Hwang Jian tidak pernah mengharapkan cinta yang sempurna sementara kisahnya dimulai dari benang kusut yang tak teruraikan.
Tetapi siapa yang menduga perasaannya kian membesar seiring berjalannya waktu?
Jian tidak bisa mengalah. Dia menginginkan Jeo...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bab 1
Konon kata sebagian orang yang pernah mengalaminya, jatuh cinta itu buta. Seberapa keras pun untuk menjadi realistis tetap tidak bisa menghalangi perasaan untuk selalu ada dan menuruti keinginan orang yang dicintai. Perasaan sejenis itu bisa membuat siapa pun yang mengalaminya kehilangan akal sehat; rela melakukan apa pun demi yang tercinta. Agaknya itulah yang dirasakan oleh Jian selama beberapa tahun ini.
Kendati dahinya berkerut samar saat membaca sederet pesan singkat dari salah satu sahabatnya, secepat kilat juga gadis itu mengambil buku di dalam loker-memasukannya ke dalam tas tergesa-gesa.
Jeon Galak:Jia, temui aku di ruang klub.
Kira-kira begitu isi pesan singkatnya. Padahal kelas sorenya akan dimulai lima menit lagi. Namun akalnya menolak untuk mengabaikan pesan itu. Akhirnya dia memutuskan untuk berlari menuju ruang klub mahasiswa pecinta alam. Tempat biasa anggota klub berkumpul di kampus.
Napasnya terengah begitu masuk. Presensi Jeon Jungkook langsung menyambut kehadirannya. Jian mendecih. Kalau dipikir kembali, kenapa dia sungguh bodoh sekali? Kenapa dia langsung berlari tergesa menemui si menyebalkan itu hanya dengan satu pesan singkat darinya? Menjengkelkan.
"Apa? Kenapa lagi?" Jian melangkah perlahan. Terakhir kali Jungkook memintanya untuk bertemu hanya untuk memarahi Jian yang pada saat itu lupa membersihkan ruangan selepas kumpul membahas agenda bersama anggota lain. Ingin tahu berapa lama si Jeon mengomelinya? Lima belas menit tanpa henti.
"Kemari." Jeon Jungkook yang duduk di salah satu kursi yang diputar menepuk kursi lain di depannya yang telah disiapkan oleh pemuda itu. Kendati otaknya dipenuhi ribuan tanda tanya, nyatanya Jian tetap menurut seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya. Gadis itu duduk, saling berhadapan dengan Jungkook yang tak menunjukkan ekspresi apa pun.
Aneh sekali. Lagipula, tumben sekali Jungkook masih berkeliaran di kampus ketika sore hari. Biasanya pemuda itu akan membolos kalau ada kelas sore. Lebih mementingkan agenda lain yang jauh lebih menyenangkan. Apalagi kalau bukan berkumpul dengan teman-teman geng motornya.
"Ajari aku Bahasa Inggris." Pria Jeon itu berujar pendek. Langsung pada intinya. Jian menautkan sebelah alisnya.
"Aku tidak salah dengar?"
"Besok ujian. Aku lemah di mata kuliah yang menggunakan pengantar Bahasa Inggris," jelasnya kali ini lebih panjang.
Jian mendecak, melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Tiga menit lagi. Dia tak mau terlambat masuk kelas Pak Seo sebab si dosen berkepala botak klimis itu suka seenaknya mengurangi nilai hanya karena terlambat satu detik.
"Bayarannya dua kotak pizza, kentang goreng, dan es americano. Jam delapan malam di rumahku. Kalau telat, aku tidak akan membuka pintu."
Setelah mengatakannya, Jian lekas beranjak dari tempatnya. Berlari kecil ke luar ruangan. Namun tingkah cerobohnya itu membuat Jian menabrak presensi lain yang baru akan masuk ke dalam ruangan. Jian mengusap keningnya yang terasa sakit namun tak berlangsung lama sebab gadis itu kembali melanjutkan langkahnya-lebih tepatnya berlari di penjuru lorong sambil sesekali merutuki kebodohannya yang nurut-nurut saja disuruh oleh Jungkook.