"

Aku mengangkat bahu. Terserah Lola menyimpulkan ucapanku seperti apa.

Partner with BenefitTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang