"Kangen."
Entah mengapa satu kata yang keluar dari mulut June membuat Rose salah tingkah. Ia tersenyum malu, lalu menunduk, tidak berani menatap June yang kini menatapnya dengan intens.
"Ah, gemes." June mengembangkan senyumannya melihat semburat merah di pipi gembul pacarnya itu.
"June, malu!" ucap Rose yang masih bisa didengar oleh June.
June tertawa, ia tak mengendurkan pelukannya di pinggang Rose. Alahasil, tubuh gadis itu serong berjarak beberapa senti dengan tubuh June.
"Biasanya malu-maluin."
Sontak Rose mengerucutkan bibirnya sembari memasang wajah yang cemberut. Ia tidak tahu bahwa June mati-matian menahan untuk tidak menerkamnya sekarang.
June mengecup bibir Rose kilas. "Gausah cemberut gitu, lo bikin gua mau nerkam aja."
Rose yang sadar apa yang dibicarakan June, gadis itu memukul kuat dada sang kekasih lalu mundur membuat pelukan June terurai.
"Mesum!" hardik Rose dengan wajah malu.
Kali ini June mengambil tangan sebelah kirinya, pria yang sudah berhasil membuatnya luluh itu mengelus punggung tangan Rose. Ia menatap sendu ke arah Rose. Dalam hati, June terus bersyukur karena peristiwa kecelakaannya dapat membuat hubungan mereka baik-baik saja. Beruntung Rose tidak membencinya.
"Rose ...," panggil June pelan.
Rose menatap June. "Kenapa?" tanyanya.
June berdehem, berpikir sejenak harus memulai dari mana. "Tentang mantan gue, Mina. Gue tau, lo minta putus itu pasti ada hubungannya sama dia. Maaf, karena sebelumnya gua belum ceritain tentang Mina."
Rose diam, ia menunggu June menjelaskan lebih lanjut tentang Mina.
"Gue sempet mau nikah sama dia, tapi ... waktu itu dia tiba-tiba putusin sepihak. Dan gue nggak tau alasannya apa. Ya, sekarang nggak ada angin atau hujan tiba-tiba muncul lagi itu orang," jelas June panjang lebar dengan raut wajah serius.
Gadis berambut pirang itu mencerna setiap kata yang keluar dari mulut kekasihnya. Ia mendongak menatap June. "Apa lo bener-bener udah nggak ada perasaan lagi sama dia?" tanya Rose hati-hati.
June tersenyum tulus menatap wanitanya, ia menggenggam tangan Rose erat. "Gue nggak bakalan segila ini kalau gue masih ada rasa sama dia, Sayang."
Jawaban itu berhasil membuat Rose kepanasan, ia menjadi salah tingkah. Pipinya memerah membuat kesan lucu di mata June. Karena gemas, June mengacak sayang rambut Rose.
"Gue nggak bakalan memulai suatu hubungan sebelum gue udah bener-bener lepas sama hubungan di masa lalu."
Ah ... kenapa pacarnya begitu manis?
****
Mina menatap tidak suka ke arah Rose. Pagi sekali ia sudah bersiap-siap untuk langsung menjenguk June, tetapi malah pemandangan mesra June dan Rose yang didapat.
Gadis yang masih setia duduk di samping ranjang June tidak ambil pusing akan hal itu, ia malah asyik mengupas apel lalu memotongnya menjadi potongan kecil-kecil agar bisa dimakan oleh June.
"June!" pekik Mina yang berhasil membuat sepasang kekasih itu mendongak menatap ke arahnya. "Jelasin, ih!" lanjutnya dengan nada yang terkesan manja.
"Ih ... nadanya seperti lountea," batin Rose memanas.
June menatap jengah. "Apa yang perlu gue jelasin? Dia pacar gue. Gue ulangi sekali lagi. Rose, orang yang di sebelah gue ini pacar gue, kekasihhh gue. Paham?"
Mina mengerucutkan bibirnya, lalu merengek, "Kamu lupa sama janji manis kamu dulu, katanya nggak ada yang bisa gantiin posisi aku di hati kamu. Tap---"
Ucapan Mina terhenti ketika seseorang yang sedari tadi duduk sambil membaca majalah melemparinya kertas yang sudah dijadikan bola.
"Dulu, biasakan belajar makna kata dulu sama sekarang, ya, Manusia," ucap Chanyeol dengan tatapan tajam.
"Lo! Siapa, sih, gausah ikut campur deh!" kesal Mina sembari melotot ke arah Chanyeol.
Ah, ya, lelaki tiang itu sedari tadi memang sudah duduk manis sambil membaca beberapa majalah untuk mengurangi rasa bosannya. Ia datang pagi-pagi untuk memastikan keadaan adiknya baik-baik saja.
Chanyeol tidak menanggapi Mina, ia lebih memilih melanjutkan sesi membacanya daripada menanggapi kekesalan Mina.
"Mending lo pergi dari sini. Kepala gua malah makin pusing liat lo di sini!" June memalingkan tatapan ke arah lain, ia jengah akan sikap Mina yang menurutnya kekanakkan.
"Nggak mau!"
Tak mau ambil pusing, June meminta Rose untuk mengambil ponselnya. Ia menelpon Yoongi dan memintanya membawa pergi Mina dari ruangan ini.
****
Satu minggu kemudian.
Gadis bermanik cokelat itu berkutit dengan peralatan dapur sejak pagi. Ia sesekali melihat layar ponsel untuk mengetahui bumbu apa dan bagaimana cara memasak makanan yang lezat lewat video di YouTube.
Rose harus mengurusi June layaknya suaminya sendiri karena June sekarang sedang masa pemulihan. Ibu June sudah menawarkan agar putranya itu untuk tinggal sementara bersamanya, tetapi lelaki itu menolak. June malah memilih untuk membujuk Rose agar tidak kembali ke Australia dan menetap bersamanya di Korea. Dan ia berhasil.
Suara merdu Rose mengalun lembut, membuat June yang baru saja keluar dari dalam kamarnya tersenyum. Ia melihat kekasihnya itu sedang memotong wortel, rambutnya dicepol sembarangan, dan masih memakai baju tidur.
Lelaki itu menghampiri Rose, ia melingkarkan tangannya di pinggang mungil kekasihnya. Rose agak tersentak, tetapi secepat mungkin ia bisa mengatasinya.
"Ngagetin aja!" gumam Rose sambil terus melanjutkan sesi memotongnya.
June diam, ia mendaratkan kecupan singkat di leher gadisnya, lalu mendekus aroma tubuh Rose. Padahal gadis itu belum mandi.
"Gue mau masak, gausah cium-cium!" cebik Rose tak terima karena ia menjadi tidak fokus.
June terkekeh pelan. "Masak ya masak aja, donggg. Gua kan nggak ngapa-ngapain!"
Rose melirik tajam. "Nggak ngapa-ngapain pala lo!"
June tertawa keras, tetapi tidak melepaskan rengkuhannya pada tubuh Rose. Kali ini ia berbisik pelan. "Ngapa-ngapain sesekali ga apa-apa, kan, ya?" Dilanjutkan dengan gigitan pelan di kuliat leher Rose.
Tubuh Rose sempat menegang, ia langsung melepas tangan June paksa dan mengambil panci untuk dilempar kepada kekasihnya itu. Bukannya tidak mau, ia belum siap untuk hal itu.
Setelah puas menjahili Rose, June memutuskan untuk mandi. Ia harus ke kantor hari ini. Sedangkan Rose melanjutkan sesi memasaknya yang memakan waktu cukup lama. Itu membuat June menunggu sampai akhirnya Rose menyelesaikan masakannya.
Ia memasak sup daging. Walaupun itu lama, June tetap menunggu dan memakan masakan Rose. Mereka sekarang tengah duduk sembari menyantap makanan.
"Enak! Masak lagi, ya," puji June sembari memasukkan beberapa potong daging ke dalam mulutnya.
Rose menatap senang ke arah June. "Siaaap!"
Rose menatap June yang sangat menikmati masakannya. Ia tersenyum mengetahui bahwa masakannya berhasil. Syukurlah. Namun, ia merubah tatapannya ke arah June, hal itu membuat lelaki Koo itu terdiam.
"Apa?" tanya June.
"Gua mau minta izin, si Jimin ngajak ketemuan," jawab Rose dengan suara pelan, takut June akan marah.
Di luar perkiraan Rose, June malah mengangguk. "Di mana emang?"
"Di rumah pacarnya," ucap Rose sambil menyengir.
June lagi-lagi mengangguk. "Jangan lama-lama."
****
KAMU SEDANG MEMBACA
My Boss My Love (Junrose)
De TodoRose kesal, ia hendak berlalu dari hadapan June dan masuk ke dalam apartemennya untuk menenangkan diri sejenak. Namun, lagi-lagi langkahnya di tahan oleh June. "Apa lagi?" tanya Rose mantap geram. "Gue June," jawab June sambil menyunggingkan senyum...
