Bab 14 Who?

593 112 5
                                        

"Terima kasih sudah membantuku,"

Karina mengangguk dan tetap melanjutkan acara menata kue dan berbagai makanan yang sempat dibeli Jeno belum lama ini.

"Kau ingin kubelikan apa untuk membalas kebaikanmu ini?" tanya Jeno.

"Tidak usah. Aku tidak membutuhkan apapun," tolak Karina. Ia memang tak ingin dibelikan apapun oleh siapapun.

"Beneran? Aku memaksa lho,"

Karina memutar bola matanya malas. Ternyata Jeno itu lebih cerewet daripada yang ia bayangkan. "Aku tidak ingin apapun. Kenapa kau memaksa sih?!" balasnya dengan sewot.

"Ya...kupikir kau ingin sesuatu. By the way, belum pernah pacaran ya?" tanya Jeno iseng.

"Tentu saja sudah pernah," jawab Karina yang membuat Jeno membelalakkan matanya kaget.

"Alasan kau putus itu apa?" tanya Jeno penasaran. Ia pikir Karina belum pernah pacaran karena sikapnya yang terlalu kaku.

"Itu bukan urusanmu. Ah ya, kue ini mau diberi lilin?"

Kenapa kau seperti tak suka membicarakan masa laluku? Apa ada sesuatu yang disembunyikan olehmu? Ya , aku sadar bahwa hubungan kita adalah sebuah keterpaksaan. Tapi bisakah, aku berperan menjadi tunanganmu sebentar saja?, batinnya tanpa sadar.

"Hello... spada... Ada orang?" tanya Karina sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jeno

Jeno menggelengkan wajahnya. "Maaf, aku kepikiran Winter lagi. Oh ya, kau tadi bertanya apa?" tanya Jeno berbohong.

"Mau dikasih lilin apa enggak?" tanya Karina ulang.

"Boleh saja." jawab Jeno yang membuat Karina menancapkan lilin-lilin kecil pada kue itu.

"Aku dulu pernah berpacaran dengan Xiaojun kalau kamu mau tau,"

Kepala Jeno menengok dan menatap Karina dalam. Ia pikir Karina tak ingin membicarakan masalah masa lalunya. "Lalu, kenapa bisa putus?" tanyanya.

Karina tersenyum tipis dan menjawab, "ibu yang melarangku. Katanya aku tidak boleh berpacaran dengan sembarang orang,"

Jeno mengangguk. Ia paham dengan sifat Nyonya Wong itu. Perempuan paruh baya itu memiliki ego dan gengsi yang terlampau tinggi. Hal itu terjadi karena sejak kecil ia sudah terbiasa hidup mewah dan berlebih.

"Bagaimana perasaanmu dengan Pak Xiao sekarang?" tanya Jeno.

"Hanya sebatas teman saja. Lagipula aku berpacaran dengannya saat masih sekolah dulu,"

"Lalu mantanmu yang lainnya?"

Pergerakan Karina terhenti. Ia bingung harus menjawab seperti apa karena setelah melahirkan Yangyang, ia sibuk membangun perusahaan agar hidupnya dengan Yangyang menjadi lebih baik lagi.

"Aku tidak memiliki mantan yang lain. Aku sibuk dengan perusahaanku," jawab Karina apa adanya.

Jeno mengangguk. Tapi, ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Ia penasaran sekali dengan rumor yang beredar mengenai mangkirnya Karina dari jabatannya dulu. Jika bukan karena Winwin, lalu mengapa rumor itu bisa beredar?

"Kar—"

"Selamat datang paman dan bibi!" sapa Karina begitu saja yang membungkam mulut Jeno.

Mungkin aku bisa menanyakan hal itu suatu saat nanti, batin Jeno.

"Wahhhh... Kok ada kue dan banyak makanan?" tanya Tuan Lee.

"Ahahhaha kata Jeno, bibi hari ini berulang tahun. Jadinya, aku dan Jeno membuat kue khusus untuk bibi." jawab Karina.

Nyonya Lee langsung memeluk dan mencium kedua pipi Karina. "Makasih sayang. Jarang-jarang Jeno mau megang dapur," katanya.

"Tapi Jen—"

Perkataan Karina terpotong oleh gerakan Nyonya Lee yang melepas pelukannya tiba-tiba dan menariknya ke arah meja. "Kita makan-makan aja sayang," ucap Nyonya Lee sambil duduk.

Akhirnya Karina memilih duduk di seberang Nyonya Lee dan Jeno ikut duduk di sebelahnya. Mereka berempat makan dengan khidmat.

"Paman penasaran dengan rumor yang beredar. Katanya kau meninggalkan perusahaan ayahmu demi kekasihmu itu. Apakah betul?"

Karina terdiam. Ia paling tidak suka jika ada yang mengungkit masalahnya saat itu. "Tidak betul. Aku memang keluar atas kesadaran ku sendiri," jawab Karina.

"Aaaa paman paham. Itu hanya rumor belaka rupanya. Oh ya, kau tidak berniat kembali mengambil jabatan yang kau tinggalkan?" tanya Tuan Lee.

"Tidak." jawab Karina singkat karena memang ia tak memiliki hak apapun atas jabatannya dulu.

Nyonya Lee melihat Karina sedang tidak dalam mood baik untuk membahas pekerjaan pun langsung menyela, "Lebih baik kita makan tanpa membicarakan masalah pekerjaan. Karina mau tambah ?"

"Tidak usah bi. Aku sudah kenyang," jawab Karina.

Jeno diam-diam menjadi penasaran sekali mengenai alasan sebenarnya Karina hengkang dari jabatannya. Apa ada sesuatu yang ditutupi oleh Karina dan keluarganya?

.






















.

Tuan Wong duduk di samping Winter. Ia menatap iba pada sosok anak bungsunya. Dulu, ia hanya mendengar tawa kebahagiaannya dan kini, ia hanya melihat tubuh kakunya yang dibantu berbagai alat penunjang kehidupannya.

"Win, bangunlah. Kedua kakakmu sangat rindu padamu." ucap Tuan Wong lirih.

Tangannya langsung menggenggam putrinya itu. "Jangan tinggalkan Ayah seperti Jimin yang meninggalkan ayah,'' lirihnya sambil teringat putri sulungnya yang meninggal akibat leukimia.

"Win, maafkan ayah dengan membuat Karina bertunangan dengan Jenomu. Ayah bingung. Ayah frustasi dengan semua ini. Ayah ingin Karina bahagia setelah ego ayah dan ibu yang membuatnya terpisah dengan Hendery dan Yangyang. Apa Ayah bisa membuat Karina bahagia ?"

"Ayah, kasihan Yangyang yang menangis mencari Kak Karina. Tolong bawa Kak Karina kemari," mohon Winter sambil menggendong Yangyang yang akan berusia 4 tahun lusa.

"Tidak! Yangyang harus melupakan bahwa Karina adalah ibunya. Hanya Yerim ibunya Yangyang," tegas Nyonya Wong.

"Mau sampai kapan ibu egois! Ibu ingat kan perjanjian yang ibu buat dengan kak Karina. Kak Karina akan membawa Yangyang pergi saat ia berusia 10 tahun dan meninggalkan kita semua! Aku tidak mau kehilangan sosok kakak dan keponakan dari hidupku,"

"Karina itu yang tidak tahu diri. Sudah untung ibu mengambilnya dari panti asuhan kumuh itu dan dia malah bermain dengan Hendery di belakang Ibu,"

"Ini bukan salah Kak Karina dan kak Hendery. Mereka berdua pasti dijebak seseorang dan aku yakin itu,"

"Jika Hendery dan Karina memang dijebak. Siapa yang menjebak mereka berdua?" tanya Tuan Wong.

TBC

Dark LightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang