fourteen

253 41 3
                                    

Yuk ramein yuk. Kapan lagi kan update cepat.
jgn lupa vote dan comment.

B O Y F I E
Bang Yedam

Hangatnya sinar matahari sore memancar tepat pada wajah Yedam. Membuat matahari seolah tak pernah salah memilih objeknya untuk disorot. Yedam tersenyum melihat keramaian suasana tepat setelah bel pulang sekolah berering. Waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh semua siswa.

Ada beberapa anak angkatan Helen yang mengenalnya, sehingga dia mendapat teman mengobrol selagi menunggu pacarnya keluar dari kelas. Begitu melihat sesosok gadis dengan cardigan abu-abu pemberiannya, Yedam melambaikan tangannya.

Helen berlarian kecil, diikuti dengan rambut kucir kudanya yang turut bergerak seirama dengan langkah kakinya. "Nungguin lama?" tanyanya.

"Nggak terlalu, kok." Yedam turun dari motornya hanya untuk menyempatkan mengacak kecil puncak kepala Helen.

"Yedam, tahu nggak? Kayaknya anak sini udah mulai hafal sama kamu, hahaha. Dari kemarin aku denger banyak yang bicarain tentang cowok ganteng depan gerbang pakai jaket bomber biru."

"Oh ya?"

Helen mengangguk membenarkan. Dia mendongak, menatap manik mata Yedam kemudian mengulurkan tangannya untuk merapihkan poni lelaki didepannya itu. "Gantengnya udah cukup sampai sini aja. Nanti banyak yang naksir."

"Duh, jadi deg-degan dibilang ganteng."

"Apaan sih, hahaha," gelak Helen. Tanpa disangka-sangka, Yedam mencium pipi Helen secepat kilat. Helen terbelak kaget. Jantungnya berdetak cepat disusul dengan pipinya yang bersemu merah. Bisa-bisanya Yedam melakukannya tepat didepan sekolahnya!

Helen menunduk meredakan rasa malunya. Sedangkan Yedam hanya tersenyum melihat gadisnya salah tingkah. Walaupun sebenarnya Yedam juga merasakan hal yang sama. Lihat saja ujung telinga Yedam yang kini telah berwarna merah sempurna.

"K-kamu ngapain sih? Ini di depan sekolah astaga."

"Biar go public?"

"Ngawur, ya?!"

"Woi woi woi!" sebuah suara menginterupsi percakapan antara Yedam dan Helen. Haruto datang dengan wajah ditekuknya. Membuatnya semakin jelas kalau cowok dengan suara husky itu tidak dapat mengelak telah melihat secara lengkap adegan yang terjadi barusan. "Bang, lo apa nggak mikirin Kak Helen yang bisa aja digosipin tiga angkatan?"

Bukan Yedam kalau dirinya menanggapi Haruto tanpa senyuman tipisnya. "Halo, Haruto."

"Ah udahlah." Haruto mengalihkan pandangannya kearah Helen. Mengobrak-abrik isi saku celananya dan menyodorkan sebuah permen chuppa chups untuk Helen. "Ini, buat lo, Kak. Gue duluan."

Setelah mengatakannya, Haruto berbalik meninggalkan pasangan itu menuju parkiran motor dengan perasaan kesal.

"Eeh, makasih, Haruto!" teriak Helen cepat.

"Permennya boleh buat aku?"

"Hm? Boleh aja. Kalau mau lagi habis ini apa mampir dulu ke minimarket?"

"Nggak usah. Aku cuma mau yang dari Haruto aja," kata Yedam setelah menerima permen yang diberikan Haruto untuk Helen. Maaf ya, Haruto. Gue harus bikin lo out dulu, supaya nanti bisa fokus beresin Asahi.

"Oh iya, kamu hari ini ada waktu nggak?"

"Aku perginya malam. Bantuin Hyunsuk aransemen lagu di base. Kenapa?"

"Berarti sekarang bisa temenin aku sebentar?"

"Iya, bisa. Mau kemana?"

"Ke minimarket dekat SMP aku dulu. Ketemuan sama Asahi, mau bayar DP sekalian ambil kostum."

boyfie •bang yedamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang