Rate : T
Genre : angst
Note : mental illness
Remake dari cerita by Yue_aoi
No feast last forever
Sebuah judul autobiografi yang pernah di baca gadis itu mewakili situasinya saat ini.
Ketika seseorang tengah menunggu, sepersekian detik terasa bagaikan satu abad. Dan ketika seseorang menikmati moment saat ini, waktu terasa begitu cepat bak roket berkecepatan cahaya.
Sesaat, gadis merah muda itu terlena hingga melupakan fakta bahwa kebersamaan dengan lelaki yang belakangan ini mewarnai hari-harinya akan segera berakhir.
Bahkan meski terkadang ia mengingatnya, ia memilih untuk menolak memikirkannya dan memilih menenggelamkan diri dalam fantasi semu mengenai kebersamaan abadi serta menikmati moment yang tersisa.
Fajar dan senja yang terus silih berganti menandakan hari demi hari yang terus berlalu dan mau tak mau gadis itu tersadar akan realita yang mati-matian dihindarinya. Dalam waktu kurang dari tiga minggu, ia kehilangan satu-satunya alasan untuk berada ditempat ini dan dan tak dapat lagi bertemu dengan lelaki yang belakangan ini mengisi benaknya.
Sepasang iris obsidian itu bergulir pada sebuah benda pipih di tangannya, mengecek tanggal hari ini. Dan sedikit kesedihan terpancar pada sorot matanya yang menatap layar ponsel.
Gadis itu telah menerima karma. Ketika sebelumnya ia meratapi kesialannya, kini ia mulai jatuh cinta dengan kesehariannya ditempat suram ini, juga mulai merasa tak rela berpisah dengan para pasien yang di tanganinya.
Jam makan siang baru saja berakhir dan ia bertugas mengawasi para pasien dengan gangguan jiwa yang sedang dipandu untuk membuat kerajinan tangan. Tampaknya sang direktur berniat memberikan pelatihan pada para pasien dengan tujuan agar mereka memiliki keterampilan saat kembali ke masyarakat sehingga mengadakan kelas seperti ini.
Dan sesuai dugaannya, kali ini ia tak menemukan eksistensi lelaki bersurai fawn itu di kelas merajut. Di antara begitu banyak keahlian yang dimiliki lelaki itu, ia yakin kerajinan tangan bukanlah bidang yang dikuasainya.
Tatapan doyoung tertuju pada beberapa pasien wanita yang berada di dekatnya, memperhatikan agar mereka tidak melakukan sesuatu yang membahayakan dan mengikuti instruksi dengan baik.
"Doyoung-ssi, sini" ucap seorang pasien wanita yang tiba-tiba menoleh serta mengangkat tangan untuk memanggilnya.
Tindakan wanita itu terkesan tidak sopan, namun doyoung membiarkannya. Ia tak bisa berharap banyak dan ia yakin para psikiater yang menanganinya akan mengajarkan mengenai tata krama yang seharusnya ketika wanita itu siap kembali ke masyarakat.
"Oh. Yun hee-ssi. Ada apa?"
"Belikan aku gaun pengantin, dong."
Doyoung mengernyit secara refleks. Namun sesaat kemudian ia tersenyum tipis. Selama lebih dari dua bulan, ia sudah sering menemukan moment absurd semacam ini dalam berinteraksi dengan para pasien.
Bahkan jaehyun yang biasanya paling mumpuni untuk diajak berkomunikasi secara normal pun terkadang mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal, misalnya cerita mengenai asal-usul dirinya menjadi dewa maupun mengenai dirinya yang pernah melakukan konser di tempat-tempat yang tidak masuk akal, contohnya di planet berisi kurcaci.
"Gaun pengantin? Untuk apa?"
"Aku ingin menikah dengan Jinyoung."
Doyoung hampir tertawa dan meringis disaat yang sama. Yun-hee adalah pasien berusia empat puluhan yang terobsesi dengan menikah setelah dikhianati oleh beberapa mantan kekasihnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Irreversible || JaeDo
Fiksi PenggemarDoyoung, seorang mahasiswi jurusan psikologi tak pernah menyangka kalau ia akan magang disebuah rumah sakit jiwa. Ia merasa khawatir kalau ia akan merasa kelelahan secara mental menghadapi segala kenegatifan di rumah sakit itu hingga ia dipertemukan...
