"Apa kau yakin akan memercayai Jeno?" tanya Haechan.
"Bisa iya bisa tidak juga,"
Jawaban ambigu dari Karina membuat Haechan langsung menatap Karina sekilas dan kembali menatap depan agar kendaraan yang mereka tumpangi tidak melenceng dan mengakibatkan kecelakaaan.
"Kau gila?"
"Kalau aku gila berarti kau lebih gila karena tunduk pada perintahku," balas Karina singkat sambil menatap jalanan.
Haechan hanya menggeleng kesal dan tetap mengendarai mobilnya dengan tenang. Tiba-tiba ia terpikirkan oleh satu hal. "Apa kau akan menikah dengan Jeno suatu saat nanti? Lalu, bagaimana dengan Yangyang?"
Karina yang tadinya terfokus pada jalanan yang gelap langsung menoleh pada Haechan. Ia menelan ludahnya susah payah. Ia tak pernah sempat berpikir mengenai ini.
"Tidak mungkin, Chan. Sebentar lagi Winter akan sadar dan mereka akan menikah. Lalu, aku dapat pergi bersama Yangyang."
"Benar kah? Seperti Tuan Hendery mau saja dan membiarkan kalian pergi,"
Karina terdiam. Dirinya menjadi teringat perbincangannya dengan Hendery beberapa malam yang lalu. Dari gelagat dan juga cara bicaranya sudah jelas bahwa dia tak akan membiarkannya dan Yangyang pergi.
"Dia tidak memiliki hak untuk mencegahku dan juga Yangyang,"
"Kau lupa kalau dia adalah ayah dari anakmu?"
Karina mengatupkan bibirnya. Ia tak bisa menyanggah lagi karena memang benar. Hendery adalah ayah dari anaknya dan pastinya ia juga memiliki hak atas Yangyang juga.
"Bisa kan kita tidak membicarakan ayahnya Yangyang lagi?"
"Baiklah. Tapi, omong-omong besok Yeonjun kembali dari California. Apa kau akan menjemputnya seperti biasa?"
Sebuah ulasan senyum lebar menghiasi kedua belah bibir dan tanpa ragu Karina langsung mengangguk kuat. Tak mungkin kan dirinya melewati hari dimana Yeonjun kembali ke Korea lagi?
.
.
Sesosok dokter berjalan dengan cepat dan masuk ke sebuah ruang ICU. Matanya menatap lurus pada seorang gadis yang terbaring di atas ranjang rumah sakit. Setiap detik hidupnya harus ditunjang berbagai alat.
Ia melanjutkan langkah kakinya dan mendekati gadis yang belum lama ini ia ketahui bernama Winter. "Andai waktu itu aku tidak mabuk mungkin sekarang kau tidak terbaring menyedihkan seperti ini kan, Winter?" lirihnya.
Kriettt
"Dokter Jung?!"
Ia pun langsung berbalik dan menemukan suster Choi yang sedang terkejut bukan main. Ia baru sadar bahwa sekarang adalah waktunya penggantian tabung infus milik Winter.
"Mengapa Anda ada disini, dokter?" tanya Suster Choi.
"Saya hanya ingin melihat perkembangan pasien saya saja, suster Choi. Kupikir seharusnya dia sadar sejak kemaren,"
"Mungkin ia sedang bermimpi indah, Sungchan. Eh maksud saya, dokter Jung."
"Tak apa. Lagipula disini hanya ada kita berdua. Kau bisa memanggilku Sungchan dan kupanggil dirimu dengan Jisoo seperti biasa,"
Jisoo mendekati Sungchan dan menepuk teman sefakultasnya itu. "Saya mendengar rumor yang mengatakan bahwa keluarga calon suami pasien ini dan juga ibunya memiliki keterlibatan dengan kecelakaan keluargamu, Sungchan."
"Jangan bercanda, Soo!"
Jisoo terkekeh pelan. "Rumor hanyalah rumor dan kita tak bisa membuktikannya. Daripada memikirkan rumor rendahan seperti itu lebih baik kau memikirkan nasib gadis ini. Anda kan yang menabraknya?"
Sungchan langsung menengok pada teman seperjuangannya itu. Jangan-jangan dia cenayang?!
"Saya bukanlah seorang cenayang jika Anda ingin tau,"
.
.
Tuk tuk tuk
Jeno terbangun tatkala ketukan dari kaca pintunya terdengar. Ia meregangkan tubuhnya sedikit. Rasanya tak begitu enak saat ia harus meringkuk sendirian di dalam mobilnya sendiri dan menunggu Rowoon yang entah kenapa tak kunjung pulang.
Kemudian, ia membuka kaca jendelanya dan melihat Karina tersenyum tipis sambil membawa minuman hangat. Di belakang wanita itu nampak sosok Haechan yang sedang mengemut permen batangnya dengan nikmat.
"Kenapa ada Haechan?"
"Jen dengar aku ini seniormu. Aku lebih dulu menjadi anjing setianya. Jadi panggil aku dengan benar,"
Karina langsung menyikut perut Haechan. "Jangan mulai Chan!" geram Karina kesal. Sungguh jika bukan karena loyalitas Haechan mungkin ia sudah menendang pria itu dari lama.
"Baiklah baiklah. Aku akan pergi dulu untuk menjalankan misi dari Nyonya besar kita, Karina. Aku pergi dulu semua," pamit Haechan. Lalu Karina mengangguk dan membiarkan Haechan pergi.
"Tak mau masuk?" ajak Jeno pada Karina yang masih menatap kepergian Haechan.
Tanpa aba - aba lagi, Karina langsung duduk di sebelah kemudi Jeno. "Sudah berapa jam kau menunggu Tuan Rowoon?" tanya Karina sambil menyerahkan secup kopi panas kepada Jeno.
"Mungkin hmmm enam jam," balas Jeno sambil menerima minuman dari Karina.
"Kemana pria itu pergi?" tanya Karina pelan.
"Bertemu dengan kekasihnya mungkin?" balas Jeno seadanya. Hanya ada kemungkinan itu yang muncul di pikirannya sekarang.
Brummm
Jeno dan Karina langsung mengalihkan pandangan mereka pada sebuah mobil yang berhenti di depan kediaman Rowoon. Baik Jeno maupun Karina yakin bahwa mobil itu bukanlah mobil Roowon. Benar saja, Rowoon keluar dari bangku penumpang. Kemudian mobil itu melaju cepat meninggalkan Rowoon sendirian.
Bukannya langsung masuk rumah, Rowoon tertarik dengan mobil yang terparkir tak jauh dari rumahnya. Seingatnya tak ada tetangganya yang memiliki mobil seperti itu dan ia harus mengeceknya. Jangan sampai mobil itu milik seseorang yang ingin mengintainya.
Dengan langkah cepat, Rowoon bergerak. Ia tak akan membiarkan mobil itu pergi sebelum ia melihat siapa dibalik kemudi mobil hitam itu. Sialnya lagi kaca mobilnya juga gelap sehingga ia tak bisa menebak siapa orang itu dari kejauhan.
"Rowoon kemari!" pekik Karina. Dirinya takut akan Rowoon tau mengenainya dan juga Jeno. "Bagaimana bisa kau ten—"
Cupp
Jeno menempelkan bibir hangatnya belas ia meminum kopi hangat dengan bibir Karina yang sedikit kering dan juga dingin. Ia merasa ada kekakuan disana dan sedikit ketakutan di mata Karina. Ia memperdalam ciuman itu dan sedikit membuat suara kecapan bibir yang cukup keras hingga Rowoon yang ingin mengetuk jendela pintu mobil Jeno memilih pergi dengan cepat.
TBC
Hello guys, aku kembali dengan chap yang mungkin agak aneh ini wkwkwk
Maaf baru bisa update karena menurutku beberapa bulan ini cukup sibuk banget dan terima kasih juga yang telah menunggu book gak jelas ini 😭🙏
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Light
FanficJeno merasa marah atas fakta bahwa dirinya telah ditunangkan secara paksa dengan Karina. Jika bukan karena sang kekasih terbaring koma, ia tak akan sudi bertunangan dengan gadis kaku sepertinya. Sementara itu, Karina tidak pernah menganggap pertuna...
