Chapter 10

10 3 0
                                    

Raven terlihat berlari terburu-buru sambil membawa buku catatannya. Dia juga masih menggunakan kacamata kerjanya. Setelahnya dia berhenti berlari karna mengetahui bahwa Lorenz yang berjarak beberapa meter di depannya sedang menatapnya tajam.

"Kenapa berlarian di lorong?" Tanya Lorenz.

Raven yang masih mengatur napasnya pun memberi tanda kepada Lorenz untuk menunggu sebentar.

Setelah selesai mengatur napas barulah Raven menjawab, "Ada yang harus aku laporkan kepada yang mulia."

"Memangnya harus melaporkan apa hingga membuatmu terburu-buru untuk menyampaikannya kepada yang mulia?" Tanya Lorenz penasaran.

Raven mendekat dan berbisik. "Ini kabar terbaru mengenai putri Leviea..."

Tepat setelah mendengarkan jawaban Raven, secara tiba-tiba Lorenz langsung mendorong Raven ke depan pintu kerja Hendery. Dan karnanya pula Raven hampir saja menabrak pintu besar di depannya.

"Apa yang kau lakukan, bodoh?!" Pekik Raven tertahan.

Lorenz mengendikkan bahunya acuh tak acuh. "Aku hanya membantumu agar kamu cepat sampai. Bukankah kamu bilang bahwa kamu sedang terburu-buru?" Jawab Lorenz santai membuat Raven bersiap untuk meninju Lorenz.

"Kau..." Geramnya, namun Raven kembali menahan dirinya.

Kemudian Raven menarik napasnya pelan. "Kamu tidak ikut masuk?" Tanya Raven setelah berhasil menenangkan diri.

Lorenz menatap Raven serius. "Tentu saja aku ikut. Tapi kamu dulu yang masuk, baru setelahnya aku." Jawab Lorenz tak tahu malu.

Raven yang kembali merasa kesal dengan semua sifat menyebalkan Lorenz pun hanya bisa menghela napas.

Tetap sabar dan kamu akan terlihat lebih keren, Raven. Batin Raven sambil mengulanginya terus.

"Kenapa masih berdiam diri disitu?" Tanya Lorenz menatap Raven menuntut.

Raven mendengus kesal sebelum akhirnya dia membuka pintu besar tersebut dan masuk ke dalam ruangan diikuti Lorenz yang berjalan di belakangnya.

Hendery yang menyadari keberadaan dua orang tersebut langsung menatap keduanya bingung. "Ada apa?" Tanya Hendery tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas yang sedang dibacanya.

"Ada yang harus saya laporkan kepada anda, yang mulia. Ini laporan mengenai putri Leviea."

Mendengar nama Leviea, Hendery langsung memfokuskan atensinya pada Raven.

"Kenapa dengan dia?" Tanya Hendery.

"Seseorang yang saya tugaskan untuk mengawasi putri Leviea baru saja memberikan laporan kepada saya. Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa putri Leviea telah diundang langsung oleh pendeta agung kuil suci." Jawab Raven.

Hendery mengernyit tidak mengerti. "Lalu apa masalahnya?"

"Dia juga mengatakan bahwa putri Leviea telah pindah dan tinggal di kuil suci. –Seperti yang mulia tahu, tidak sembarang orang diperbolehkan masuk ke dalam kuil suci. Dan lagi, pihak pemerintahan tidak diperbolehkan mencampuri urusan pihak keagamaan. Sekarang bawahan saya tidak bisa lagi mengawasi tuan putri Leviea. Apa yang akan anda lakukan, yang mulia?"

Hendery mengernyit kesal,

Kenapa tiba-tiba pendeta agung mencarinya? Apa karna dia Vinera? –Kalau dia tinggal di kuil suci, itu berarti aku tidak akan bisa bertemu dengannya lagi. Sebaiknya apa yang harus aku lakukan... Batin Hendery bingung.

Have A Chance [Slow Update]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang