Gerimis sedang turun dengan lembutnya dari langit Seoul ketika Ten mengendarai mobilnya. Sayup-sayup suara musik terdengar dari radio yang sengaja dihidupkan untuk menemani perjalanan pemuda itu.
Matanya menatap lurus ke depan, sesekali memperhatikan titik-titik hujan yang jatuh mengenai kaca mobil. Biasanya ia akan menyukai gerimis, tapi untuk kali ini Ten membencinya.
Setelah berkendara selama tiga puluh menit, akhirnya Ten sampai disalah satu hotel termegah di Seoul. Shilla hotel. Dengan percaya diri ia melangkah memasuki bangunan megah itu, senyuman tipis tergambar diwajahnya, Ten juga sesekali membungkuk ketika bertemu dengan tamu atau reporter yang memang berada di luar hotel untuk meliput berita.
"Ten!" Panggilan dari seseorang membuat langkahnya terhenti. Ten berbalik dan menemukan Baekhyun sedang melambai heboh padanya.
Ten tersenyum, kemudian melangkah menghampiri Baekhyun yang terlihat tampan dengan jas yang membalut tubuhnya.
"Hyung..."
Kedua pria itu berpelukan singkat sebelum melangkah bersama memasuki lift yang akan membawa mereka ke lantai sepuluh tempat acara akan berlangsung.
Tamu sudah berdatangan ketika Ten dan Baekhyun memasuki ballroom yang dihiasi dengan dekorasi bunga disetiap sudutnya, terlihat sangat indah bagi siapapun yang memandang. Ten sempat terdiam melihat dekorasi itu, pikirannya berkelana untuk sesaat. Bahkan Baekhyun harus menariknya pelan saat berjalan menuju meja yang sudah tertulis nama mereka masing-masing.
"Yo, Baekki hyung... Ten hyung.. what's up?!" Seru Mark begitu keduanya duduk di meja bundar yang sudah disiapkan untuk mereka.
"Kau sendiri? Mana Lucas?" Tanya Baekhyun heran, mengingat bagaimana dua membernya itu selalu bersama.
Mark mengangguk, "Lucas masih di jalan, bocah itu membawa kekasihnya, katanya ingin mengenalkan secara resmi pada kalian."
"Dia akan datang bersama Doyeon?" Kali ini Ten bersuara, diantara member lain memang hanya Ten dan Mark yang tau siapa pacar Lucas.
"Kenapa kau tidak membawa pasanganmu juga?" Lanjutnya berniat menggoda Mark, karena setaunya pemuda itu sedang dekat dengan gadis dari agensi sebelah.
Mark tersenyum jahil, "Dan kenapa hyung tidak membawa pasangan juga, kenapa malah datang bersama Baekhyun hyung? Kalian berkencan?"
"Ya!" Pekik Baekhyun dan Ten bersamaan membuat Mark tertawa puas, untung saja acara belum dimulai sehingga mereka tidak menjadi pusat perhatian.
Tidak lama kemudian acara sakral itu berlangsung, untung saja Kai, Taeyong dan Lucas datang tepat waktu. Alunan indah dari biola yang dimainkan mengiringi langkah Taemin, si pengantin pria hari itu.
Senyumnya mengembang sempurna, sesekali ia membungkuk sopan pada tamu undangan yang berdiri antusias menyambutnya. Tentu saja jangan lupakan kehebohan member SuperM yang sesekali bersiul dengan semangat. Terutama duo maknae mereka.
Setelah berdiri dengan gagah di depan Altar, Taemin berbalik menatap lurus pada pintu ballroom yang perlahan terbuka dan menampilkan pengantin wanita dengan gaun putih sederhana dan sapuan make up tipis pada wajahnya.
Dengan didampingi sang ayah yang menggenggam erat tangan putri tunggalnya, mereka melangkah bersama menuju altar diiringi tepuk tangan meriah dari tamu undangan yang hadir.
"Ten..." panggil Taeyong pelan.
"Hm?"
"Kau baik-baik saja?" Lanjutnya setelah mereka kembali duduk.
Ten menoleh, ia bisa melihat Taeyong menatapnya dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja, hyung."
Taeyong menghela nafasnya pelan, ia menepuk-nepuk paha Ten pelan. Berusaha meyakinkan sesuatu.
"Kau tahu kan kau bisa mengandalkanku? Kita bisa pergi dari sini kalau kau tidak nyaman."
*****
Ten baik-baik saja? Tentu tidak. Bertingkah seakan semua sempurna nyatanya menguras habis tenaganya. Ia merasa lelah seperti habis berlari berpuluh-puluh kilometer.
"Berhenti, kau sudah terlalu banyak minum." Suruh Taeyong yang baru saja datang, ia bahkan mengambil paksa botol whisky dari tangan Ten.
Pemuda itu hanya diam, ia masih menatap televisi yang memutar video kenangannya bersama Lisa. Bersama pujaan hatinya yang kini sudah resmi menjadi istri dari seorang Lee Taemin.
Taeyong tidak perlu bertanya, ia bisa melihat sehancur apa Ten sekarang. Pemuda itu terlihat sangat kacau, berbeda dengan yang ia temui siang tadi.
"Hyung..." panggil Ten lemah.
"...kenapa bukan aku? Kenapa harus Taemin hyung? Kenapa bukan aku saja yang bersanding dengannya di altar? Kenapa bukan aku yang menjadi suaminya?!"
Taeyong menatap sedih adiknya itu. Ten seperti manusia yang memiliki kepribadian ganda saat ini. Jika di pagi hari dia akan terlihat ceria dan tersenyum ke semua orang, maka di malam hari ia akan menjadi manusia yang paling menderita dalam kesepian.
"Bagaimana ini, hyung? Rasanya aku ingin mati saja."
Tidak ada yang bisa Taeyong lakukan selain memeluk hangat Ten sembari menepuk halus punggung pemuda itu, berharap tindakan kecilnya bisa menenangkan Ten yang masih terisak dalam pelukannya.
Ten menyukai Lisa, dia menyukai sahabatnya tanpa pernah berani mengungkapkan perasaannya. Ia memilih diam dan menikmati perannya. Ia terlalu takut kehilangan sampai akhirnya kini ia benar-benar kehilangan.
"Kau harus melanjutkan hidupmu, Ten. Lisa sudah memilih dan melangkah meraih kebahagiaannya, kini giliranmu. Kau juga harus memilih dan mencari kebahagianmu sendiri."
"Bagaimana aku bisa bahagia disaat kebahagiaanku itu Lisa? Bagaimana, Hyung?!" Ten mulai berteriak frustasi. Pelukan mereka terlepas, wajah pemuda itu memerah karena emosi.
Taeyong menghela nafasnya berat, berbicara dengan Ten dalam keadaan seperti ini tidak akan menghasilkan apapun. Tapi, membiarkan Ten seperti ini sama saja membiarkan pemuda itu membunuh dirinya secara perlahan.
"Aku ingin Lisa, aku mau Lisa."
"Tidak Ten, tidak bisa."
"Aku mau Lisa!"
"Ten, sadarlah! Lisa sudah menjadi istri orang!"
"Tidak! Lisa hanya milikku! Aku harus mengambilnya kembali!"
Suara keras dan nyaring memenuhi ruangan itu. Ten termangu, sebuah tamparan menyakitkan ia dapatkan dari Taeyong. Rasa panas menjalar di pipi kanannya, matanya kembali berair, dadanya kembali terasa semakin sesak.
"Lisa tidak pernah menjadi milikmu, kau tidak pernah sekali pun memilikinya. Lisa bukan barang! Kau harus sadar itu!" Marah Taeyong, ia tidak perduli jika kata-katanya akan membuat Ten semakin terluka.
Tamparan Taeyong, teriakan pria itu seolah menyadarkan Ten dari kegilaannya. Ia kembali terisak, memukul dadanya keras berharap sesak yang dirasakannya menghilang. Ia kembali menangis, meraung meluapkan semua penyesalannya.
"Hyung..."
"...seandainya dulu aku memiliki sedikit saja keberanian... sedikit saja, mungkin aku takkan sehancur ini..."
♾
SkylaR🍂
KAMU SEDANG MEMBACA
BLOOM
FanfictionBLOOM merupakan kumpulan one shot/double shot dengan karakter utama Ten dan Lisa tetapi dengan latar dan karakter yang berbeda disetiap cerita. Berisi tentang kisah cinta, entah cinta monyet, cinta sepihak, cinta mati, cinta rahasia, cinta basi dan...
