Seorang pria berambut kuning keemasan terlihat memasuki ruangan yang megah lalu memberi hormat kepada seorang pria ber-aura kuat yang sedang duduk di singgahsana agungnya.
"Pangeran Hendery Eidj de Solvench datang menghadap yang mulia raja. –Semoga keagungan Vina selalu menyertai anda." Ucap seorang penjaga.
Pria yang duduk di singgahsana tersebut merupakan seorang raja dari kerajaan besar Solvench sekaligus ayah dari sang pangeran, raja Edgar Norv de Solvench. Sang raja juga memiliki warna rambut dan mata yang sama dengan pangeran Hendery.
Melihat keadaan putranya yang baik-baik saja, sang raja pun menyambut pangeran Hendery dengan senyum lebarnya.
"Berdirilah anakku." Ucapnya hangat.
Hendery mengangguk singkat dan berdiri.
"Bagaimana kabar anda, yang mulia?" Tanya Hendery.
Sang raja tersenyum. "Entahlah... Aku tidak tahu harus merasa senang atau tidak. Padahal sudah enam bulan lamanya kita tidak bertemu, namun kamu masih tidak juga berubah." Jawab sang raja masih dengan senyuman, berbeda dengan Hendery yang tetap membiarkan wajahnya tanpa ekspresi.
"Saya dan para prajurit telah berhasil meng-invansi kerajaan Vionesta." Lapor Hendery.
Sang raja mengangguk. "Baiklah. Kalau begitu, apa kamu ada permintaan khusus? –Anggap saja sebagai bentuk hadiah dariku." Tanya sang raja.
Tanpa pikir panjang Hendery langsung menjawab, "Saya meminta agar para prajurit yang ikut pergi dalam peng-invansian diistirahatkan selama beberapa hari." Pinta Hendery.
Sang raja menganggukkan kepalanya setuju. "Bagaimana dengan perayaan kemenangan? –Aku dengar kamu menolaknya." Tanya sang raja lagi.
"Benar, yang mulia. Menurut saya tidak perlu merayakannya, karna dari yang saya ketahui, sebagian keluarga bangsawan kerajaan Vionesta memilih untuk menetap sementara disini. Jadi, untuk menghargai mereka, saya rasa perayaan tidak perlu dilakukan." Jawab Hendery.
Sang raja terlihat tampak berpikir sebelum akhirnya mengangguk lagi. "Ya sudah. Kalau memang begitu keinginanmu maka lakukanlah. –Lalu bagaimana dengan masalah selanjutnya?"
Pertanyaan sang raja yang rancu membuat Hendery sedikit mengernyitkan dahinya bingung.
"...Kamu sudah memilih keluarga yang akan menjadi pendukung utamamu?"
Dari sekian banyak pertanyaan, pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang paling dibenci Hendery. Karna hal tersebut pula lah Hendery langsung mengepalkan tangannya, berusaha menahan diri agar tidak menghela napas kasar maupun berdecak di hadapan sang raja.
"Apa harus? –Sama seperti ucapan saya terdahulu, saya hanya akan menikahi wanita yang saya cintai dan mencintai saya." Ucap Hendery penuh penekanan.
"Kamu tidak bisa menundanya lebih lama lagi. Perasaan itu muncul karna terbiasa, anakku. –Jika kamu tidak memilih putri dari keluarga bangsawaan yang kuat, kamu tidak akan bisa menang melawan Millear." Jelas sang raja.
Hendery menghembuskan napasnya lelah di dalam hati. "Seperti yang sudah saya katakan, saya tidak ingin menggunakan cara kotor para bangsawan. Saya akan berusaha dengan cara saya sendiri. Karna itu, tolong jangan memaksa maupun menekan saya. Itu semua tidak akan menggoyahkan saya sedikitpun, yang mulia." Balas Hendery.
Sang raja menghembuskan napasnya pelan dan menatap lekat Hendery yang menatapnya dengan tatapan marah dan kecewa.
"Hendery, aku tahu berkat penginvansian ini kekuatan dukunganmu sekarang lebih kuat daripada Millear, namun itu semua tidak akan bertahan lama jika kamu tidak segera memutuskan keluarga mana yang akan menjadi pendampingmu." Ucap sanga raja.

KAMU SEDANG MEMBACA
Have A Chance [Slow Update]
FantasíaCan I ~ Series Title: Have A Chance Genre: Fantasy, Reincarnation, Sad-romance Description: Seleviea Ibel le Vionesta, putri dari kerajaan suci yang hampir runtuh. Dia merupakan salah satu manusia istimewa yang hanya terlahir setelah seribu tahun. S...