Melihat Junghwan yang tiba-tiba mendatangi kelasku dan mengajakku pulang tetapi dengan wajah merajuknya itu membuatku tertawa terpingkal. "Lo hari ini aneh banget tahu?"
"Diam ya. Gue masih marah sama lo," balas Junghwan cepat.
"Kalau gitu kenapa sampai nyamperin gue kesini?"
"Sekarang, kan lo nggak bawa motor. Lo pikir gimana lo mau pulang?"
"Gue bisa pesan ojek online, tuh. Lagian salah siapa nih gue jadi nggak ada motor, hm?"
Junghwan mengerucutkan mulutnya, masih kesal denganku sepertinya. Aku tertawa lagi, kemudian merangkul pundak Junghwan. "Iya, gue minta maaf soal yang kemarin. Gue jajanin pringles dua kaleng deh, mau?"
"Huh!"
"Nggak mau nih?"
"Beli makanan yang lo mau aja! Gue udah punya pringles."
"Dari Wonyoung, ya?"
"Kok lo tahu?!"
"Gimana nggak tahu kalau anaknya laporan mulu sama gue?"
Aku melihat telinga Junghwan memerah setelah mendengar ucapanku. Artinya dia sedang menahan malu. Hahaha, kalau dipikir-pikir lagi aku juga seperti Junghwan. Telingaku juga akan memerah setiap aku menahan malu. Dan karena itu aku setuju dengan orang-orang yang mengatakan kalau ikatan batin antar saudara itu sangatlah kuat.
"Yaudah yuk, sini kuncinya, biar gue yang boncengin. Kita makan di siomay langganan aja kalau lo nolak pringles dari gue karena udah dapat dari Wonyoung— astaga bercanda! Kenapa pakai mukul sih?!"
B O Y F I E Bang Yedam
Sesuai dugaan, pedagang siomay kaki lima yang menjadi tempat langganan kami—aku, Junghwan, bahkan Yedam, sangatlah padat pembeli. Aku mengambil kartu antrean dan mendapat nomor tiga puluh. Sedangkan sekarang ini baru berjalan sekitar lima belas nomor.
Kuharap, Junghwan tidak berbalik merajuk lagi karena harus menunggu hanya untuk makan siomay.
Aku celingukan mencari keberadaan Junghwan yang sebelumnya kuminta mencari tempat duduk. Begitu melihatnya, aku cepat-cepat menghampirinya. "Tunggu sebentar gapapa ya, Hwan?"
"Gapapa. Biasanya juga kalau makan disini emang harus sabar, kan?"
"Haha, iya. Takut aja lo ngambek lagi kayak sapi."
"Sialan, ya."
Aku tersenyum kemudian bertopang dagu. Memilih mengamati Junghwan daripada mengutak-atik ponselku. Dari luarnya saja Junghwan terlihat seperti lebih dewasa dariku. Meski tinggiku dengan Junghwan juga tak berselisih jauh, tetap saja Junghwan nampak seperti kakak ketika tengah bersamaku.
Tetapi aslinya, perjalanan Junghwan untuk bisa disebut dewasa masih cukup panjang. Dia bahkan baru saja naik dari kelas sepuluh. Artinya, masa sekolah menengah atas pun baru dijalaninya selama satu tahun. Lo juga belum ngerasain rasanya dihantui setoran prodi kuliah, pikirku.
Terkadang aku sedih, karena Junghwan harus ikut merasakan rasanya kehilangan Ayah dan Mama sejak dia masih kecil.
Pada saat itu, Junghwan masih berumur tiga tahun. Yang diketahui anak sekecil itu hanyalah bermain, dan bermain. Junghwan masih belum mengerti jika pada saat itu mulai terjadi pertengkaran besar dirumah kami.
Setiap terdengar barang jatuh atau pecah, Junghwan akan berlari terbirit-birit ke kamarku yang memang hanya bersebelahan dengan kamarnya.
Junghwan selalu mengira rumah kami kedatangan pencuri, padahal itu adalah ulah Mama yang membanting entah piring, gelas, guci atau barang apapun yang rawan pecah.
Aku yang juga baru berusia lima tahun, awalnya memiliki pemikiran yang sama. Tetapi setelah mendengar sendiri teriakan marah dari Mama, aku mengerti kalau para orang dewasa di rumahku sedang bertengkar entah apa sebabnya.
Saat itu aku berpikir, kalau aku berlagak melerai, aku takut salah satu diantara mereka justru semakin mengamuk. Jadi yang bisa aku lakukan hanyalah diam, memeluk Junghwan yang ketakutan, dan terus menyembunyikan fakta bahwa Ayah dan Mama bertengkar dari Junghwan kecil.
"Kak,"
"Hm?"
"Menurut lo Haruto gimana?"
"Haruto? Kenapa tiba-tiba tanya Haruto?" Aku mengangkat sebelah alisku, heran. Meski begitu, aku tetap menjawabnya. "Haruto baik kok, menurut gue dia juga tipe teman yang bisa banget diandalkan. Pokoknya, lo beruntung dapet teman kayak dia, Hwan."
"Itu aja?"
"Hm? Iya. Mau apa lagi?"
"Kalau Bang Yedam?"
"Lo yakin tanya tentang Yedam ke gue?"
"Nggak jadi, deh. Udah jelas banget dari muka lo, dasar bucin."
"Hahaha, lagian aneh banget sih pertanyaannya," kekehku. Tak berselang lama, aku beranjak untuk mengambil pesanan karena nomorku telah dipanggil. Dan tiba tiba saja aku melihat Yedam berlarian dari kejauhan.
Aku memincingkan mata untuk memastikan apakah itu benar Yedam atau bukan. "Yedam?"
Sret.
Yedam memelukku erat, masih dengan napas tersenggalnya. Aku tidak tahu apa yang telah terjadi, tapi dia terlihat sangat panik.
Astaga... aku tidak bisa membayangkan tatapan orang-orang saat ini, batinku.
Akhirnya Yedam melepas pelukannya, "Kamu nggak apa-apa?"
Aku memutar otak sejenak, mencari tahu penyebab Yedam bertanya demikian padaku. Ah, mungkin karena semalam aku memberi tahu Yedam jika Mama pulang dan aku bertengkar dengan Junghwan.
Pastinya Yedam tahu kalau hubunganku dengan Mama tidak terlalu baik, dan yah sepertinya Yedam mencemaskanku.
"Nggak apa-apa," jawabku sembari tersenyum, berharap dapat mengurangi rasa khawatirnya. Kemudian aku menggenggam tangan Yedam, "Makasih banyak," ucapku.
Aku tidak tahu kalau ternyata Junghwan ikut menyaksikan kejadian yang lumayan dramatis barusan. Junghwan menghela napasnya berat, "tuh, kan. Lo cuma dapat sakitnya kalau suka sama Kakak gue, To. Helen itu bucin parah kalau sama oknum bernama Bang Yedam."
B O Y F I E Bang Yedam
haloo, maaf baru muncul sekarang padahal udh hampir sebulan ya? :")
masi ada yg nungguin ga ya? hiksrot (ಥ‿ಥ)
oiya sekalian mau kabar-kabar, klu aku minggu ini udh mulai PAS sampai 7 desember. Jadi aku bakal nyicil dikit2 bikin draft part selanjutnya dan up setelah selesai ujian.
so, see ya!👋🏻
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.