Bab 11 Rasa

653 122 2
                                        

"Nona Wong, Anda akan pulang? " tanya Xiaojun pada Karina yang baru saja keluar dari ruangannya.

"Jika hanya ada kita berdua, panggil saja aku Kei. Jangan pakai Nona, kak."

"Baiklah, Kei. Kau akan kemana? " tanya Xiaojun.

"Menemani Kak Hendery terapi di rumah sakit, " jawab Karina yang membuat Xioajun mengulas senyum lebarnya.

"Baiklah. Mau kuantar saja? " tanya Xiaojun.

"Tidak usah lah. Nanti tidak ada yang stand by di kantor. Aku pergi dulu, kak. Sampai jumpa, " kata Karina dan pergi meninggalkan Xiaojun.

Karina melangkahkan kaki melewati banyak karyawan yang mana mereka semua membungkuk padanya. Walaupun begitu, ia masih mendengar beberapa gosip tentangnya yang masih berseliweran disini. Dirinya sudah malas untuk menanggapi itu semua.

Ia melirik ke arah Jeno yang juga membungkuk kepadanya sekilas. Terlihat dia tersenyum. Berbeda dengan biasanya. Mungkin ada pengaruh dari kegiatan night drive mereka.

Karina pergi kemana ya?, tanya Jeno sambil tetap tersenyum.

"Kau terlihat lebih menerima Nona Wong, " ucap Jaemin sambil menyenggol lengan Jeno.

"Aku dan dia sudah berteman sekarang, " jawab Jeno sambil menegakkan tubuhnya kembali.

"Apa ada yang kulewatkan? " tanya Jaemin sambil menggoda.

Jeno hanya tersenyum dan meninggalkan Jaemin begitu saja yang tentu saja membuat Jaemin kesal. "Baiklah tak apa kau tak bercerita. Tapi, ingat jika butuh tempat bercerita ada aku! " balas Jaemin sambil berteriak yang langsung diangguki oleh Jeno.

.














.

"Bagaimana perasaan kakak? " tanya Karina sambil membantu Hendery duduk kembali di kursi rodanya.

"Baik. Apa kau tak sibuk sampai bisa menemani kakak untuk 2 jam terapi? " tanya Hendery.

"Semua pekerjaanku bisa ditunda karena kesehatan kakak sangatlah penting," jawab Karina.

Telinga Hendery memerah saat mendengar jawaban Karina. "Apa Yangyang tidak apa-apa ditinggal di rumah sendirian? " tanya Hendery untuk mengalihkan pembicaraan.

"Aku sudah meminta bodyguard milikku untuk bersiaga di sekitar rumah agar Yangyang terjamin keselamatannya, " jawab Karina sambil mendorong kursi roda. Ia tak akan membiarkan dirinya kecolongan lagi, seperti tahun lalu dimana Yangyang diculik.

"Tiba-tiba kakak ingin makan seafood," pinta Hendery begitu saja, "kita nanti mampir ke restoran kesukaan Yangyang dan beli disana saja ya?"

"Baiklah. Kita kesana," jawab Karina dengan nada riangnya. Mereka berdua melewati banyak lorong dan pasti ada saja yang mengomentari keduanya.

"Lihatlah perempuan itu sungguh setia dengan suaminya,"

"Perempuan itu terlihat juga seperti baru pulang dari kantor,"

"Beruntung sekali si pria mendapatkan perempuan setulus itu,"

Masih banyak lagi kata-kata yang terlontar dari orang-orang yang melihat Hendery dan Karina. Hendery yang mendengar hal itu hanya dapat tersipu malu sedangkan Karina hanya diam dan bingung harus menanggapi seperti apa.

"Kakak masih ingat kan perjanjianku dengan ibu 6 tahun yang lalu? Aku akan menagih janji itu sebentar lagi," ucap Karina terang-terangan yang membuat Hendery mendadak murung.

.







































.

Tuan Wong berjalan masuk ke dalam kantor dan semua pegawai membungkuk hormat dengannya. Ia mencari Karina karena ada sesuatu yang ingin dibahas.

"Apa Karina ada disini?" tanya Tuan Wong pada Xiaojun yang sepertinya baru saja dari tempat print.

"Nona Wong sedang pergi, Tuan Wong." jawab Xiaojun sekenanya.

"Dia kemana?" tanya Tuan Wong.

"Saya tidak tau. Kemungkinan sedang kembali ke apartemennya." jawab Xiaojun berbohong.

"Bilang padanya jika dia kemari untuk segera menemuiku dan juga bilang padanya untuk berhenti memaksakan diri untuk lembur,"

"Baik Tuan. Apakah ada hal lain lagi?" tanya Xiaojun sopan.

Tuan Wong melirik ada banyak karyawan yang mendengarkannya diam-diam. "Bilang pada karyawan disini jika mereka berani-beraninya menyebarkan rumor negatif terhadap Karina akan kupecat mereka semua,"

Lalu, Tuan Wong pergi dari hadapan Xiaojun dan menatap seluruh karyawan yang ada disana. Ia menghembuskan nafasnya lelah. Andai saja 6 tahun yang lalu, ia dan istrinya tak egois. Maka hari ini ia bisa melihat ketiga anaknya tersenyum bahagia tanpa beban.

Ia masuk ke dalam mobilnya dan duduk manis. "Jalankan mobil ini ke akademi tempat Winwin bekerja." ucap Tuan Wong yang langsung diangguki sang sopir. Pikirannya berkelana. Memikirkan Karina tentu saja. Ia harus bertemu Winwin dan mencari langkah yang tepat untuk mengakhiri semua konflik di keluarganya.

.

























.

"Ini uang untukmu. Tinggalkan negara ini dan lupakan bahwa saya yang memerintahkanmu atas peristiwa 11 tahun yang lalu,"

"Baik boss."

TBC

Dark LightTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang