Karina menata beberapa makanan ke dalam tempat makan karena semalam Nyonya Lee menelponnya dan mengatakan bahwa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.
"Bibi akan kemana? " tanya Yangyang sambil menyemil udang goreng buatan Karina.
"Ibunya paman Jeno sedang sakit dan bibi akan menbawakan sarapan kesana," jawab Karina sayang.
"Yahhhhh.... Padahal aku ingin bersama bibi, " adu Yangyang sambil cemberut.
"Bukankah semalam mama pulang dan hari ini dia libur? Yangyang bisa bermain dengan mama." jawab Karina.
"Tidak asik. Mama lebih memperhatikan hapenya daripada aku, " ucap Yangyang lain sambil cemberut.
"Jagoan tidak boleh cemberut gini dong. Mama kan bekerja untuk Yangyang juga. Jadi, Yangyang tidak boleh begitu pada mama. " ujar Karina.
Yangyang mengangguk paham. Ia lebih mendengarkan nasehat bibi kesayangannya daripada orang tuanya sehingga saat liburan telah tiba dirinya pasti akan ikut bibinya entah bibinya akan kemana.
"Papa... Mama... " pekik Yangyang senang dan turun dari kursinya. Ia berlari menuju kedua orang tuanya.
"Kenapa mama tidak mendorong kursi roda papa? " tanya Yangyang. Ia tau kalau orang tuanya termasuk sedikit canggung di matanya entah karena apa.
"Papa bisa sendiri, nak. Mama juga pasti capek sehabis berpergian, " jawab Hendery yang tak digubris perempuan itu.
"Karina, kau akan kemana? "
Karina yang ditanya seperti itu langsung menjawab, "Aku akan menjenguk ibunya Jeno yang sakit, kakak ipar."
"Waw, calon menantu yang baik ya. Sepertinya dia tidak tau saja kalau kau itu pelacur, " kekeh Yerim sambil mencomot udang kesukaannya.
"Yerim jaga ucapanmu! " teriak Hendery.
"Bukankah dia memang pelacur?" tanya Yerim.
Karina tak menangis. Ia memang sudah sering dihina seperti itu. Entah oleh ibunya ataupun saudara iparnya itu. "Aku tidak pernah melacurkan diri. Semiskin-miskinnya aku saat ditendang dari rumah ini dulu, aku tak pernah disentuh pria mana pun." jawab Karina cepat sebelum dia pergi.
.
.
"Pelacur!! Harusnya kamu mati aja waktu dulu. Saya gak sudi punya anak kayak kamu! "
Karina menggelengkan kepalanya dan mengenyahkan semua bayangan masa lalunya. "Aku gak minta ini semua ini terjadi, " bisik Karina sambil memukul stir mobilnya kencang-kencang.
"Kamu gak boleh gantung diri kayak gitu. Tuhan gak suka. Sekarang kamu turun ya dari atas pohon sana, " ucap Winwin.
"Kenapa cuman gege yang ada? Dimana yang lainnya? "
Karina menggeleng lagi dan memejamkan matanya sebentar. Ia harus menetralkan deru nafasnya sebelum keluar dari mobil. Ia juga menghapus jejak airmata di sekitar mata dan pipinya.
Kemudian, ia keluar dari mobil dan menbawa setas makanan buatannya sendiri. Ia membuat ini semua entah karena apa. Tapi, ia suka memasak dulunya.
Ia mengetuk pintu. "Permisi!! " teriak Karina begitu saja.
Tak lama, Jeno membuka pintu dan kaget melihat ada Karina di hadapannya. "Kenapa datang kesini? " tanya Jeno.
"Eh ada Karina. Ayo masuk! " ajak Nyonya Lee yang berada di belakang Jeno. Ia langsung menggandeng Karina dengan erat dan berjalan menuju ruang makan. Jeno hanya mengikuti keduanya.
"Wahhh ada tunangan Jeno disini, " ucap Tuan Lee sambil menutup korannya.
"Kenapa kesini? " tanya Jeno to the point.
"Heh, gak boleh ngomong gitu! " peringat Nyonya Lee.
"Semalam kan bibi bicara kalau sedang tidak enak badan. Jadi, aku berpikir untuk memasakkan bibi dan sekeluarga makanan. " jawab Karina.
"Ya ampun calon menantuku ini baik sekali, " puji Nyonya Lee. Ia memang sudah lama kagum dengan sosok Karina yang begitu cekatan dan mandiri seperti ini.
"Jangan berbicara seperti itu, bibi. Nantinya Jeno akan tetap menikahi Winter, " ucap Karina yang membuat Tuan Lee langsung berdeham.
"Lebih baik kita tata ini saja, " ucap Nyonya Lee untuk mengalihkan pembicaraan.
Lalu, hanya ada keheningan. Tuan Lee sedikit melirik Karina yang terlihat tidak baik-baik saja. "Apa ada masalah di kantor? " tanya Tuan Lee.
Karina yang baru saja selesai menata makanan hanya menggeleng. "Kantor masih terkendali. Lebih baik paman, bibi, dan Jeno makan saja. " jawab Karina.
"Kau tidak makan? " tanya Jeno. Ia membuat spekulasi bahwa pastinya Karina belum makan.
"Aku sudah makan tadi di rumah, " jawab Karina sambil mencoba tersenyum. Ia bohong. Ia sama sekali belum makan, tapi rasanya jika ia makan perutnya akan mual seperti biasa.
"Bagaimana kabar kedua orang tuamu? " tanya Tuan Lee.
"Baik, paman. Mereka sedang menikmati hari tua bersama. Tapi, mereka masih sedih karena kondisi Winter yang belum sadar." jawab Karina. Ia tak bohong sekarang. Setaunya, ayah dan ibunya sibuk berlibur kesana kemari untuk menghabiskan uang mereka dan kegiatan tersebut terhenti saat Winter koma.
"Apa kata dokter mengenai kesehatannya? " tanya Tuan Lee.
"Winter masih memiliki peluang untuk sadar sebesar 75% dan kami optimis bahwa Winter akan sadar tidak lama lagi, " jawab Karina.
"Bibi dengar setelah kejadian kecelakaan itu kau kembali ke rumah setelah 10 tahun keluar dari rumah. Apakah itu benar? " tanya Nyonya Lee.
"Benar. Aku lebih menyukai hidup sederhana tapi bahagia secara hakiki, " jawab Karina.
"Benar-benar badung seperti ayahmu dulu. Dia dan kamu memiliki kesamaan, suka mengambil resiko. Oh ya, paman dengar juga kalau kau membuka perusahaan cabang di Singapura. Wow, amazing. " puji Tuan Lee yang membuat pipi Karina memerah.
"Itu biasa saja, paman." elak Karina.
"Kau begitu beda dengan Winter. Winter akan memuji dirinya sendiri setelah dipuji orang lain, " celetuk Nyonya Lee yang membuat Jeno menghentikan suapan makanannya.
"Kami berbeda baik dari segi apapun. Jadi, aku bisa memutuskan tali pertunangan ini disaat Winter sadar nantinya." jawab Karina begitu saja.
"Kenapa? Apa karena Jeno tak mencintaimu? " tanya Tuan Lee.
"Paman tau sampai kapan pun aku tak akan memilih Jeno karena ada seseorang yang harus kujaga perasaannya dan paman tau itu siapa," jawab Karina sambil menatap Tuan Lee.
Diam-diam hati Jeno terasa diremuk setelah mendengar pengakuan dari Karina. Apa ada hubungannya dengan Winwin?
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Light
FanfictionJeno merasa marah atas fakta bahwa dirinya telah ditunangkan secara paksa dengan Karina. Jika bukan karena sang kekasih terbaring koma, ia tak akan sudi bertunangan dengan gadis kaku sepertinya. Sementara itu, Karina tidak pernah menganggap pertuna...
