Seperti janjinya, tepat dijam empat sore Ten menjemput Lisa di cafe biasa yang sering menjadi tempat mereka bertemu. Di kursi penumpang bersebelah dengan Ten, gadis itu menatap kagum interior mobil yang dinaikinya. Kalau bukan karena Ten, ia tidak akan pernah merasakan berkendara dengan mobil mewah.
"Ini mobilmu?"
Ten menoleh sebentar, melirik Lisa yang masih memperhatikan isi mobilnya.
"Bukan,"
"Ah, apa ini mobil sewaan?" Polos Lisa. Ten yang baru kali ini mendengar kata 'sewa' langsung terbahak sampai perutnya terasa sakit.
Oh, ayolah. Dia ini Ten Lee, anak dari salah satu pengusaha sukses Korea. Melihat Ten yang tertawa membuat Lisa sempat menciut, apa ia baru saja salah bicara?
"Ini bukan mobil sewaan, mobil ini hadiah dari orang tuaku." Terang Ten setelah ia berhenti tertawa.
Lisa memberenggut kesal, "Berarti ini mobilmu!"
Ten tetap mengelak, ia tetap mengatakan hanya meminjam mobil ini dari orang tuanya meskipun faktanya mereka membelikannya untuk pemuda itu. Menurut Lisa sama saja, tapi tidak dengan Ten. Dengan serius ia bilang itu akan menjadi miliknya kalau ia membeli dengan penghasilannya sendiri. Selama semua itu dibelikan menggunakan uang orang tuanya, maka artinya itu hanya pinjaman.
Bukanlah Lisa sudah bilang kau Ten ini keras kepala?
"Jadi kita mau kemana sekarang?" Lisa mengalihkan pembicaraan, terlalu banyak tenaga yang dibutuhkan untuk berdebat dengan pemuda tampan yang mengenakan kaos hitam itu.
"Ke hotel," ucap Ten enteng, seolah kata hotel bukan sesuatu yang patut ditakuti.
"Ya! Ada apa dengan wajahmu?" Ten terkejut mendapati Lisa yang menatapnya horor, dan jangan lupakan kedua tangannya yang menyilang di depan dada.
Pemuda itu berdecak malas, "Dasar mesum!"
"Kau yang mesum! Kenapa kau ingin membawaku ke hotel?!"
"Berisik sekali sih, ayo kita sudah sampai."
Lisa mengedarkan pandangannya keluar, bukannya Ten bilang mereka ke akan ke hotel? Tapi bangunan yang berada di luar sana lebih terlihat seperti butik dibandingkan sebuah hotel. Atau jangan-jangan ini motel? Saat itu juga kewaspadaan Lisa meningkat.
Ten berjalan mendahului Lisa, membiarkan gadis dibelakang sana menerka-nerka apa yang akan mereka lakukan disini. Ten tidak tahu kalau nyatanya Lisa sepolos itu, ia bahkan harus menarik paksa Lisa agar mau keluar dari mobilnya.
"Hai, Jen..." sapa Ten begitu bertemu dengan pemilik butik yang juga temannya.
Jennie Kim. Gadis cantik dengan wajah sempurna itu tersenyum tipis menghampiri Ten. Mereka sempat bertukar pelukan singkat dan juga kecupan ringan di pipi sebelum ia melirik sekilas tamu yang dibawa temannya itu.
"Dia gadis yang kau ceritakan semalam?" Tanya Jennie memastikan.
Ten mengangguk, menarik pelan tangan Lisa agar berdiri disampingnya. Ia mengenalkan Lisa pada Jennie, sempat berbasa-basi sebentar sebelum akhirnya Lisa dibawa Jennie ke salah satu ruangan yang berada di butik ini.
Pemuda itu mengedarkan pandangannya, menatap kagum gaun-gaun hasil karya Jennie yang menggantung disetiap sudut ruangan. Gadis cantik itu berhasil menjalani impiannya menjadi fashion designer di usia yang masih terbilang muda dan itu membuat Ten sedikit iri.
Kemarin saat Ten sampai di rumah, ia langsung menghubungi Jennie. Menceritakan rencananya sekaligus meminta bantuan pada temannya itu, awalnya ia tidak yakin Jennie mau membantunya tapi nyatanya tanpa pikir panjang gadis itu langsung menyanggupi tanpa ragu setelah mendengar alasan Ten.
KAMU SEDANG MEMBACA
BLOOM
FanfictionBLOOM merupakan kumpulan one shot/double shot dengan karakter utama Ten dan Lisa tetapi dengan latar dan karakter yang berbeda disetiap cerita. Berisi tentang kisah cinta, entah cinta monyet, cinta sepihak, cinta mati, cinta rahasia, cinta basi dan...
