24. Dua Insan yang Merindu

9K 723 191
                                        



Begitu Trana menghilang dari mimpinya, Danish bisa merasakan genggaman tangan seseorang pun terlepas dari tangannya, lalu saat itulah matanya perlahan terbuka dan mencoba beradaptasi dengan cahaya yang menyinari seluruh ruangan. Rasa sakit adalah hal pertama yang Danish rasakan pada tubuhnya, selain itu dia tidak merasakan apa-apa, termasuk mendengar sesuatu di sekitarnya. Sampai akhirnya suara familier menyebut nama orang yang mampir dalam mimpinya, membuat Danish membuka mulut dan suaranya muncul untuk menanyakan keberadaan wanitanya.

"Mana ... Trana?"

Suara Danish sangat pelan, tetapi berhasil didengar oleh Bram dan Samantha yang otomatis menghampiri putranya karena telah sadar. Samantha mematikan panggilan secara sepihak, lalu kembali meraih tangan Danish yang tatapan matanya masih kosong seolah orang tuanya bukan tujuan untuk dilihat. Detik berikutnya Danish tidak mendengar banyak hal, tetapi ia bisa melihat Bram dan Samantha bicara melalui gerak bibir mereka. Tidak sampai di situ, Danish juga melihat beberapa orang mendekatinya untuk memeriksa kondisi terkininya. Dari semua orang yang datang, tidak ada Trana Anindya di antara mereka.

Trana Anindya menatap penampilannya lewat cermin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Trana Anindya menatap penampilannya lewat cermin. Hari ini dia tampak berani dengan balutan setelan berwarna merah, semerah lipstick yang ia kenakan, serta sepatu berwarna senada. Tas hitam yang akan dibawanya seirama dengan rambut Trana yang sengaja ia ubah menjadi hitam untuk penampilan baru. Penampilan Trana terbilang heboh dari biasanya, tetapi ia puas karena hari ini akan mengungkapkan lebih jelas pada khalayak tentang apa yang terjadi lewat press conference. Sudah terhitung lima hari sejak Danish ditembak dan Trana tidak ingin menunggu terlalu lama dengan hanya diam, apalagi sekadar menyaksikan keramaian tidak tentu arah di televisi.

Beberapa informasi terkesan berlebihan meski benar adanya, jadi Trana harus meluruskan agar tidak ada informasi yang salah dan menghentikan informasi bohong yang sengaja memanfaatkan keadaan kacau seperti sekarang. Trana yang masih duduk di depan meja rias, mengangkat ponselnya yang ada di tangan, lalu menghubungi seseorang setelah waktunya pas. Sejak ditangkap, Trana belum menghubunginya untuk sekadar menyapa dan mengetahui keadaan.

Sebelum dia benar-benar mendapatkan hukuman dan tidak bisa ditemui dalam waktu yang lama, Trana ingin bicara beberapa hal secara singkat.

"Siapa ini?" Suara tegas di sana membuat Trana tersenyum simpul karena paham kalau kakaknya tetap tidak ingin harga dirinya turun.

"Your sister."

"Ngapain kamu telepon? Ke nomor anak buah Papa pula."

"Kamu nggak punya handphone, jadi aku sengaja telepon ke nomor yang ini. Aku masih harus tahu keadaan kamu, Kak Edwin."

Edwin di seberang sana tertawa mengejek, tidak ingin mengakui kekalahan di depan adiknya. "I'm fine, and by the way, setelah urusan di sini selesai, aku bakal ke Indonesia dan aset-aset di sana bakal balik lagi ke aku."

RumorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang