Bab 19 Cinta dan Obsesi

804 100 0
                                        

"Saya mau pencarian pelaku tabrak lari saudara-saudara saya segera ditemukan!"

Jeno menengok dan menemukan Karina sedang marah-marah dengan lawan bicaranya. Ia tak menyangka bahwa tunangannya akan mencari tau hal seperti ini. Tunangan ya?, kekehnya saat sadar ia menganggap Karina sebagai tunangannya.

Ia pun memilih mendekati Karina yang semakin menaikkan nada bicara pada entah siapa itu.

"Jeno, kau dipanggil Tuan Xiao untuk menandatangani laporan!"

Tiba-tiba ada yang menahan bahunya yang membuatnya dengan terpaksa berhenti berjalan. Ia mendecak kesal saat melihat Karina malah semakin jauh dan memakai lift ekslusif yang hanya bisa dipakai oleh keluarga Wong dan juga para tamu ekslusif.

Jeno berbalik dan menatap Jaemin kesal. "Kenapa kau menatapku seperti itu, Jen?" tanya Jaemin saat melihat tatapan mata Jeno yang tak enak dipandang.

"Karena kau aishhh... Ya sudahlah. Untuk apa Tuan Xiao memanggilku?"

"Hmmm pak Xiao memintamu untuk menandatangani laporan bulanan seperti biasa. Tadi beliau sudah sampai di ruanganmu dan tak menemukanmu disana. Jadi, beliau memintaku mencarimu."

Jeno mengangguk paham. Ia tak bisa menyalahkan Jaemin karena kehilangan jejak Karina dan Jaemin sama sekali tak tau apa yang sebenarnya terjadi.

"Kau marah padaku? Apa aku melakukan kesalahan? Apa karena aku memakai kartu kreditmu? Atau karena kau sudah sadar bahwa aku sering mengambil kartu debitmu selama aku berkencan dengan Hina semasa kuliah?"

Jeno membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan terakhir Jaemin. Ia pikir selama ini kartu kreditnya yang bermasalah. Tapi, ternyata sang sahabat yang memakainya tanpa sepengetahuannya.

"Kau? Memakai kartu kreditku? Aishhh kau keterlaluan sekali, Jaem. Akan kuadukan pada Hina tentang ini agar kau dijadikan sambal olehnya!!"

Jaemin yang merasa salah bertanya pun langsung kabur sebelum jelmaan Samoyed itu marah besar dan Jeno hanya dapat menghela nafas lelah. Andai saja Jaemin tak datang mungkin ia dapat mengetahui apa yang dibicarakan Karina selanjutnya.

Aku akan berbicara dengan Karina nantinya. Mungkin aku bisa membantunya untuk mengungkap siapa dalang dibalik ini semua, batinnya sambil berjalan menuju lift karyawan biasa menuju ruangan Xiaojun.

.
























.

"Haechan, laporkan semua yang kau tau."

"Karina, sepertinya kita harus mencurigai pergerakan Tuan Rowoon. Dua tahun yang lalu, dia masuk ke kantor ini atas rekomendasi Nyonya Kim kepada Tuan Hendery. Kurasa dia adalah mata-mata perempuan tua itu,"

Karina mengangguk. Ia rasa memang ada benarnya dari ucapan Haechan. "Kira-kira untuk apa Nyonya Kim memasukkan Tuan Rowoon kemari?"

"Tentu saja untuk mematai-matai Tuan Hendery pastinya!" jawab Haechan setengah berteriak. Ia yakin sekali dengan hal itu. Buat apa perempuan tua itu susah-susah memasukkan orangnya kemari jika bukan untuk memata-matai menantunya.

"Oh,"

"Kau tau kan jika Tuan Hendery masih mencintaimu? Kurasa Nyonya Kim takut jika Tuan Hendery berpaling dari Nyonya Yerim dan kembali padamu,"

Karina langsung diam. Sampai sekarang ia bingung. Siapa perempuan yang dicintai oleh Hendery dan siapa yang ia cintai. Selama ini ia hanya merasakan kenyamanan jika menghabiskan waktu bersama Hendery dan juga Yangyang.

"Karina, aku hanya akan mengingatkanmu bahwa Tuan Hendery pasti akan terpuruk jika kau membawa Yangyang pergi hingga ke Singapura. Coba pikirkan lagi untuk mencoba memperbaiki keadaan yang ada," ucap Haechan yang berusaha menasehati Karina.

"Bisa kita tidak membahas masalah hubunganku dengan Kak Hendery? Lebih baik kau menghubungi orang-orangku untuk segera bergerak mencari tau siapa dalang dari kecelakaan yang dialami Kak Hendery dan Winter,"

"Baik. Kalau begitu aku permisi dulu sebelum ada yang menyadari bahwa aku termasuk orang-orangmu." pamit Haechan sambil meninggalkan Karina di rooftop sendirian.

Karina menghela nafasnya lelah. Ia berbalik dan memandangi gedung-gedung pencakar langit satu per satu. Berharap kepalanya tak dipenuhi oleh masalah-masalah yang sepertinya terus berdatangan di hidupnya.

Karina merasa lelah harus naik turun tangga dengan perut yang sudah membesar. Ia memang sudah dilarang oleh Winwin untuk naik turun tangga seperti ini.

"Nyonya mau saya bantu membawa belanjaannya?" tawar sesosok pemuda dengan almamater kampus tak jauh dari flat sederhana ini.

Karina mengangguk. Ia sudah merasa lelah padahal ia hanya membawa beberapa bahan makanan. Mungkin efek dari kehamilannya sehingga ia cepat lelah.

"Flat Nyonya ada di nomer berapa?" tanya pemuda itu.

"Nomer 3,"

Pemuda itu mengangguk. Ia mengambil alih belanjaan ibu muda itu. Ia pikir wajah dari sosok yang ia panggil Nyonya itu terlihat terlalu muda untuk menjadi seorang ibu.

"Namamu siapa?" tanya Karina pada sosok di sebelahnya itu.

"Namaku Haechan. Mahasiswa tingkat 3. Nama Nyonya siapa?" jawab Haechan dengan senyumannya.

"Panggil saja aku, Karina dan kita berdua seumuran. Jadi, kau tidak usah seformal itu." jawab Karina yang membuat Haechan membelalakkan matanya kaget.

.





























.

Xiaojun melirik laki-laki yang baru saja memasuki ruangannya. Ia harap laki-laki itu membawa laporan yang cukup baik bahkan jika bisa sangatlah baik.

"Boss, pergerakan kita terhambat oleh orang-orang Tuan Hendery."

Xiaojun memiringkan kepalanya dan tertawa. "Memangnya siapa orang-orang Hendery? Setauku hanya aku saja," kekehnya di sela-sela tawanya.

"Saya tidak bisa memastikan siapa orang itu sebenarnya. Tapi, saya bisa pastikan mereka selicin pergerakan orang-orang Nyonya Karina."

Xiaojun mengangguk. "Renjun, saya mau rumor mengenai Karina dan Hendery bisa keluar besok pagi entah bagaimanapun caranya."

"Baik, boss. Rumor akan keluar tepat satu jam sebelum bell masuk kantor berbunyi." jawab Renjun patuh.

"Baguslah. Aku akan keluar dulu untuk menjemput Yerim. Jika Jeno datang kemari, berikan laporan ini padanya." pinta Xiaojun sambil menyerahkan laporan dari divisi Jeno bekerja.

TBC

Dark LightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang