Rasna mengerti, rahasia yang disimpannya rapat-rapat selama ini akan berakhir pada kekacauan di dalam rumah. Tapi Rasna keliru, dia pikir, sikapnya selama ini adalah benar. Mungkin Rasna lupa, diam bukanlah kebaikan dan bertindak saat semuanya sudah...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gue kalau selingkuh dari Sarah sama lo digorok Dhipa kagak ye? Pengen mendua gue liat lo senyum, Li. —Nahastra Puradial
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah melalui drama bersih-bersih—bersama Abang-abangnya— rutin setiap minggu pagi dari sehabis sarapan hingga waktu menjelang sholat zuhur, Rasna akhirnya bisa mendudukkan diri dengan tenang di kursi teras rumah yanh biasanya almarhum Bapak duduki setiap pagi dan sore.
"Udah sholat zuhur belum, Ras?!" Suara Juna terdengar lantang dari dalam rumah.
Rasna mengangguk pelan. "Udah, Mas!" sahutnya tak kalah lantang. Dia sendiri terkekeh, bisa-bisanya Juna yang biasanya kalem sebelas-dua belas sama Nolan teriak selantang itu.
"Si Mas Juna kebanyakan gaul sama si Hasta, makanya jadi gitu," celetuk Nolan yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di hadapan Rasna.
Rasna mendongak sambil terkekeh. Ucapan Nolan ada benarnya juga. Juna kebanyakan menghabiskan waktu dengan Hasta, makanya jadi begitu. Ditambah Dhipa yang bar-barnya tidak beda jauh dari Hasta. Memang mereka bertiga—Juna, Hasta, dan Dhipa— sedekat itu. Hanya Nolan yang masih bisa mengendalikan kewarasannya jika bersama ketiga kembaran lainnya sehingga kadang Hasta mendiskriminasi dirinya jika sedang quality time berempat. Hasta bilang, "jauh-jauh lo, ini lingkungan orang yang kewarasannya udah dicabut sama Tuhan." yang lantas membuat Nolan bergidik mendengarnya.
Nolan jadi berpikir, ini Hasta pas besar jadi seperti ini karena Ibu bukannya ngasih ASI ke Hasta malah ngasih oli ya?
"Tugas apaan sih yang lo kerjain di laptop gue?" tanya Nolan dengan netra tertuju pada wajah Rasna yang memandang lurus ke arah layar laptop miliknya. Jangan lupakan tangan si bungsu yang bergerak lihai di atas keyboard membuat Nolan mengernyit risih mendengar bunyi gemericiknya.