20. Burung Hantu

5.4K 635 142
                                        



You know I want you
It's not a secret I try to hide
I know you want me
So don't keep sayin' our hands are tied

You claim it's not in the cards
And fate is pullin' you miles away
And out of reach from me
But you're here in my heart
So who can stop me if I decide
That you're my destiny?

What if we rewrite the stars?
Say you were made to be mine
Nothing could keep us apart
You'd be the one I was meant to find
It's up to you, and it's up to me
No one can say what we get to be
So why don't we rewrite the stars?
Maybe the world could be ours
Tonight

Dengan iringan instrumen piano yang dia mainkan, Danish menyanyikan lagu yang pas untuk suasana hatinya saat ini setelah semalam cintanya ditolak oleh Trana, bahkan saat dia belum sempat mengucapkannya secara lengkap. Danish sudah meyakinkan diri bahwa dia akan ikhlas, dia tidak akan terpengaruh oleh perasaan, apalagi sampai tidak berhenti memikirkannya seperti sekarang. Nyatanya hati Danish tetap tidak ikhlas, bertolak belakang dengan lisan yang berusaha meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Seandainya Trana benar-benar tidak merasakan hal yang sama, Danish akan menganggapnya angin lalu. Kalaupun galau, paling hanya satu malam dan selanjutnya dia akan melakukan aktivitas seperti sedia kala. Namun, masalahnya Danish tahu dan yakin kalau Trana juga memiliki perasaan yang sama seperti dia. Jadi, Danish tidak bisa semudah itu untuk ikhlas di saat mereka seharusnya bisa saling memiliki. Yah, sayang itu hanya angan semata. Danish tidak tahu apakah ini hanya sementara atau justru dia dan Trana benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk bersama.

Magenta diam-diam mengamati Danish yang masih menyanyi dengan penuh penghayatan di practice room Winata Entertainment. Seharusnya tidak ada yang aneh karena Danish menyanyi dengan baik, tetapi sorot matanya yang kosong membuat Magenta yakin kalau ada yang salah dengan rekannya. Magenta tidak langsung bertanya, memilih diam sembari menunggu Danish menyelesaikan lagunya.

Alih-alih menyelesaikan lagu hingga akhir, Danish justru berhenti di pertengahan, lalu melamun yang makin membuat Magenta menggaruk kepala melihatnya. Danish mengembuskan napas berat, menyugar rambutnya frustrasi saat Trana tidak bisa pergi dari pikirannya.

"Lo kenapa, sih? Kayak habis ditolak sama Mbak Trana."

"Emang habis ditolak."

Magenta nyaris tersedak mendengar jawaban Danish. Sebenarnya Magenta hanya asal tebak, tetapi rupanya tebakan dia dibenarkan oleh Danish dengan jujur. "Tuh, 'kan!" seru Magenta semangat. "Mbak Trana pasti nggak suka sama lo, Dan."

"Trana juga suka sama gue, Ta. Ini bukan karena gue ge-er atau biar lo nggak mojokin gue setelah ditolak, tapi emang beneran."

Magenta kembali menggaruk kepalanya, makin bingung dengan jawaban Danish, sekaligus tidak menyangka kalau Trana menyukai Danish juga. Jujur saja, Magenta tidak sepenuhnya percaya kalau Trana menyukai Danish. Namun, Magenta tidak ingin membahas keraguannya secara langsung karena tidak ingin membuat Danish makin sedih. Bisa-bisa gawat kalau Danish terlalu membawa perasaan dan akhirnya malah menolak untuk bekerja.

"Kalau emang suka, kenapa harus nolak lo? Kan bagus kalau perasaan kalian bisa sama-sama terbalas, jadi nggak ada yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan," jelas Magenta heran, "kayak gue ke Gia," tambahnya sambil meringis pedih pada diri sendiri.

"Karena masalah belakangan ini, gue rasa," balas Danish ragu-ragu. "Lo tahu posisi Trana di WE punya tanggung jawab yang besar. Selama beberapa bulan terakhir, Trana berusaha ngatasin masalah gue yang udah difitnah, terus dengan nggak baik hati mau nampung gue di tempat dia sampai keadaan bisa lebih aman. Trana pasti nggak mau gagal fokus karena masalah perasaan, makanya dia nggak mau berurusan sama perasaan dulu. Gue nggak tahu sampai kapan, bahkan gue juga nggak tahu kapan masalah ini selesai supaya gue sama Trana bisa ngambil langkah berikutnya."

RumorTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang