Bab 3 Mon-date

915 143 2
                                        

Jeno duduk di ruang tamu keluarga Wong. Jika bukan karena paksaan ibunya, ia tak akan mau ada disini. Ya, ia dipaksa oleh ibunya untuk mengajak Karina berkencan dengan alasan hari ini adalah hari minggu.

"Tuan Lee ingin minum apa? " tanya seorang maid yang baru saja mendatanginya.

"Tidak usah. Cukup bilang pada Karina bahwa aku menunggunya," jawab Jeno yang membuat maid itu memilih undur diri dan pergi.

Tak lama, ia mendengar langkah kaki yang saling berkejaran. "Paman, hallo! " teriak Yangyang, anak dari Hendery yang akan berusia 10 tahun sebentar lagi.

"Hallo, boy. " sapa balik Jeno. Kalau boleh jujur, ia tak begitu suka dengan anak kecil karena menurutnya sangat merepotkan.

Ia melihat Karina yang tengah membawa sweater kesukaan Yangyang di tangannya. "Eh, ada Jeno. Tumben kemari. Ada apa?" tanya Karina kaget. Karina tak menyangka ada Jeno disini.

"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Terserah mau menonton di bioskop atau berbelanja, " jawab Jeno. Ia yakin 100% jika Karina akan menjawab iya. Mana mungkin ada gadis yang tak tertarik dengan kedua acara itu.

"Aku tidak bisa. Aku harus menemani Yangyang permotretan, " jawab Karina.

"Kenapa tidak dengan ibunya saja? " tanya Jeno bingung.

"Mama sibuk menjadi desainer, " ucap Yangyang pelan sambil meninggalkan kedua orang dewasa itu.

Karina mendesah pelan. "Seharusnya kau memperhatikan cara bicaramu. Tak semua hal kau bisa tanyakan secara gamblang pada anak sekecil dia, " katanya sambil meninggalkan Jeno.

"Apa aku salah bicara? " tanya Jeno. Ia bangkit dan menyusul Karina. Berharap ada jawaban, tapi sayangnya Karina lebih sibuk mencari keberadaan Yangyang.

"Yangyang, anak ganteng. Ayo keluar! Kita main-main saja di rumah. Tidak usah pemotretan, " bujuk Karina.

"Apa tadi pertanyaanku salah? " Jeno kembali bertanya. Berharap Karina akan menjawabnya.

Akhirnya Karina menoleh pada Jeno dan menatapnya malas. "Kau tau kakak iparku sibuk menyiapkan fashion shownya. Oleh karena itu, Yangyang begitu merasa kesepian selama ini. Jadi, benahi dulu kelakuanmu tadi. Jangan karena kau terlahir dari orang kaya kau bebas berbicara, "

Lalu, Karina sibuk pergi mencari-cari keberadaan Yangyang mungkin tengah sembunyi entah dimana. Jeno terdiam. Ia tersenyum sinis saat menyadari perkataan gadis itu. "Kau alergi dengan orang kaya heh? " bisiknya pelan.

Tiba-tiba dari arah lainnya, Tuan Wong datang dan tersenyum teduh pada Jeno. Jeno memperkirakan bahwa calon mertuanya itu pasti habis dari acara jalan-jalan sambil mengawasi para pekerja di rumah ini.

"Jeno. Tumben kemari? " tanya Tuan Wong sambil mendekati calon menantunya.

"Aku ingin mengajak Karina pergi. Tapi sepertinya dia sibuk dengan Yangyang. " jawab Jeno.

Tuan Wong mengangguk. Ia tau bahwa Yangyang justru lebih dekat dengan Karina daripada yang lainnya. "Kau bisa pergi dengannya sebentar lagi. Biar Yangyang paman urus, "

"Tidak usah paman. Jeno akan pulang saja, " tolak Jeno karena sebenarnya ia juga malas bepergian dengan Karina.

"Tidak apa-apa. Sebentar paman panggilkan Karina, " kata Tuan Wong sambil berlalu pergi.

.


















.

Kini Jeno dan Karina tengah duduk di sebuah pusat perbelanjaan. Tadi, Tuan Wong memaksa mereka berdua menghabiskan waktu bersama dan berakhir mereka terdampar disini.

"Kau mau makan atau belanja? " tanya Jeno.

"Aku tidak ingin apa-apa. Sekarang aku hanya ingin bertanya. Kenapa kau ada disini? Apa karena permintaan ibumu? "

Jeno tak terkejut dengan itu. Ia tak akan munafik dan mengakui segalanya. " Ya begitulah. Kau harus tau bahwa aku hanya mencintai Winter, adikmu! Kau hanya seorang pengganti, " bisik Jeno pada Karina.

Karina lantas tertawa mendengar bisikan pria itu. "Aku bertanya apa dan kau menjawab apa. Aneh sekali. Aku anggap memang kau dipaksa oleh ibumu untuk acara ini, "

"Memang betul itu. Kenapa tidak kita berpisah saja sekarang? Lebih baik aku menemani Winter dan kau berpacaran saja dengan pemuda miskin itu, "

Karina terdiam. Ia tau rumor mengenai mangkirnya dari jabatannya dulu disangkut pautkan dengan kedekatannya kepada Winwin, seorang pelatih bela diri di sebuah akademi.

"Kau ternyata tak ada bedanya dengan semua orang. Mengukur segalanya dengan uang. Pantas saja, kau masih menjadi budak obsesi keluargamu sendiri. "

Lalu, Karina meninggalkan Jeno begitu saja. Ia tak peduli dengan reaksi Jeno. Hatinya terlalu sakit saat ada orang yang menghina Winwin baik secara terang-terangan maupun tidak.

Aku menjadi budak obsesi keluargaku sendiri? Candaan apa itu?, decihnya kesal.

.




























.

Jeno membuka ruang dimana Winter dirawat. Ia masuk ke dalam dengan perlahan. Matanya memanas saat melihat banyaknya alat untuk menunjang kehidupan sang kekasih.

Kemudian, ia memilih duduk di kursi dan menatap wajah ayu sang kekasih. Hatinya begitu remuk saat mengingat kejadian kecelakaan itu. Saat itu, ada pengendara mabuk yang menubrukkan mobilnya ke arah Winter dan juga Hendery yang tengah menyebrang ke gedung tempat ia dan Winter seharusnya bertunangan.

"Kau tau aku bertunangan dengan kakakmu disini, di sebelah ranjangmu ini. Aku merasa gila dengan semua ini, sayang. Bangunlah dan aku janji akan langsung menikahimu, " lirih Jeno.

TBC

Visualisasi Yangyang di cerita ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Visualisasi Yangyang di cerita ini

Gemoy kan? Pastinya lah :)

Dark LightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang