Nyonya Wong duduk dengan angkuhnya sambil meminum teh di cangkir kesukaannya. Ia mendengar kalau tadi pagi, Karina memasakkan makanan untuk keluarga Lee. Tentu saja itu membuatnya geram. Untuk apa Karina melakukan itu semua? Untuk pengakuan atau apa?
"Karina sudah tidur, Han? " tanya Nyonya Wong pada bibi Han yang baru saja melewatinya.
''Saya rasa belum. Nona Karina sedari tadi sibuk dengan pekerjaan kantornya, " jawab Bibi Han.
"Dia terlalu menghayati perannya bukan? " tanya Nyonya Wong sinis.
"Tapi perlakuan Nyonya kepada Nona Karina dan juga Tuan Hendery terlalu kejam." jawab Bibi Han. Sudah lebih dari 30 tahun, ia mengabdi di keluarganya ini dan dirinya sangat paham dengan watak majikannya.
"Saya melakukan itu semua agar keseimbangan keluarga ini terjaga! " bentak Nyonya Wong.
Bibi Han hanya dapat menghembuskan nafasnya lelah. Ia bingung harus membantu Hendery dan Karina bagaimana lagi?
"Panggilkan Karina kesini! " perintah Nyonya Wong pada Bibi Han.
Bibi Han mengangguk dan undur diri. Langkahnya sudah tak selincah dulu saat mengasuh ketiga anak majikannya dulu. Dari ketiganya, ia memang kagum dengan Karina. Ia seringkali dijadikan tameng untuk kedua saudaranya.
Tangan kurusnya mengetuk pintu kamar Karina dan membukanya. Ia melihat Karina sedang meminum kopi di gelas keduanya. "Nona, apakah saya mengganggu? " tanya bibi Han.
Karina membalikkan badannya dan menggeleng. "Tentu saja tidak. Aku hanya sibuk membenahi pekerjaan saja. Tumben bibi kemari. Ada apa? "
"Nyonya memanggil Anda, "
Sebuah jawaban yang mampu membuat Karina melunturkan senyumnya. Ia bisa gila jika begini terus. Ditekan dan ditekan. Bahkan kata pengganti sudah melekat didirinya sejak dulu.
"Baik. Aku akan kesana, " ucap Karina. Ia menyimpan hasil revisi pekerjaannya di flashdisk dan menyimpannya di tas kerjanya.
Lalu, ia keluar duluan yang langsung diikuti oleh bibi Han. Matanya menyipit saat melihat ibunya yang duduk dengan angkuh.
"Malam bu, " sapanya sambil berdiri di hadapan ibunya.
"Sampai kapan kau tidur di rumah ini? " tanyanya tanpa berbasa-basi.
"Ibu mau aku tidak disini kan? Baiklah aku akan pulang, " jawab Karina spontan.
"Kau memang benar anak kesayangan suamiku, " jawab Nyonya Wong.
Bibi Han yang melihat Karina akan pergi langsung mencegahnya. Ia menggeleng pada Karina dan hanya dibalas kekehan kecil Karina. "Aku akan pergi dan semoga ibu tidak lupa dengan janji ibu 6 tahun yang lalu, " ucap Karina yang membuat Nyonya Wong tersedak.
Lalu, Karina pergi begitu saja dari rumah. Langkah kakinya terasa berat saat keluar dan entah kenapa membuat sebuah ingatan muncul di otaknya.
"Kau itu hanya pelacur kecil! Keluar dari rumah ini sekarang juga!!"
"Ibu.. Ayah... Ini tidak seperti yang kalian kira, "
"Keluar atau ibu seret kamu?! "
Ia membenci ketika masa lalunya yang buruk terus menghantuinya setiap malam sampai-sampai ia harus meminum obat tidur. Ia segera masuk ke dalam mobil dan mengendarainya entah kemana.
.
.
"Gimana kabarnya Winter? " tanya Hina sambil menaruh gelas di hadapan Jeno dan Jaemin.
"Masih gitu aja. Gak ada kemajuan, " jawab Jeno sedih.
"Pantesan Karina beberapa hari ini kayak dalam tekanan batin sih. Sampai-sampai bang Winwin suka ke kantor, ngajak lunch gitu dan mood Karina berubah jadi bahagia. " ucap Hina.
Jaemin melirik raut wajah Jeno. Ia pikir Jeno akan merubah ekspresinya menjadi cemburu, tapi ini masih lempeng-lempeng aja.
"Winwin itu pacarnya Karina? " tanya Jaemin penasaran.
"Kalau kata orang-orang yang udah kerja bareng Karina dari awal kantor berdiri emang Winwin udah suka ke kantor. Kadang neraktir orang-orang kantor juga kalau ada perayaan apa gitu, " jawab Hina.
"So sweet sih. Tapi, katanya orang tuanya gak setuju ya? " tanya Jaemin kepo.
"Nyonya Wong yang gak setuju. Entah aku juga gak tau kenapa perempuan itu gak suka sama bang Winwin, " jawab Hina lagi.
"Pulang dulu ya. Lupa belum kasih makan bongshik,"
Jeno pun berdiri setelah mengatakan itu. "Hati-hati, bro! " ucap Jaemin yang langsung diangguki Jeno.
Jeno keluar dari rumah sahabatnya dan berjalan menuju jalanan besar. Tadi memang ia ke rumah Jaemin menggunakan bus dan sepertinya sudah tak ada bus lagi yang sedang beroperasi.
"Kira-kira taksi masih ada yang lewat tidak ya? " tanya Jeno.
Tin... Tin..
Jeno memegang dadanya karena kaget mendegar klakson mobil. Lalu, kaca mobil itu diturunkan dan nampak Karina sedang menyetir di dalamnya.
"Mau kuantar pulang? " tawar Karina.
Jeno berpikir. Daripada membuang uangnya untuk membayar taksi lebih baik pulang bersama Karina. Jika dia macam-macam tinggal teriak saja.
"Aku mau, tapi aku saja yang menyetir. " jawab Jeno.
Karina mengiyakan sambil berpindah posisi ke bangku sebelah dan membiarkan Jeno duduk di tempatnya tadi.
"Kau akan kemana? " tanya Jeno sambil memakai sabuk pengamannya.
"Night drive yang tidak jelas. Aku sedang bosan saja di rumah, " bohong Karina. Mana mungkin ia bercerita kalau ia diusir oleh ibunya.
"Bagaimana kalau aku temani? "
Jeno langsung memukul mulutnya yang begitu licin. "Wow, benarkah? Kau tidak keberatan? Jika tidak, kita bisa berkeliling sambil menikmati malam. " ucap Karina sambil tertawa.
Jeno pun langsung mengendarai mobil ini entah kemana karena dirinya juga tidak tau. Suasana mobil senyap tanpa suara. Kalau boleh jujur, dia tak suka menyalakan lagu karena takut memecahkan konsentrasinya.
"Apa ada masalah di kantormu?" tanya Jeno akhirnya.
"Tidak ada. Aku hanya sedang menyiapkan kantor cabangku saja dan kemungkinan aku akan semakin jarang di kantor tempatmu bekerja, " jawab Karina.
Jeno mengangguk. "Kau tau aku baru pertama kali night drive seperti ini, "
"Serius? " tanya Karina tak percaya.
Jeno mengangguk untuk kesekian kalinya. Mungkin terdengar aneh dan mustahil, tapi ia benar-benar tidak pernah melakukan night drive seperti ini.
"Well, sepertinya aku akan menunjukkanmu rute night drive terbaik milikku. Mau mencoba? "
Jeno berpikir sebentar. Jika ia menolak kesempatan ini mungkin akan menjadi penyesalannya. "Baiklah. Kita harus kemana sekarang? "
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Dark Light
Fiksi PenggemarJeno merasa marah atas fakta bahwa dirinya telah ditunangkan secara paksa dengan Karina. Jika bukan karena sang kekasih terbaring koma, ia tak akan sudi bertunangan dengan gadis kaku sepertinya. Sementara itu, Karina tidak pernah menganggap pertuna...
