seven

399 53 8
                                    

im sure that yall know how to appreciate someone's hard work

B O Y F I E
Bang Yedam

"Odading mang oleh, rasanya seperti anda menjadi ironman!"

Aku mengerlingkan mata kesal mendengar Junghwan seharian ini teriak-teriak tidak jelas seperti itu. Tidak heran kalau semua orang ingin viral supaya bisa dikenal dimana-mana. 

Yasudahlah, aku mencoba mengacuhkan Junghwan si gila, dengan fokus pada tanaman jahe di depanku. Omong-omong, akhir-akhir ini aku diberikan banyak tugas praktek. Aku sudah menyelesaikan praktek membuat tapai singkong menggunakan ragi, hanya kurang membuat laporannya saja. Lalu, saat ini aku sedang menanam jahe untuk pelajaran kewirausahaan.

Kalau saja Yedam ada disini, dia pasti mengomeliku yang selalu lupa memberikan pupuk organik setiap menanam tanaman baru. Tapi kali ini tidak, karena dia sedang camping bersama teman-teman kuliahnya.

"Ikan hiu makan tomat, GOBLOK EA TEH, GOBLOK!" 

"Ebuset, kaget sialannn!" refleksku pada Junghwan yang entah bagaimana sudah berada di sebelahku.

Junghwan tertawa. Dia kemudian ikut berjongkok dan mengamatiku yang masih menanam jahe menggunakan kaleng bekas. "Nggak gagal tuh nanti?"

"Hm? Nggak."

"Pupuk organik tuh, jangan lupa."

"Nggak punya, lo beliin sana."

"Yaudah, sini duit, gue beliin."

Aku mengangkat sebelah alisku heran. Tumben sekali Junghwan menurut. "Beneran nih?"

"Iya."

"Oke, gue ambil dulu. Tungguin, awas kalau kabur!" Aku berlarian masuk ke kamar, mencari keberadaan dompetku yang biasanya kuletakkan di meja belajar. Sialnya, ketika aku sedang membutuhkan sesuatu, barang yang kubutuhkan itu selalu menghilang entah kemana.

Karena sudah mencari dimana-mana tidak ketemu, aku memutuskan untuk bertanya pada Junghwan. Siapa tahu, dia melihat dimana aku meletakkan dompet terakhir kalu. "JUNGHWAN, LIHAT DOMPET GUE NGGAK?"

"Astaga bolot amat adik gue. WAWAN, LIHAT DOMPE–" ucapanku terputus bersamaan dengan badanku yang membeku melihat sesosok familiar didepan sana. Aku segera menyadarkan diri, kemudian melangkah cepat menarik Junghwan yang sama terkejutnya dengaku. 

Aku menggenggam tangan Junghwan erat, sedikit mendorongnya agar dia berada di belakang tubuhku. "Apa ada sesuatu?" tanyaku pada wanita di depanku itu.

"Memang kalau Mama pulang, harus menunggu ada sesuatu dulu ya? Mama kan pingin lihat kalian."

"Jangan berbicara omong kosong," tukasku. Aku menoleh kearah Junghwan dan berbisik padanya, "Hwan, lo masuk aja."

"Junghwan, kamu nggak mau dengerin Mama dulu? Kamu nggak kangen sama Mama, Nak?" 

Nah, inilah yang selalu aku khawatirkan. Ketika wanita yang harus kupanggil Mama ini membuka suara, Junghwan seperti terhipnotis. Dia akan menurut apa yang dikatakannya. Lihat saja sekarang ini, Junghwan yang tadinya enggan melihat Mama, kini justru menatap kedua mata Mama.

"Iya," cicit Junghwan.

"Mama boleh masuk?"

"Sebenarnya Mama ada keperluan apa sampai datang kemari?"

"Biarin Mama masuk dulu, Kak," timpal Junghwan.

B O Y F I E
Bang Yedam

Aku meletakkan tiga gelas teh hangat beserta beberapa makanan ringan di atas meja makan, sembari melirik Junghwan yang telah duduk tegap seperti patung.

Aku menghela napas berat. Meski tubuhnya sudah lebih tinggi dan lebih matang dibanding aku, adik tetaplah seorang adik. Disaat seperti ini, aku merasa Junghwan kembali menjadi seorang anak kecil yang jika disakiti akan langsung menangis dan mengadu kepada orang yang lebih tua. 

"Mah," panggilku. "Silahkan diminum, selagi tehnya masih hangat," ucapanku membuat Mama menyudahi kegiatannya melihat-lihat keadaan rumah. 

"Kenapa Mama merasa rumah ini selalu berbeda setiap Mama kemari?"

Aku memilih untuk tidak menanggapi. Junghwan juga begitu, dia masih duduk tegap dengan wajah tanpa ekspresinya. Seperti sedang menghadiri acara formal, yang dihadiri oleh Presiden.

"Bagaimana kabar kalian?"

"Mah, langsung pada intinya saja," ujarku.

"Hei, kenapa? Mama kan juga ingin tahu keadaan kalian. Kamu gimana sekarang, Helen? Masih sama Yedam?" tanya Mama. "Kalau udah nggak sama Yedam lagi, Mama bisa kenalkan sama anak teman Mama."

Aku tegelak sejenak, kemudian menatap Mama. "Kaya ya, Ma?"

"Iya. Pokoknya dijamin kamu makmur sama dia, Le. Mau dikenalin?"

"Mau ... mau mati aja daripada setuju dijual sama Mama sendiri."

"Le, bukan begitu konsepnya. Mama seperti ini karena ingin memastikan kalau kamu hidup bahagia dan berkecukupan. Ini semua demi kamu," kata Mama. "Kamu tidak boleh mengulang apa yang dulu pernah terjadi pada Mama."

"Yang dulu pernah terjadi? Maksudnya saat Mama meninggalkan kami ketika Ayah kena PHK? Atau saat Mama meminta cerai karena Ayah tidak memiliki pekerjaan tetap? Oh, atau ... saat Mama akhirnya memutuskan untuk membunuh Ayah?"

PLAK! Aku tersenyum miring. Untukku, tamparan dari Mama sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakit mengetahui bahwa Mama sendiri yang menjadi penyebab meninggalnya Ayahku. 

"Nah, seperti ini bukannya lebih baik, Mah? Meski dulu Helen masih kecil, bukannya lebih baik Mama menamparku berkali-kali untuk melampiaskan amarah daripada harus membunuh Ayah? Bukannya lebih baik hanya menampar daripada membunuh seorang manusia?"

"SO HELEN!"

Sejujurnya, saat ini tubuhku sudah bergetar tidak karuan. Mendengar teriakan dari Mama membuat nyaliku lenyap tanpa bekas. Aku belum pernah melihat Mama semarah ini lagi sejak sepuluh tahun lalu. 

"Maaf ... Mama harus pulang sekarang." 

Aku menoleh, memandang punggung wanita paruh baya itu hingga sosoknya menghilang. Di satu sisi, aku merasa bersalah dan sedih karena sepertinya aku sudah kelewatan. Tapi di sisi lain, aku juga merasa lega karena telah mengeluarkan unek-unekku selama ini.

Aku mengacak rambutku, gusar. Ah, kenapa setiap Mama kemari aku selalu bertingkah kurang ajar?

"Kalau lo kayak gini setiap Mama datang, kapan gue bisa ngerasain punya Ibu lagi, Kak?" kata Junghwan. "Sejak gue kecil, lo selalu bilang kalau lo bakal bikin Mama balik ke rumah ini lagi pelan-pelan. Tapi kalau lo begini, gue rasa semua ucapan lo mustahil terjadi. Gue kecewa sama lo, Kak."

B O Y F I E
Bang Yedam

boyfie •bang yedamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang