Danish, seorang penyanyi sukses yang sudah berkecimpung di dunia tarik suara selama 10 tahun, harus menerima kariernya yang hampir hancur karena rumor mengenai dirinya. Di saat kariernya tengah dalam kondisi yang gawat, Trana--atasan agensi yang men...
⚠️ 4000 kata lebih! Pelan-pelan aja, biar gak capek.
*
Edwin Winata tiba di Indonesia dua jam setelah tragedi penembakan yang terjadi di depan kantor Winata Entertainment. Sampai saat ia sudah berjalan untuk keluar menuju pintu kedatangan, Edwin belum tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, sehingga dia berjalan dengan percaya diri karena yakin kalau sekarang adiknya tengah sekarat atau mungkin telah tiada. Bagi Edwin, selama tidak ada kabar genting dari Gana, Chandra, Tania, dan Celline, maka rencana mereka berjalan dengan mulus.
Edwin berjalan didampingi oleh sekretarisnya yang sibuk dengan ponsel karena dia penasaran dengan kabar terkini dari Trana Anindya. Begitu membuka portal berita online, sekretaris Edwin menganga tidak percaya dan menatap bosnya dengan cemas. Ini tidak baik. Edwin yang saat ini begitu semringah, pasti terkejut saat tahu kalau rencananya gagal. Sekretaris Edwin yang akrab disapa Tim ini mencoba memberi tahu Edwin setelah mereka keluar dari pintu kedatangan, tetapi ketika melihat empat pria bertubuh jangkung yang kurang lebih sama tingginya seperti Edwin, hanya posturnya saja lebih besar, Tim langsung bungkam dan merasakan kengerian dari wajah empat pria di hadapan mereka.
"Pak Edwin Winata?" Pria yang berdiri paling depan memastikan kalau yang sedang ia hadang adalah Edwin.
Edwin berdecak, masih belum menaruh curiga sedikit pun. "Saya emang orang penting, tapi nggak usah pake bodyguard. Bilang sama Papa kalau kalian nggak perlu jagain saya."
"Pak, sepertinyaㅡ"
"Tim, kita ke Indonesia udah sering banget. Enggak usahlah ada bodyguard segala," kata Edwin saat Tim belum sempat melanjutkan kalimatnya. "Tolong jangan halangi jalan. Saya sibuk."
Pria di hadapan Edwin dan Tim masih belum beranjak setelah diberi perintah. Pria yang paling depan justru mengeluarkan sesuatu dari saku celana dan jaketnya, lalu menunjukkan pada Edwin yang langsung gugup melihat identitas dan surat penangkapan untuknya. Hanya berselang beberapa detik, dua pria lainnya memborgol Edwin yang berusaha berontak, bahkan Tim juga membantu atasannya untuk terbebas dari belenggu benda kecil yang telah melingkar di pergelangan tangannya.
"Kalian mau apa, hah?! Jangan main-main sama saya!" hardik Edwin yang dituntun paksa. "Tim! Tolong saya!"
Tim berusaha menyingkirkan dua pria yang sedang menahan Edwin, tetapi kalah cepat karena dia pun ditahan oleh dua pria lain yang mencegahnya untuk berbuat lebih jauh. Orang-orang di bandara langsung menyimak keributan yang ada, saling berbisik ketika melihat Edwin dan Tim dibawa oleh polisi dengan susah payah karena terus berusaha berontak. Edwin memiliki tenaga besar, jadi tentunya dia bisa melawan dengan mudah meski tangannya diborgol.
Edwin berhasil kabur dan berlari menjauh dari polisi yang mulai mengejarnya. Namun, ramainya bandara membuat pergerakan Edwin jadi terbatas dan penjagaan ketat rupanya sudah dilakukan untuk menyambutnya. Beberapa polisi yang sudah dikerahkan untuk mengawasi bandara, berhasil mengepung Edwin yang membuatnya tidak bisa kembali kabur. Edwin Winata benar-benar marah, bahkan tidak segan menyalahkan sang adik yang sudah lebih dulu menjebaknya.
"Damn you, Trana."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.