twenty one

218 36 0
                                    

B O Y F I E
Bang Yedam

Aku membuka mata perlahan. Sejenak lupa dengan apa yang kualami hari ini. Ketika aku teringat kembali, perutku terasa mual.

Aku meneguk habis teh hangat yang diletakkan di nakas sebelah ranjang UKS yang kududuki. Kemudian mengatur napasku dan menenangkan diri.

Aku berusaha mengalihkan pikiranku yang mulai memikirkan, haruskah aku memberikan surat panggilan orang tua ke Mama atau tidak.

Krieeek.

Tirai yang menjadi pemisah antara kasur-kasur di ruanh UKS tersibak. Kupikir akan muncul Yuqi, Soojin atau Junghwan. Ternyata Yoshi.

Lelaki itu membawa susu kotak berperisa strawberry, kemudian meletakkannya ke nakas.

"Lo gapapa?" tanya Yoshi.

"Ya gitu lah, Yosh."

"Maaf ya."

"Buat apa?"

"Baju sewa, sama skorsing lo."

"Jadi, lo?"

"Iya."

"Oh."

Yoshi menggaruk tengkuknya canggung. Sepertinya dia begitu karena responku ternyata tidak sesuai dengan dugaannya. Mungkin saja dia berpikir antara aku akan memakinya habis-habisan, atau menangis didepannya.

"Lo nggak marah?"

"Marah. Cuman, lagi nggak ada tenaga aja. Capek banget gue, Yosh," kataku.

Yoshi menatapku, dia mengucapkan kata maaf lagi. Kali ini terdengar lebih tulus. "Maaf, Le."

Aku hanya diam, tidak menjawab.

"Lo mau tahu alasan gue ngelakuin semua ini?" Yoshi menundukkan kepalanya. Sejujurnya, Yoshi menyesal karena tidak tahu jika dampak untuk Helen akan separah ini. Tapi, ya memang tujuan Yoshi adalah membuat Helen merasakan penderitaan dalam kehidupan sehari-harinya.

"Hitomi," lanjut Yoshi. "Hitomi juga sakit seperti yang lo rasain sekarang, karena Asahi sejak dulu cuma suka sama lo, Le. Bahkan dia nggak cuma menderita sehari dua hari.

Selama ini, hubungan Asahi sama Hiichan hanya sekedar status. Asahi butuh banget status, biar lo nggak semakin mendekat ke dia. Sedangkan Hiichan memang awalnya nggak peduli. Sayangnya, lama-kelamaan dia beneran suka sama Asahi dan itu yang bikin Hiichan makin kesulitan.

Gue pikir, Helen-Helen yang suka bikin Hiichan nangis itu bukan lo. Tapi ternyata memang lo, teman satu kelas gue, So Helen.

Sejak saat itu, gue lebih suka ngelihat lo dalam keadaan kayak gini, Le. Supaya lo juga ngerasain gimana rasanya menderita."

Aku menghela napas. Cerita panjang lebar Yoshi, aku mengerti betul apa maksudnya. Hanya saja, aku sudah kehabisan tenaga untuk meladeninya seperti Helen yang seharusnya.

"Yah, tapi kayaknya gue udah kelewatan ya?"

"Menurut lo aja gimana," pendekku. "Gue mau istirahat dulu, Yosh. Bisa tinggalin gue?"

boyfie •bang yedamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang