Kepulan asap juga musik yang menghentak menjadi pengiring malam para pengunjung klub yang berada di daerah pusat kota Seoul. Badan yang meliuk liar, aroma alkohol yang menguar semakin membuat mabuk para pengunjung yang datang. Semakin malam klub itu terlihat semakai ramai.
"Dia sudah mabuk..." Kata Lisa saat melihat temannya—Jennie—mulai meliuk menikmati musik di lantai dansa bersama Taeyong.
Ten menoleh lalu mengangguk dengan senyuman tipis di wajahnya. "Bukankah kau harus menariknya?" Lanjut Lisa karena tak melihat tanda-tanda pria itu akan akan bangkit dan menarik kekasihnya dari kumpulan orang mabuk disana.
"Biarkan saja..." Balas Ten menegak kembali cairan whisky yang dipesannya. Lisa menatap pria itu heran, bagaimana bisa Ten bersikap sesantai itu sedangkan kekasihnya sedang bergerak liar bersama pria lain?
"Kau gila..." Ucap Lisa pada akhirnya.
Ten tertawa pelan. "Aku sudah sering mendengar itu..." Balasnya tak merasa tersinggung sama sekali.
Lisa, Jennie, Ten dan Taeyong. Mereka adalah rekan kerja yang sedang menghabiskan akhir pekan bersama. Manusia-manusia pecinta malam yang berjiwa bebas tanpa ada aturan yang mengikat. Ten dan Jennie, pasangan kekasih yang sudah menjalin hubungan lebih dari satu bulan sedangkan Lisa dan Taeyong hanya sebatas rekan kerja.
"Ten, aku serius. Kau harus mengeluarkan Jennie dari lautan pria lapar disana..." Kata perempuan itu mengingatkan kembali.
Kali ini Ten tidak tertawa seperti sebelumnya, benar apa yang dikatakan Lisa. Disana di tempat Jennie menikmati hentakan musik, Ten bisa melihat berapa banyak pria yang sedang menatap kekasihnya dengan pandangan lapar.
Pria itu mendengus, kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah lebar mendekati sang kekasih juga si rekan kerja. Sampai disana, Ten menarik pelan bahu Jennie. Pria itu bisa melihat jelas kalau kekasihnya benar-benar sedang berada di atas awan sekarang.
"Jennie, ayo..." ajak Ten menarik lembut lengan sang kekasih. Jennie sedikit memberontak, namun karena sedang mabuk tentu saja Ten bisa menyeret perempuan itu dengan mudah.
Taeyong menyusul tak lama setelah keduanya sampai di meja mereka. Jennie menyender manja pada Ten membuat Lisa mendengus sebal melihat pemandangan itu.
"Kau masih sadar?" Tanya Taeyong yang duduk bersebelahan dengan Lisa. Perempuan itu mengangguk. "99% sadar." balasnya yakin. Pria itu kemudian terkekeh, tanpa aba-aba Taeyong merebahkan diri dan meletakkan kepalanya di paha Lisa.
"Ya! Apa yang kau lakukan?!" Pekik si perempuan terkejut. Bahkan gelas digenggamannya hampir jatuh dan bisa saja menimpa wajah tampan pria itu.
Taeyong terkekeh geli. Matanya sudah terpejam, tapi mulutnya masih bisa mengeluarkan deretan kata. "Aku mengantuk. Jika aku melakukan sesuatu yang sudah di luar batas, kau bisa memukul kepalaku menggunakan botol minuman disana." Katanya menunjuk botol-botol yang berbaris rapi di meja mereka. Lisa baru ingin membantah, tapi Taeyong dengan cepat memejamkan matanya kembali tidak menerima penolakan.
Akhirnya Lisa hanya bisa menghela nafasnya berat. Tidak Ten, tidak juga Taeyong—kenapa kedua manusia itu selalu bisa membuat jantung Lisa berdetak tak karuan? Kalau begini terus rasanya Lisa ingin pindah perusahaan saja.
*****
Keempat manusia itu keluar dari klub tepat di jam dua malam. Jennie masih sadar meskipun kesadaran perempuan itu berada di ambang batas, sedang Taeyong masih jauh lebih baik—meskipun mabuk, dia masih bisa berjalan. Keduanya berjalan di depan, sedang Ten dan Lisa mengawasi mereka dari belakang.
"Harusnya kau tidak membiarkan Jennie berjalan sendiri..." Kata Lisa saat melihat temannya berjalan sempoyongan sembari bernyanyi.
"Dia sedang bahagia, biarkan saja. Ada Taeyong disana..." Balas Ten. Tentu sikap santai pria itu lagi-lagi membuat Lisa menggeram gemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
BLOOM
FanfictionBLOOM merupakan kumpulan one shot/double shot dengan karakter utama Ten dan Lisa tetapi dengan latar dan karakter yang berbeda disetiap cerita. Berisi tentang kisah cinta, entah cinta monyet, cinta sepihak, cinta mati, cinta rahasia, cinta basi dan...
